Harga Harta Karun Mineral Langka di Bumi Meroket ke Level Tertinggi 2 Tahun

Selasa, 26 Agustus 2025 - 23:03 WIB
loading...
Harga Harta Karun Mineral...
Harga dua elemen logam tanah jarang (rare earth) yang dibutuhkan dalam pembuatan magnet super kuat telah meroket ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Harga dua elemen logam tanah jarang ( rare earth ) yang dibutuhkan dalam pembuatan magnet super kuat telah meroket ke level tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Hal itu dipengaruhi setelah penambang Amerika Serikat atau AS, MP Materials (MP) menghentikan ekspor bahan mentah ke produsen magnet di China di tengah meningkatnya permintaan.

Seperti diketahui China mendominasi rantai pasokan global untuk logam tanah jarang, dengan menyumbang 90% kapasitas pemurnian dan sekitar 70% dari output yang ditambang. Akan tetapi AS melakukan perlawanan usai menandatangani kesepakatan dengan produsen terbesarnya MP pada bulan Juli untuk memurnikan outputnya secara domestik.

Pengiriman MP selama tiga tahun terakhir telah menyuplai 7%-9% dari produksi oksida China dari output tambang tanah jarang neodymium dan praseodymium (NdPr) - yang sangat penting untuk magnet yang menggerakkan kendaraan listrik, turbin angin, dan peralatan pertahanan, seperti diungkap konsultan Adamas.

Baca Juga: 5 Negara Penguasa Harta Karun Logam Tanah Jarang di Dunia

"Pengiriman MP merupakan bagian dari pasokan NdPr oksida untuk pabrik-pabrik di China, sehingga telah meninggalkan kekosongan yang besar," kata Direktur pelaksana Adamas, Ryan Castilloux.

Harga NdPr oksida di China, yang dianggap sebagai acuan, telah melonjak menjadi 632.000 yuan per ton metrik atau USD88 per kg, yang tertinggi sejak Maret 2023, dari USD63 pada 9 Juli. Terjadi reli 40% setelah beberapa tahun melemah akan meningkatkan prospek proyek tambang yang mencari investasi di luar China saat Barat berusaha mengurangi ketergantungan pada Beijing.

Meningkatkan output unsur tanah jarang Barat menjadi semakin mendesak setelah China membatasi ekspor pada bulan April di tengah perang dagang dengan AS, yang memaksa beberapa pabrik mobil untuk tutup sementara atau memangkas produksi. Pemerintah AS mengumumkan kesepakatan bersejarah dengan MP bulan lalu yang mengharuskan perusahaan menghentikan pengiriman ke China.

Mereka juga menawarkan dukungan harga kepada MP untuk NdPr yang diproduksinya USD110 per kg, saat itu sekitar dua kali lipat dari harga China. "MP telah menghentikan pengiriman ke China pada bulan April karena tarif yang tinggi, tetapi kekurangan apa pun tertutupi oleh lemahnya permintaan magnet akibat pembatasan ekspor China," kata para analis.

"Pasokan bijih tanah jarang AS ke China merosot pada bulan Mei dan mencapai nol pada bulan Juni sebelum meloncat bulan lalu, kemungkinan akibat pengiriman MP terakhir," tambahnya.

Ekspor magnet tanah jarang China mulai pulih dan mencapai level tertinggi dalam enam bulan pada bulan Juli setelah Beijing melonggarkan kontrol ekspornya, setelah menyepakati serangkaian perjanjian dengan AS dan Eropa.

Puncak Musim Manufaktur

Harga NdPr telah terbebani oleh kelebihan pasokan dalam beberapa tahun terakhir dan pada bulan Maret tahun lalu, mereka terjun ke 345.000 yuan, terlemah sejak November 2020. Kenaikan terbaru mereka juga didorong oleh pemulihan permintaan.

Baca Juga: Logam Tanah Jarang Jadi Primadona, Pengembangan REE di Tanjung Ular Digenjot

"China saat ini berada dalam musim manufaktur puncak untuk kendaraan listrik, turbin angin, dan elektronik konsumen. Kenaikan permintaan yang bersifat siklis ini telah memberikan tekanan tambahan pada pasokan NdPr yang tersedia," kata Neha Mukherjee, manajer penelitian untuk unsur logam tanah langka di perusahaan konsultan Benchmark Mineral Intelligence.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Daftar Negara dengan...
Daftar Negara dengan Cadangan Mineral Tanah Jarang Terbesar Dunia, Ada Tetangga Indonesia
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Dalih Iran Soal Penutupan...
Dalih Iran Soal Penutupan Ketat di Selat Hormuz, Stabilitas Harga Energi Masih Jauh
Rupiah Masih Rapuh,...
Rupiah Masih Rapuh, Hari Ini Sentuh Level Rp17.104 per USD
Tahan Harga BBM Subsidi,...
Tahan Harga BBM Subsidi, Purbaya: Instruksi Langsung Presiden!
Maksimalkan Potensi...
Maksimalkan Potensi Sumber Daya Mineral, Pemerintah Didorong Segera Buka Lelang WIUP Muratara
Bea Cukai Pangkal Pinang...
Bea Cukai Pangkal Pinang Sebut 15 Kontainer PMM Telah Memenuhi Syarat
China Blakblakan Targetkan...
China Blakblakan Targetkan Sekutu Utama AS di Asia, Begini Caranya
Rekomendasi
Gempa M 5,0 Guncang...
Gempa M 5,0 Guncang NTT, Tidak Berpotensi Tsunami
Wamenkes Dante: Kanker...
Wamenkes Dante: Kanker Tiroid pada Laki-laki Berisiko Lebih Ganas dibanding Wanita
Said Didu ke Presiden...
Said Didu ke Presiden Prabowo: Kawan Bapak Tuh Ada di Luar, Bukan di Dalam
Berita Terkini
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp4.000 per Gram, Simak Rinciannya
Harga Emas Bangkit usai...
Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
Selat Hormuz Dibuka,...
Selat Hormuz Dibuka, tapi Pemulihan Pasokan Minyak Global Butuh Berbulan-bulan
Momentum Indonesia Perkuat...
Momentum Indonesia Perkuat Fondasi Ketahanan Energi di 2026, Ini Kuncinya
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
PLN EPI Dorong UMKM...
PLN EPI Dorong UMKM Naik Kelas lewat Budidaya Madu Kelulut
Infografis
7 Motor Tua dengan Harga...
7 Motor Tua dengan Harga Selangit di Sepanjang Tahun 2023
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved