Era Baru Dedolarisasi, China Siapkan Electrodolar Geser Kejayaan Petrodolar
Rabu, 27 Agustus 2025 - 07:34 WIB
loading...
China bergerak cepat merevolusi sistem keuangan global dengan rencana penerapan mata uang perdagangan baru berbasis listrik. FOTO/moderndiplomacy.eu
A
A
A
JAKARTA - China bergerak cepat merevolusi sistem keuangan global dengan rencana penerapan mata uang perdagangan baru berbasis listrik. Strategi ini dipandang sebagai langkah ambisius Beijing untuk menantang dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan internasional, sekaligus memperkuat posisi yuan di pasar global.
Langkah ini mengingatkan pada strategi petrodolar yang dijalankan AS pada 1970-an, ketika Washington mengaitkan dolar dengan ekspor minyak Arab Saudi. Bedanya, kali ini China memanfaatkan dominasinya dalam pembangkitan listrik terutama dari energi terbarukan, untuk mendukung agenda dedolarisasi yang tengah digalakkan kelompok BRICS.
Baca Juga: BRICS Dilanda Isu Skandal Korupsi Elite, Para Pemimpinnya Sembunyikan Miliaran Dolar di Bank Swiss
Dalam skema baru itu, Watcher Guru melaporkan, ekspor listrik internasional akan dipatok menggunakan yuan. Konsep ini berpotensi mengubah arsitektur perdagangan global dan mengurangi ketergantungan banyak negara pada transaksi berbasis USD, khususnya di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, stagnasi produksi listrik di AS sejak 2005 membuat Negeri Paman Sam tertinggal dalam memanfaatkan lonjakan kebutuhan energi global. Proyek infrastruktur besar, seperti Stargate senilai USD 500 miliar pada masa pemerintahan Donald Trump, sempat terhambat akibat keterbatasan kapasitas jaringan listrik domestik.
China memimpin jauh dalam pengembangan energi terbarukan. Negeri Tirai Bambu itu mengoperasikan reaktor thorium pertama di dunia dan tengah membangun Bendungan Yarlong Tampu Mega di Tibet, yang digadang menjadi pembangkit listrik terbesar sepanjang sejarah. Bendungan ini diperkirakan menghasilkan 300 miliar kilowatt jam listrik per tahun, cukup untuk memenuhi kebutuhan energi seluruh Inggris.
Langkah internasionalisasi yuan lewat proyek energi juga mulai terlihat di berbagai negara. Laos, misalnya, meneken proyek energi bersih senilai USD 1,45 miliar dengan perusahaan China. Transaksi pembayaran proyek tersebut dilakukan langsung dalam yuan, menghapus keharusan konversi ganda melalui USD yang selama ini menguntungkan dolar.
Ghana menjadi contoh lain. Proyek pembangkit listrik tenaga air di Sungai Konguri yang selesai pada 2023 kini memasok sepertiga kebutuhan listrik negara itu. China bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menyediakan pelatihan dan dukungan teknis, mengukuhkan pola kerja sama jangka panjang yang memperkuat penggunaan yuan di berbagai pasar energi global.
Kontrak ekspor listrik jangka panjang dalam denominasi yuan akan menginternasionalisasi mata uang China sekaligus menekan dominasi USD. Dengan jaringan listrik yang luas dan harga yang stabil, sistem ini menciptakan pasar perdagangan energi baru yang lebih terprediksi.
Strategi ini juga memperkuat pengaruh geopolitik China, sejalan dengan ambisi BRICS membangun tatanan keuangan global yang lebih seimbang. Infrastruktur energi berskala besar memberi Beijing keunggulan strategis yang sulit disaingi, terutama di negara-negara berkembang yang membutuhkan pasokan listrik stabil.
Baca Juga: NATO Kirim Bantuan Militer Senilai Rp811 Triliun untuk Ukraina
Seiring transisi dunia ke energi bersih, peluang China untuk menancapkan pengaruhnya lewat "electrodolar" semakin besar. Kondisi ini diperkirakan akan membentuk ulang perdagangan global selama dekade-dekade mendatang, sekaligus menggeser posisi USD dari kursi dominannya.
Banyak pihak melihat ini sebagai era baru dalam arsitektur keuangan internasional. Jika skema ini berhasil, dominasi dolar yang bertahan selama lebih dari setengah abad bisa goyah, dan yuan akan semakin kokoh sebagai mata uang utama dalam perdagangan global berbasis energi.
Langkah ini mengingatkan pada strategi petrodolar yang dijalankan AS pada 1970-an, ketika Washington mengaitkan dolar dengan ekspor minyak Arab Saudi. Bedanya, kali ini China memanfaatkan dominasinya dalam pembangkitan listrik terutama dari energi terbarukan, untuk mendukung agenda dedolarisasi yang tengah digalakkan kelompok BRICS.
Baca Juga: BRICS Dilanda Isu Skandal Korupsi Elite, Para Pemimpinnya Sembunyikan Miliaran Dolar di Bank Swiss
Dalam skema baru itu, Watcher Guru melaporkan, ekspor listrik internasional akan dipatok menggunakan yuan. Konsep ini berpotensi mengubah arsitektur perdagangan global dan mengurangi ketergantungan banyak negara pada transaksi berbasis USD, khususnya di pasar negara berkembang.
Di sisi lain, stagnasi produksi listrik di AS sejak 2005 membuat Negeri Paman Sam tertinggal dalam memanfaatkan lonjakan kebutuhan energi global. Proyek infrastruktur besar, seperti Stargate senilai USD 500 miliar pada masa pemerintahan Donald Trump, sempat terhambat akibat keterbatasan kapasitas jaringan listrik domestik.
China memimpin jauh dalam pengembangan energi terbarukan. Negeri Tirai Bambu itu mengoperasikan reaktor thorium pertama di dunia dan tengah membangun Bendungan Yarlong Tampu Mega di Tibet, yang digadang menjadi pembangkit listrik terbesar sepanjang sejarah. Bendungan ini diperkirakan menghasilkan 300 miliar kilowatt jam listrik per tahun, cukup untuk memenuhi kebutuhan energi seluruh Inggris.
Langkah internasionalisasi yuan lewat proyek energi juga mulai terlihat di berbagai negara. Laos, misalnya, meneken proyek energi bersih senilai USD 1,45 miliar dengan perusahaan China. Transaksi pembayaran proyek tersebut dilakukan langsung dalam yuan, menghapus keharusan konversi ganda melalui USD yang selama ini menguntungkan dolar.
Ghana menjadi contoh lain. Proyek pembangkit listrik tenaga air di Sungai Konguri yang selesai pada 2023 kini memasok sepertiga kebutuhan listrik negara itu. China bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menyediakan pelatihan dan dukungan teknis, mengukuhkan pola kerja sama jangka panjang yang memperkuat penggunaan yuan di berbagai pasar energi global.
Kontrak ekspor listrik jangka panjang dalam denominasi yuan akan menginternasionalisasi mata uang China sekaligus menekan dominasi USD. Dengan jaringan listrik yang luas dan harga yang stabil, sistem ini menciptakan pasar perdagangan energi baru yang lebih terprediksi.
Strategi ini juga memperkuat pengaruh geopolitik China, sejalan dengan ambisi BRICS membangun tatanan keuangan global yang lebih seimbang. Infrastruktur energi berskala besar memberi Beijing keunggulan strategis yang sulit disaingi, terutama di negara-negara berkembang yang membutuhkan pasokan listrik stabil.
Baca Juga: NATO Kirim Bantuan Militer Senilai Rp811 Triliun untuk Ukraina
Seiring transisi dunia ke energi bersih, peluang China untuk menancapkan pengaruhnya lewat "electrodolar" semakin besar. Kondisi ini diperkirakan akan membentuk ulang perdagangan global selama dekade-dekade mendatang, sekaligus menggeser posisi USD dari kursi dominannya.
Banyak pihak melihat ini sebagai era baru dalam arsitektur keuangan internasional. Jika skema ini berhasil, dominasi dolar yang bertahan selama lebih dari setengah abad bisa goyah, dan yuan akan semakin kokoh sebagai mata uang utama dalam perdagangan global berbasis energi.
(nng)
Lihat Juga :