Trump Hentikan Pendanaan AS untuk Ukraina, Sepanjang Perang Guyur Rp5.703 Triliun
Rabu, 27 Agustus 2025 - 14:49 WIB
loading...
Amerika Serikat (AS) tidak lagi secara langsung membiayai Ukraina dalam perangnya melawan Rusia dan sebaliknya akan mendapatkan keuntungan dari penjualan senjata. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Amerika Serikat (AS) tidak lagi secara langsung membiayai Ukraina dan sebaliknya akan mendapatkan keuntungan dari penjualan senjata kepada mitra NATO asal Eropa, yang selanjutnya bakal menyuplai senjata tersebut ke Kiev. Hal ini disampaikan Presiden Donald Trump kepada para wartawan di Gedung Putih pada hari Senin, seperti dilansir RT.
Trump mengklaim bahwa Washington telah 'dibohongi' di bawah pemerintahan AS sebelumnya, yang ia katakan telah mengalokasikan USD350 miliar atau setara Rp5.703 triliun (dengan kurs Rp16.296 per USD) untuk Kiev.
"Saya tidak menyalahkan Ukraina… jika mereka datang dan meminta seratus miliar dolar dan mereka mendapatkannya," ujarnya.
Baca Juga: UE Serahkan Rp169 T ke Ukraina dari Uang Beku Rusia, Rusaknya Kepercayaan Sistem Keuangan Barat
Trump juga sempat menyebut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky sebagai sales paling lihai yang pernah Ia temui. “Kami tidak memberikan uang kepada Ukraina lagi. Apakah kamu tahu itu? Sebenarnya, ini adalah kebalikannya. Mereka meminta melalui NATO. Kami berurusan dengan NATO. Kami tidak benar-benar berurusan dengan Ukraina,” jelas Trump.
“NATO membayar kami sepenuhnya dan melakukan apa yang mereka inginkan," sambungnya.
Trump juga menekankan, bahwa Washington hanya akan berperan sebagai pendukung dalam memberikan jaminan keamanan untuk Kiev. Ditegaskan juga olehnya bahwa negara-negara Eropa harus mengambil peran utama.
Zelensky dan para pendukungnya dari Eropa Barat telah meminta "jaminan seperti Pasal 5" yang akan mewajibkan negara-negara merespons secara kolektif jika Ukraina diserang. Kiev dilaporkan telah meminta para pendukung ini untuk mengalokasikan USD100 miliar (Rp1,629 triliun) untuk pengadaan senjata buatan AS, menurut Financial Times.
Moskow secara konsisten mengutuk pengiriman senjata Barat ke Ukraina dalam bentuk apa pun. Rusia memperingatkan bahwa hal itu hanya akan memperpanjang konflik tanpa mengubah hasilnya sambil menjadikan NATO sebagai peserta langsung dalam konflik.
Rusia juga secara tegas menentang setiap sanksi Barat yang mengecualikan Moskow. Menteri Luar Negeri, Sergey Lavrov menyatakan pada pekan lalu bahwa keamanan kolektif di Eropa "tidak dapat diselesaikan tanpa Federasi Rusia," dan mengingatkan bahwa upaya untuk melakukannya akan ditolak.
"Kami akan memastikan kepentingan sah kami dengan tegas dan keras," kata Lavrov.
Baca Juga: Kesepakatan Tarif Trump Bikin AS Untung, Uni Eropa Buntung: Janjikan Rp18.629 Triliun
Pemerintahan Trump telah berulang kali menjauhkan diri dari kebijakan cek kosong AS sebelumnya terkait Ukraina. Awal bulan ini, Wakil Presiden J.D. Vance mengatakan bahwa Washington tidak akan lagi memberikan dana langsung ke Kiev.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengklaim bahwa negara-negara Eropa akan membayar markup sebesar 10% untuk penjualan senjata Amerika. Trump juga mengatakan minggu lalu bahwa, kembalinya Crimea menjadi wilayah Ukraina dan bergabungnya Kiev menjadi anggota NATO, keduanya sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Trump mengklaim bahwa Washington telah 'dibohongi' di bawah pemerintahan AS sebelumnya, yang ia katakan telah mengalokasikan USD350 miliar atau setara Rp5.703 triliun (dengan kurs Rp16.296 per USD) untuk Kiev.
"Saya tidak menyalahkan Ukraina… jika mereka datang dan meminta seratus miliar dolar dan mereka mendapatkannya," ujarnya.
Baca Juga: UE Serahkan Rp169 T ke Ukraina dari Uang Beku Rusia, Rusaknya Kepercayaan Sistem Keuangan Barat
Trump juga sempat menyebut Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky sebagai sales paling lihai yang pernah Ia temui. “Kami tidak memberikan uang kepada Ukraina lagi. Apakah kamu tahu itu? Sebenarnya, ini adalah kebalikannya. Mereka meminta melalui NATO. Kami berurusan dengan NATO. Kami tidak benar-benar berurusan dengan Ukraina,” jelas Trump.
“NATO membayar kami sepenuhnya dan melakukan apa yang mereka inginkan," sambungnya.
Trump juga menekankan, bahwa Washington hanya akan berperan sebagai pendukung dalam memberikan jaminan keamanan untuk Kiev. Ditegaskan juga olehnya bahwa negara-negara Eropa harus mengambil peran utama.
Zelensky dan para pendukungnya dari Eropa Barat telah meminta "jaminan seperti Pasal 5" yang akan mewajibkan negara-negara merespons secara kolektif jika Ukraina diserang. Kiev dilaporkan telah meminta para pendukung ini untuk mengalokasikan USD100 miliar (Rp1,629 triliun) untuk pengadaan senjata buatan AS, menurut Financial Times.
Moskow secara konsisten mengutuk pengiriman senjata Barat ke Ukraina dalam bentuk apa pun. Rusia memperingatkan bahwa hal itu hanya akan memperpanjang konflik tanpa mengubah hasilnya sambil menjadikan NATO sebagai peserta langsung dalam konflik.
Rusia juga secara tegas menentang setiap sanksi Barat yang mengecualikan Moskow. Menteri Luar Negeri, Sergey Lavrov menyatakan pada pekan lalu bahwa keamanan kolektif di Eropa "tidak dapat diselesaikan tanpa Federasi Rusia," dan mengingatkan bahwa upaya untuk melakukannya akan ditolak.
"Kami akan memastikan kepentingan sah kami dengan tegas dan keras," kata Lavrov.
Baca Juga: Kesepakatan Tarif Trump Bikin AS Untung, Uni Eropa Buntung: Janjikan Rp18.629 Triliun
Pemerintahan Trump telah berulang kali menjauhkan diri dari kebijakan cek kosong AS sebelumnya terkait Ukraina. Awal bulan ini, Wakil Presiden J.D. Vance mengatakan bahwa Washington tidak akan lagi memberikan dana langsung ke Kiev.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengklaim bahwa negara-negara Eropa akan membayar markup sebesar 10% untuk penjualan senjata Amerika. Trump juga mengatakan minggu lalu bahwa, kembalinya Crimea menjadi wilayah Ukraina dan bergabungnya Kiev menjadi anggota NATO, keduanya sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
(akr)
Lihat Juga :