Sengketa Dagang AS vs India, Siapa yang Paling Dirugikan?
Minggu, 31 Agustus 2025 - 09:00 WIB
loading...
A
A
A
"Itu gencatan senjata adalah sesuatu yang diklaim Trump berkat dirinya dan para pejabatnya, sementara Modi di dalam negeri ingin memproyeksikan bahwa gencatan senjata itu terjadi karena ia telah memukul Pakistan hingga bertekuk lutut dan memohon gencatan senjata," kata Singh dikutip dari DW, Minggu (30/8).
Ia menilai Modi tidak bisa mengalah pada Trump dalam hal ini, sebab argumen politik domestiknya akan runtuh.
Baca Juga: Turki Setop Perdagangan, Tutup Pelabuhan, dan Wilayah Udara untuk Israel
Sushant Singh menunjukkan kondisi ini dapat menghambat kebijakan Modi yang sedang memprioritaskan manufaktur dan program 'Make in India' pada titik krusial. Sementara itu, AS juga menghadapi kerugian, meskipun tidak sebesar India. Ekspor AS ke India pada 2024 hanya sekitar USD42 miliar, kurang dari separuh nilai ekspor India ke AS.
"Jika melihat neraca, kerugian utamanya adalah India," ujar Singh. "Di bawah Trump, AS jelas mendekati China, India, dan Indo-Pasifik secara berbeda, sehingga India tidak memiliki daya tawar."
Rick Rossow menambahkan bahwa AS juga akan menanggung kerugian, terutama dari penurunan besar-besaran jumlah mahasiswa India yang datang ke universitas-universitas Amerika. Gary Hufbauer, pakar perdagangan internasional, menyebutkan bahwa rencana AS untuk memindahkan sebagian produksi dari China ke India kini terancam.
"Kemungkinan India menjadi alternatif lokasi manufaktur untuk banyak produk buatan Tiongkok kini terlihat tidak mungkin," katanya.
Ia menilai Modi tidak bisa mengalah pada Trump dalam hal ini, sebab argumen politik domestiknya akan runtuh.
Dampak Sengketa bagi India dan AS
Secara ekonomi, India jelas menjadi pihak yang paling dirugikan. AS adalah mitra dagang terbesar India, dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD87 miliar pada tahun 2024. Global Trade Research Initiative, sebuah lembaga riset di New Delhi, memprediksi angka ini bisa anjlok lebih dari 40% menjadi sekitar USD50 miliar pada tahun 2026.Baca Juga: Turki Setop Perdagangan, Tutup Pelabuhan, dan Wilayah Udara untuk Israel
Sushant Singh menunjukkan kondisi ini dapat menghambat kebijakan Modi yang sedang memprioritaskan manufaktur dan program 'Make in India' pada titik krusial. Sementara itu, AS juga menghadapi kerugian, meskipun tidak sebesar India. Ekspor AS ke India pada 2024 hanya sekitar USD42 miliar, kurang dari separuh nilai ekspor India ke AS.
"Jika melihat neraca, kerugian utamanya adalah India," ujar Singh. "Di bawah Trump, AS jelas mendekati China, India, dan Indo-Pasifik secara berbeda, sehingga India tidak memiliki daya tawar."
Rick Rossow menambahkan bahwa AS juga akan menanggung kerugian, terutama dari penurunan besar-besaran jumlah mahasiswa India yang datang ke universitas-universitas Amerika. Gary Hufbauer, pakar perdagangan internasional, menyebutkan bahwa rencana AS untuk memindahkan sebagian produksi dari China ke India kini terancam.
"Kemungkinan India menjadi alternatif lokasi manufaktur untuk banyak produk buatan Tiongkok kini terlihat tidak mungkin," katanya.
Lihat Juga :