Sengketa Dagang AS vs India, Siapa yang Paling Dirugikan?

Minggu, 31 Agustus 2025 - 09:00 WIB
loading...
Sengketa Dagang AS vs...
Ketegangan dagang memuncak berujung pada pengenaan tarif 50% terhadap sebagian besar produk India yang masuk ke pasar AS. FOTO/The Secretariat
A A A
JAKARTA - Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan India yang selama ini digadang-gadang sebagai salah satu hubungan paling penting di abad ke-21 kini menghadapi tantangan serius. Ketegangan dagang memuncak berujung pada pengenaan tarif 50% terhadap sebagian besar produk India yang masuk ke pasar AS.

Hubungan kedua negara, yang sebelumnya diwarnai dengan kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke AS, kini berubah drastis. Setelah pertemuan hangat antara Modi dan Presiden AS Joe Biden pada Juni 2023, serta kunjungan berikutnya dengan Presiden Donald Trump, kondisi berubah dalam waktu singkat.

Pada 27 Agustus, sebagian besar barang India yang masuk ke AS dikenai tarif 50%, salah satu tarif tertinggi di dunia. Ketegangan ini memburuk setelah kedua negara gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan dagang, menyusul pengumuman tarif besar-besaran oleh Trump pada April lalu.

Baca Juga: Tarif 50% Trump ke India Resmi Berlaku, Hukuman atas Pembelian Minyak Rusia

Situasi semakin memanas setelah Trump mengumumkan tambahan tarif 25% kepada India terkait pembelian minyak dari Rusia. Memburuknya hubungan dengan salah satu mitra strategis utama AS di kawasan Indo-Pasifik ini menimbulkan kekhawatiran di Washington, yang melihat hubungan dengan India sebagai kunci stabilitas dan keamanan regional.

Di sisi lain, India menghadapi kekhawatiran besar mengenai dampak tarif ini terhadap pertumbuhan ekonomi mereka. Rick Rossow, Ahli Ekonomi India dan Asia di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Washington, D.C., berpendapat bahwa meski tuduhan Trump soal "proteksionisme" India ada benarnya, alat dan retorika yang digunakan terlalu "keras" dan berpotensi merusak citra politik Modi di dalam negeri.

Namun, perundingan yang gagal tersebut tak hanya dipicu masalah minyak Rusia. Sushant Singh, dosen studi Asia Selatan di Yale University, meyakini kegagalan tersebut juga terkait dengan konflik India-Pakistan yang terjadi pada Mei lalu, di mana Trump mengklaim dirinya berperan dalam perundingan gencatan senjata.

"Itu gencatan senjata adalah sesuatu yang diklaim Trump berkat dirinya dan para pejabatnya, sementara Modi di dalam negeri ingin memproyeksikan bahwa gencatan senjata itu terjadi karena ia telah memukul Pakistan hingga bertekuk lutut dan memohon gencatan senjata," kata Singh dikutip dari DW, Minggu (30/8).

Ia menilai Modi tidak bisa mengalah pada Trump dalam hal ini, sebab argumen politik domestiknya akan runtuh.

Dampak Sengketa bagi India dan AS

Secara ekonomi, India jelas menjadi pihak yang paling dirugikan. AS adalah mitra dagang terbesar India, dengan nilai ekspor mencapai sekitar USD87 miliar pada tahun 2024. Global Trade Research Initiative, sebuah lembaga riset di New Delhi, memprediksi angka ini bisa anjlok lebih dari 40% menjadi sekitar USD50 miliar pada tahun 2026.

Baca Juga: Turki Setop Perdagangan, Tutup Pelabuhan, dan Wilayah Udara untuk Israel

Sushant Singh menunjukkan kondisi ini dapat menghambat kebijakan Modi yang sedang memprioritaskan manufaktur dan program 'Make in India' pada titik krusial. Sementara itu, AS juga menghadapi kerugian, meskipun tidak sebesar India. Ekspor AS ke India pada 2024 hanya sekitar USD42 miliar, kurang dari separuh nilai ekspor India ke AS.

"Jika melihat neraca, kerugian utamanya adalah India," ujar Singh. "Di bawah Trump, AS jelas mendekati China, India, dan Indo-Pasifik secara berbeda, sehingga India tidak memiliki daya tawar."

Rick Rossow menambahkan bahwa AS juga akan menanggung kerugian, terutama dari penurunan besar-besaran jumlah mahasiswa India yang datang ke universitas-universitas Amerika. Gary Hufbauer, pakar perdagangan internasional, menyebutkan bahwa rencana AS untuk memindahkan sebagian produksi dari China ke India kini terancam.

"Kemungkinan India menjadi alternatif lokasi manufaktur untuk banyak produk buatan Tiongkok kini terlihat tidak mungkin," katanya.

Meskipun demikian, risiko terbesar bagi AS bukan pada sektor ekonomi, melainkan pada aspek geopolitik. "Bisa terjadi situasi di mana China muncul sebagai kekuatan besar di Asia, sementara India bersedia menerima peran yang sedikit lebih rendah, dan keduanya bisa bersekutu secara geopolitik itu akan sangat merugikan bagi Amerika Serikat," kata Singh.

Meskipun hubungan memanas, peluang untuk mencapai kesepakatan dagang masih terbuka lebar. Sushant Singh meyakini India sangat ingin mencapai kesepakatan tersebut. "Mereka ingin mencapai kesepakatan," ujarnya. "Mereka ingin memberi Trump sebuah kemenangan. Itu bisa terjadi kapan saja."

Rick Rossow juga berpendapat mencairnya ketegangan adalah kepentingan kedua belah pihak. "India berada di ambang menjadi ekonomi terbesar ketiga di dunia," katanya.

"Dengan kekhawatiran kita bersama akan kebangkitan China, baik secara militer maupun ekonomi, kemitraan yang kuat akan menjadi krusial untuk keamanan regional dan pertumbuhan bersama."

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
10 Negara Produsen Pertanian...
10 Negara Produsen Pertanian Terbesar di Dunia, Indonesia Urutan Berapa?
Bos Raksasa Minyak Rusia:...
Bos Raksasa Minyak Rusia: AS Untung Besar di Balik Penutupan Selat Hormuz
Barat Remehkan Blokade...
Barat Remehkan Blokade Selat Hormuz, Pasokan Minyak Dunia di Titik Kritis
Buntut Dugaan Kerja...
Buntut Dugaan Kerja Paksa, Indonesia Terancam Digetok Tarif Baru dari AS
Gegara Ledakan AI, Industri...
Gegara Ledakan AI, Industri Cip Rp27.000 Triliun Jadi Medan Perang AS-China
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
Hamas Ungkap Pertemuan...
Hamas Ungkap Pertemuan di Kairo Bahas Penerapan Gencatan Senjata Gaza
Rekomendasi
Langkah Berani Kejagung...
Langkah Berani Kejagung Sentuh Korupsi MBG Jadi Sinyal Kuat Penegakan Hukum Tanpa Impunitas
Wujudkan Desa Mandiri,...
Wujudkan Desa Mandiri, BRI Peduli Dorong Wisata dan Edukasi Berbasis Masyarakat di Ketapanrame
Industri Otomotif Jerman...
Industri Otomotif Jerman Tambah Sekarat Akibat Perang Timur Tengah
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
Infografis
10 Bendera Negara Paling...
10 Bendera Negara Paling Unik di Dunia, Ada yang Bergambar Naga
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved