Perkebunan Sawit Diklaim Jadi Juru Selamat Perekonomian Nasional
Senin, 01 September 2025 - 22:15 WIB
loading...
Menurut Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy, perkebunan kelapa sawit beberapa kali pernah menyelamatkan perekonomian Indonesia. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia ( Gapki ), Eddy Martono mengungkap, bahwa kontribusi besar perkebunan sawit untuk Indonesia. Namun menurutnya masih banyak belum disadari oleh masyarakat yang terpapar kampanye negatif sawit.
Menurut Eddy, perkebunan kelapa sawit beberapa kali pernah menyelamatkan perekonomian Indonesia. Pertama saat kenaikan pajak yang terjadi pada tahun 1998. Kemudian pada tahun 2008 saat terjadi krisis di negara Amerika, lalu pada tahun 2019 saat virus Covid-19 mewabah di Indonesia.
"Saat itu ekonomi ambruk, namun sektor perkebunan kelapa sawit justru menjadi penyelamat. Malah saat Covid-19, sektor perkebunan sawit torehkan devisa tertinggi, ini sangat luar biasa," jelas Eddy saat gelaran Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 di Pekanbaru, Riau, dikutip Senin (1/9/2025).
![Perkebunan Sawit Diklaim Jadi Juru Selamat Perekonomian Nasional]()
Eddy pun mengaku prihatin lantaran ada 37 kementerian dan lembaga (K/L) yang mengelola perkebunan kelapa sawit justru kalah dengan Malaysia. Negeri Jiran -julukan Malaysia- itu hanya memiliki satu lembaga, namun produksi kebun kelapa sawitnya lebih besar.
Dia juga mengatakan, petani perkebunan inti rakyat (PIR) memiliki peran yang cukup penting, termasuk juga Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR (Aspekpir) yang menaungi para petani plasma tersebut.
Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 sendiri didukung oleh IAS Global, PT Bio Sarana Indonesia (BSI), Bio Industri Nusantara (Bionusa) dan PT Restoe Bumi Lestari serta Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Riau dan PTPN IV Regional III Riau.
Ketua Dewan Pengawas Aspekpir, Rusman Heriawan mengatakan, gelaran ini tidak hanya membahas aspek bisnis saja, tetapi juga mencakup inovasi dalam budidaya serta pasca-panen kelapa sawit. Kegiatan ini menampilkan berbagai teknologi baru yang lebih ramah lingkungan.
"Ini merupakan bentuk komitmen kita bersama untuk memastikan bahwa pengembangan kelapa sawit tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan," kata Rusman.
Menurut Rusman, kemitraan antara Aspekpir dan perusahaan menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong kemajuan sektor sawit nasional. Saat ini Aspekpir menaungi sekitar 800.000 hektare dari total 16 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
SEVP Business Support PTPN IV Regional III Riau, Bambang Budi Santoso menegaskan, langkah yang diambil oleh Aspekpir dengan menyelenggarakan Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 selaras dengan programnya, yakni memperkuat kemitraan di perkebunan sawit. Dia berharap kegiatan ini mendukung terbentuknya petani kelapa sawit yang sejahtera dengan kemitraan yang kuat dan menjadi pejuang devisa negara.
"Kita juga pastikan bahwa produksi industri sawit akan semakin baik lewat kemitraan," paparnya.
Sementara itu, Ketua Umum Aspekpir Indonesia, Setiyono berharap bisnis kemitraan sawit 2025 dapat menjadi agenda rutin dan tahunan dalam rangka memperkokoh pengembangan sawit berkelanjutan melalui kerja sama kemitraan inti plasma yang saling menguatkan.
Dia menegaskan hingga kini kelapa sawit menjadi tulang punggung perekonomian national tidak terlepas dari peran strategis petani sawit plasma. "Kemitraan inti plasma adalah kemitraan strategis yang harus diperkuat," tandasnya.
Menurut Eddy, perkebunan kelapa sawit beberapa kali pernah menyelamatkan perekonomian Indonesia. Pertama saat kenaikan pajak yang terjadi pada tahun 1998. Kemudian pada tahun 2008 saat terjadi krisis di negara Amerika, lalu pada tahun 2019 saat virus Covid-19 mewabah di Indonesia.
"Saat itu ekonomi ambruk, namun sektor perkebunan kelapa sawit justru menjadi penyelamat. Malah saat Covid-19, sektor perkebunan sawit torehkan devisa tertinggi, ini sangat luar biasa," jelas Eddy saat gelaran Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 di Pekanbaru, Riau, dikutip Senin (1/9/2025).

Eddy pun mengaku prihatin lantaran ada 37 kementerian dan lembaga (K/L) yang mengelola perkebunan kelapa sawit justru kalah dengan Malaysia. Negeri Jiran -julukan Malaysia- itu hanya memiliki satu lembaga, namun produksi kebun kelapa sawitnya lebih besar.
Dia juga mengatakan, petani perkebunan inti rakyat (PIR) memiliki peran yang cukup penting, termasuk juga Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR (Aspekpir) yang menaungi para petani plasma tersebut.
Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 sendiri didukung oleh IAS Global, PT Bio Sarana Indonesia (BSI), Bio Industri Nusantara (Bionusa) dan PT Restoe Bumi Lestari serta Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Riau dan PTPN IV Regional III Riau.
Ketua Dewan Pengawas Aspekpir, Rusman Heriawan mengatakan, gelaran ini tidak hanya membahas aspek bisnis saja, tetapi juga mencakup inovasi dalam budidaya serta pasca-panen kelapa sawit. Kegiatan ini menampilkan berbagai teknologi baru yang lebih ramah lingkungan.
"Ini merupakan bentuk komitmen kita bersama untuk memastikan bahwa pengembangan kelapa sawit tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan," kata Rusman.
Menurut Rusman, kemitraan antara Aspekpir dan perusahaan menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong kemajuan sektor sawit nasional. Saat ini Aspekpir menaungi sekitar 800.000 hektare dari total 16 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia.
SEVP Business Support PTPN IV Regional III Riau, Bambang Budi Santoso menegaskan, langkah yang diambil oleh Aspekpir dengan menyelenggarakan Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 selaras dengan programnya, yakni memperkuat kemitraan di perkebunan sawit. Dia berharap kegiatan ini mendukung terbentuknya petani kelapa sawit yang sejahtera dengan kemitraan yang kuat dan menjadi pejuang devisa negara.
"Kita juga pastikan bahwa produksi industri sawit akan semakin baik lewat kemitraan," paparnya.
Sementara itu, Ketua Umum Aspekpir Indonesia, Setiyono berharap bisnis kemitraan sawit 2025 dapat menjadi agenda rutin dan tahunan dalam rangka memperkokoh pengembangan sawit berkelanjutan melalui kerja sama kemitraan inti plasma yang saling menguatkan.
Dia menegaskan hingga kini kelapa sawit menjadi tulang punggung perekonomian national tidak terlepas dari peran strategis petani sawit plasma. "Kemitraan inti plasma adalah kemitraan strategis yang harus diperkuat," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :