Bank BUMN Diguyur Rp200 Triliun, Ekonom: Masalahnya Nggak Ada Permintaan Kredit

Minggu, 14 September 2025 - 16:25 WIB
loading...
Bank BUMN Diguyur Rp200...
Pemerintah baru saja menempatkan dana sebesar Rp200 triliun dari rekening di Bank Indonesia. FOTO/Antara/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Pemerintah baru saja menempatkan dana sebesar Rp200 triliun dari rekening di Bank Indonesia (BI) ke lima bank BUMN, yakni BRI, Mandiri, BNI, BTN, dan BSI. Langkah ini bertujuan meningkatkan likuiditas perbankan dan mendorong pertumbuhan kredit, sehingga diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, apakah suntikan dana besar ini akan efektif tanpa pembenahan sektor riil yang menjadi tulang punggung ekonomi.

Menurut Direktur Pengembangan Big Data Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, misalnya mencapai 8 persen, memang membutuhkan dukungan kebijakan fiskal dan moneter. Namun, pada akhirnya, kekuatan sektor riil-lah yang paling menentukan laju pertumbuhan ekonomi.

"Kalau hanya mengalirkan Rp200 triliun dari bank sentral ke bank umum tanpa memperbaiki sektor riil, efeknya ke ekonomi riil akan sangat terbatas," ujar Eko dalam diskusi Sentimen Publik terhadap Reshuffle Kabinet yang digelar secara daring, baru-baru ini.

Sektor riil yang dimaksud mencakup usaha-usaha produktif yang menyerap tenaga kerja dan menghasilkan barang serta jasa. Saat ini, masalah utama bukanlah likuiditas perbankan yang kering, melainkan lemahnya permintaan kredit dari pelaku usaha.

Data menunjukkan angka kredit yang disetujui bank tetapi belum ditarik (undisbursed loan) masih tinggi, menandakan iklim usaha belum kondusif dan pelaku usaha enggan atau belum mampu memanfaatkan kredit. Kondisi ini berimplikasi pada sektor riil yang stagnan, sehingga pertumbuhan ekonomi sulit meningkat signifikan.

Baca Juga: Si Kaya Makin Kaya, Kelas Menengah Makin Susah, Ini Buktinya
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Purbaya Buka Suara Soal...
Purbaya Buka Suara Soal Penolakan Rencana Tambah Layer Cukai Rokok
Sinyal Penarikan Dana...
Sinyal Penarikan Dana SAL dari Himbara Mencuat, Begini Pesan OJK
Uang Beredar di Mei...
Uang Beredar di Mei 2026 Capai Rp10.415,9 Triliun, BI: Tumbuh 10,8 Persen
Purbaya Buka Peluang...
Purbaya Buka Peluang Kerek Dana Transfer ke Daerah di 2027 hingga Rp90 Triliun
Purbaya Pede Harga BBM...
Purbaya Pede Harga BBM Pertamax Bakal Turun Efek Damai AS-Iran
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Jaksa Agung Serahkan...
Jaksa Agung Serahkan Hasil Pemulihan Aset Rp1,22 Triliun ke Purbaya
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
Rekomendasi
Tanda-tanda Ponsel Anda...
Tanda-tanda Ponsel Anda sedang Diawasi yang Perlu Diketahui
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Tio Pakusadewo Ungkap...
Tio Pakusadewo Ungkap Gejala Aneh Sebelum Alami Gangguan Jantung: Cegukan 2 Bulan Gak Berhenti!
Berita Terkini
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Menguat 0,44 Persen ke Level 6.128
MSCI Tahan Status Emerging...
MSCI Tahan Status Emerging Market Indonesia, OJK Pastikan Reformasi Pasar Modal Jalan Terus
Hasil RUPST MNC Energy...
Hasil RUPST MNC Energy Investments untuk Tahun Buku 2025
Pasar Modal RI Terancam...
Pasar Modal RI Terancam Turun Kasta ke Frontier Market, MSCI Ultimatum hingga November 2026
240 BUMN Tak Produktif...
240 BUMN Tak Produktif Dibubarin Prabowo: Tidak Untung, Rugi Terus
Persaingan Pasar Game...
Persaingan Pasar Game Valorant, Intip Strategi Ekspansi Tokovalorant
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved