Bank BUMN Diguyur Rp200 Triliun, Ekonom: Masalahnya Nggak Ada Permintaan Kredit
Minggu, 14 September 2025 - 16:25 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: 5 Bank BUMN Diguyur Rp200 Triliun, Segini Rincian Porsinya
Namun, sentimen publik terhadap reshuffle kabinet dan kebijakan ekonomi masih didominasi skeptisisme. Analisis big data dari Continuum Data Indonesia menunjukkan 64,4 persen warganet pesimistis reshuffle akan membawa perubahan signifikan tanpa evaluasi kinerja yang menyeluruh.
Mereka menuntut langkah konkret yang benar-benar memudahkan usaha dan mengurangi beban pajak yang selama ini dianggap memberatkan. Secara keseluruhan, suntikan dana Rp200 triliun ke bank BUMN merupakan langkah strategis yang berpotensi memperkuat likuiditas dan mendorong pertumbuhan kredit.
Namun, tanpa perbaikan iklim usaha dan reformasi sektor riil, dana tersebut berisiko menjadi sia-sia dan tidak mampu mengatasi masalah pengangguran serta lemahnya daya beli masyarakat.
Sebab itu, pengelolaan dana ini harus dilakukan dengan hati-hati dan terintegrasi dengan kebijakan yang mendukung sektor riil secara menyeluruh. Hanya dengan demikian, suntikan dana besar ini dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi Indonesia.
Namun, sentimen publik terhadap reshuffle kabinet dan kebijakan ekonomi masih didominasi skeptisisme. Analisis big data dari Continuum Data Indonesia menunjukkan 64,4 persen warganet pesimistis reshuffle akan membawa perubahan signifikan tanpa evaluasi kinerja yang menyeluruh.
Mereka menuntut langkah konkret yang benar-benar memudahkan usaha dan mengurangi beban pajak yang selama ini dianggap memberatkan. Secara keseluruhan, suntikan dana Rp200 triliun ke bank BUMN merupakan langkah strategis yang berpotensi memperkuat likuiditas dan mendorong pertumbuhan kredit.
Namun, tanpa perbaikan iklim usaha dan reformasi sektor riil, dana tersebut berisiko menjadi sia-sia dan tidak mampu mengatasi masalah pengangguran serta lemahnya daya beli masyarakat.
Sebab itu, pengelolaan dana ini harus dilakukan dengan hati-hati dan terintegrasi dengan kebijakan yang mendukung sektor riil secara menyeluruh. Hanya dengan demikian, suntikan dana besar ini dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bagi Indonesia.
(nng)
Lihat Juga :