Bisnis Perempuan Rambah Kuliner hingga Konveksi
Sabtu, 12 September 2020 - 10:02 WIB
loading...
A
A
A
Firdaus bercerita, pada UKM kuliner suatu saat makanan yang dihasilkan terasa berbeda, ternyata itu karena dia sedang bertengkar dengan suami. Faktor lain karena dia terlalu lelah bekerja. Bahkan, dia masih harus mengerjakan semua tugas rumah tangga. "Kami dampingi sampai masuk ke ranah dalam rumah tangga.
Kami coba pahamkan dengan suami, usaha mereka erat kaitannya dengan persoalan rumah tangga. Jadi, harus dijaga dengan baik karena sangat berdampak pada produksi," sambung Firdaus.
Menggandeng psikolog juga kerap dilakukan jika sudah ada kasus kekerasan dalam rumah tangga. ASPPUK bukan hanya menjadi pelatihan usaha, tapi tempat bercerita bagi mereka yang sudah lama didampingi. Dalam konteks yang lebih serius, psikolog dan pendamping hukum juga dilibatkan.
Cerita sukses dari para pelaku UKM memang banyak dibumbui kisah inspiratif bagi perempuan lainnya. Termasuk bagaimana seseorang memiliki idealisme sendiri dalam berkarya seni. Misalnya, membatik dari hati sehingga kini menjadi batik khas Jakarta.
Batik Gobang milik Ethys Mayoshi sudah dikenal sebagai salah satu kebanggaan Jakarta dan masyarakat Betawi. Pada awal memutuskan untuk membuat batik Gobang cukup sulit diterima sebab dia menciptakan pasar sendiri.
Ethys mencoba membuat batik khas Jakarta yang berbeda dari yang selama ini ada. Batik Jakarta identik dengan warna-warna terang. Dia ingin membuat sesuatu yang baru, guna menyasar para pengguna batik yang biasa menggunakan warna klasik, namun ingin mengenakan batik dengan motif khas Jakarta.
"Mungkin ada sekitar 20% yang suka batik dengan warna klasik seperti cokelat, hitam, dan perpaduan warna lain," jelasnya. (Baca juga: Bela yunani, Uni Eropa Siap Keroyok Turki dengan Sanksi)
Ethys berani memulai usahanya, meski belum melihat keuntungan dari apa yang akan dilakukannya. Dengan gebrakan pemakaian warna berbeda, dia sempat ditentang pihak Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Namun, dia tetap pada idealismenya.
Bukan hanya soal warna, segenap perasaannya pun tertuang dalam setiap gambaran motif batik Gobang yang tidak dimiliki batik Jakarta lainnya. Dia menelaah lebih dalam lagi dan bukan hanya ciri khas Jakarta berupa ondel-ondel, tapi hal rinci seperti gigi balang, kembang manggar, kulit salak, hingga batu tumpuk.
"Tumpukan batu di Kota Jakarta rentan dengan banjir. Itu yang kemudian jadi inspirasi saya dalam membuat batik. Saya angkat jadi motif dasar batik Gobang saya," jelasnya.
Menulis batik dengan ideliasme sendiri diharapkan bisa membuat masyarakat Indonesia ataupun mancanegara lebih melek dengan karya batik, sebuah kain dengan citra rasa seni yang kental. Ethys juga ingin perempuan Indonesia yang ingin menjadi entrepreneur dapat membuat pasar sendiri dan tidak hanya mengikuti pasar yang sudah ada sehingga akan menjadi sebuah karya orisinalitas yang akan terus dicari masyarakat. (Baca juga: Virus Corona Intai Pembalap Tour de France 2020)
Bisnis para perempuan juga erat kaitannya dengan apa yang mereka suka. Perempuan suka keindahan, bunga-bunga bermekaran ditambah ruangan yang didekorasi bunga. Azalia Amadea pun akhirnya menjadikan bunga-bunga favoritnya sebagai lahan mencari rezeki tambahan disamping menjadi jurnalis media online. Bunga-bunga cantik dirangkai menjadi buket bunga untuk pengantin ataupun yang biasa dipesan sebagai hadiah saat wisuda.
Perempuan yang akrab disapa Dea ini bersama rekannya memulai usaha dengan modal Rp400-500.000 pada 2016. Hingga kini mereka terus belajar untuk terus mengembangkan Florist. Sebab, usaha florist ini hanya ada saat orang butuh atau saat sedang ada momen. Maka, kini dirinya paham untuk selalu mengadakan promo saat hari besar. Hal tersebut juga menjadi tantangan bahwa dia harus sabar dan terus melakukan promosi.
Dea tidak lupa untuk selalu mencari inspirasi dalam merangkai bunga-bunga dari florist lainnya. "Enaknya usaha florist tuh kami enggak ada persaingan, justru kita saling menguatkan dengan belajar satu sama lain. Jadi, sering-sering ngobrol dan bertanya kepada pengusaha florist lain yang sudah sukses, meski hanya melalui media sosial," ungkapnya.
Kami coba pahamkan dengan suami, usaha mereka erat kaitannya dengan persoalan rumah tangga. Jadi, harus dijaga dengan baik karena sangat berdampak pada produksi," sambung Firdaus.
Menggandeng psikolog juga kerap dilakukan jika sudah ada kasus kekerasan dalam rumah tangga. ASPPUK bukan hanya menjadi pelatihan usaha, tapi tempat bercerita bagi mereka yang sudah lama didampingi. Dalam konteks yang lebih serius, psikolog dan pendamping hukum juga dilibatkan.
Cerita sukses dari para pelaku UKM memang banyak dibumbui kisah inspiratif bagi perempuan lainnya. Termasuk bagaimana seseorang memiliki idealisme sendiri dalam berkarya seni. Misalnya, membatik dari hati sehingga kini menjadi batik khas Jakarta.
Batik Gobang milik Ethys Mayoshi sudah dikenal sebagai salah satu kebanggaan Jakarta dan masyarakat Betawi. Pada awal memutuskan untuk membuat batik Gobang cukup sulit diterima sebab dia menciptakan pasar sendiri.
Ethys mencoba membuat batik khas Jakarta yang berbeda dari yang selama ini ada. Batik Jakarta identik dengan warna-warna terang. Dia ingin membuat sesuatu yang baru, guna menyasar para pengguna batik yang biasa menggunakan warna klasik, namun ingin mengenakan batik dengan motif khas Jakarta.
"Mungkin ada sekitar 20% yang suka batik dengan warna klasik seperti cokelat, hitam, dan perpaduan warna lain," jelasnya. (Baca juga: Bela yunani, Uni Eropa Siap Keroyok Turki dengan Sanksi)
Ethys berani memulai usahanya, meski belum melihat keuntungan dari apa yang akan dilakukannya. Dengan gebrakan pemakaian warna berbeda, dia sempat ditentang pihak Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Namun, dia tetap pada idealismenya.
Bukan hanya soal warna, segenap perasaannya pun tertuang dalam setiap gambaran motif batik Gobang yang tidak dimiliki batik Jakarta lainnya. Dia menelaah lebih dalam lagi dan bukan hanya ciri khas Jakarta berupa ondel-ondel, tapi hal rinci seperti gigi balang, kembang manggar, kulit salak, hingga batu tumpuk.
"Tumpukan batu di Kota Jakarta rentan dengan banjir. Itu yang kemudian jadi inspirasi saya dalam membuat batik. Saya angkat jadi motif dasar batik Gobang saya," jelasnya.
Menulis batik dengan ideliasme sendiri diharapkan bisa membuat masyarakat Indonesia ataupun mancanegara lebih melek dengan karya batik, sebuah kain dengan citra rasa seni yang kental. Ethys juga ingin perempuan Indonesia yang ingin menjadi entrepreneur dapat membuat pasar sendiri dan tidak hanya mengikuti pasar yang sudah ada sehingga akan menjadi sebuah karya orisinalitas yang akan terus dicari masyarakat. (Baca juga: Virus Corona Intai Pembalap Tour de France 2020)
Bisnis para perempuan juga erat kaitannya dengan apa yang mereka suka. Perempuan suka keindahan, bunga-bunga bermekaran ditambah ruangan yang didekorasi bunga. Azalia Amadea pun akhirnya menjadikan bunga-bunga favoritnya sebagai lahan mencari rezeki tambahan disamping menjadi jurnalis media online. Bunga-bunga cantik dirangkai menjadi buket bunga untuk pengantin ataupun yang biasa dipesan sebagai hadiah saat wisuda.
Perempuan yang akrab disapa Dea ini bersama rekannya memulai usaha dengan modal Rp400-500.000 pada 2016. Hingga kini mereka terus belajar untuk terus mengembangkan Florist. Sebab, usaha florist ini hanya ada saat orang butuh atau saat sedang ada momen. Maka, kini dirinya paham untuk selalu mengadakan promo saat hari besar. Hal tersebut juga menjadi tantangan bahwa dia harus sabar dan terus melakukan promosi.
Dea tidak lupa untuk selalu mencari inspirasi dalam merangkai bunga-bunga dari florist lainnya. "Enaknya usaha florist tuh kami enggak ada persaingan, justru kita saling menguatkan dengan belajar satu sama lain. Jadi, sering-sering ngobrol dan bertanya kepada pengusaha florist lain yang sudah sukses, meski hanya melalui media sosial," ungkapnya.
Lihat Juga :