Prioritaskan Keuangan Keluarga, Banyak Warga RI Pilih Tunda Berobat
Rabu, 17 September 2025 - 19:30 WIB
loading...
A
A
A
Satu dari lima responden cemas dengan ketidakpastian ongkos perawatan dan pengeluaran tak terduga. Untuk menutupi kebutuhan medis, 56 persen responden mengandalkan bantuan keluarga, pinjaman, lembaga amal, hingga crowdfunding.
Ketiga, tanggung jawab rumah tangga kerap mengalahkan kebutuhan pribadi. Sebanyak 20 persen responden menunda pengobatan demi kebutuhan finansial keluarga, dan 18 persen lainnya lebih memprioritaskan pengasuhan anak ketimbang merawat kesehatan diri.
"Meski akses kesehatan di Indonesia telah meningkat signifikan, pasien masih menghadapi hambatan yang membuat mereka sulit memperoleh perawatan yang dibutuhkan," ujar Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, dalamMedia Roundtable bertajuk Patient Voices: Experiences of Healthcare Access in Indonesia & Asia pada Rabu (17/9).
Baca Juga: Tren Masyarakat Bergeser, Banyak Kelas Menengah Kembali Pakai BPJS Kesehatan
Yosie menambahkan, kondisi geografis Indonesia dan distribusi tenaga medis yang belum merata memperburuk keadaan. Sebanyak 77 persen pasien melaporkan kesulitan membuat janji temu, antrean panjang, serta masalah akses lainnya yang berdampak pada pekerjaan dan rutinitas keluarga.
Ketiga, tanggung jawab rumah tangga kerap mengalahkan kebutuhan pribadi. Sebanyak 20 persen responden menunda pengobatan demi kebutuhan finansial keluarga, dan 18 persen lainnya lebih memprioritaskan pengasuhan anak ketimbang merawat kesehatan diri.
"Meski akses kesehatan di Indonesia telah meningkat signifikan, pasien masih menghadapi hambatan yang membuat mereka sulit memperoleh perawatan yang dibutuhkan," ujar Chief Health Officer Prudential Indonesia, Yosie William Iroth, dalamMedia Roundtable bertajuk Patient Voices: Experiences of Healthcare Access in Indonesia & Asia pada Rabu (17/9).
Baca Juga: Tren Masyarakat Bergeser, Banyak Kelas Menengah Kembali Pakai BPJS Kesehatan
Yosie menambahkan, kondisi geografis Indonesia dan distribusi tenaga medis yang belum merata memperburuk keadaan. Sebanyak 77 persen pasien melaporkan kesulitan membuat janji temu, antrean panjang, serta masalah akses lainnya yang berdampak pada pekerjaan dan rutinitas keluarga.
Lihat Juga :