Krisis Pasokan Energi Ancam Asia Pasifik, Indonesia Perlu Antisipasi
Kamis, 18 September 2025 - 21:05 WIB
loading...
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro (tiga kanan) dalam acara SindoNews Sharing Session di iNews Tower, Jakarta, Kamis (18/9). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengingatkan potensi terjadinya krisis pasokan energi di kawasan Asia Pasifik pada 2045. Peringatan itu didasari proyeksi lonjakan kebutuhan energi di tengah keterbatasan cadangan dan produksi di kawasan tersebut.
Menurut Komaidi, saat ini Asia Pasifik menyerap sekitar 40 persen konsumsi energi dunia. Besarnya permintaan itu terutama didorong negara-negara dengan populasi dan industri besar seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, serta negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.
“Produksi energi di kawasan ini hanya sekitar 7 persen dari produksi global, sementara cadangan minyaknya lebih kecil lagi, yakni 2,5 persen dari total cadangan global,” ujar Komaidi dalam acara SindoNews Sharing Session di iNews Tower Jakarta, Kamis (18/9).
Ia menambahkan, tekanan permintaan energi akan semakin besar dalam dua dekade mendatang. Hal itu seiring proyeksi jumlah penduduk India yang akan melampaui China dan terus bertambah signifikan hingga 2045. “Ini berpotensi menimbulkan perebutan energi luar biasa di Pasifik yang perlu diantisipasi,” ujarnya.
Baca Juga: PHE Siapkan Metode EOR Genjot Produksi Minyak di Lapangan Tua
Meski energi baru terbarukan (EBT) disebut sebagai solusi jangka panjang, pengembangannya masih menghadapi banyak hambatan. Menurut Komaidi, satu-satunya EBT yang dapat dijadikan base load dalam sistem kelistrikan adalah panas bumi. Namun, potensi panas bumi sulit dimanfaatkan secara optimal karena umumnya berada di daerah pegunungan terpencil dengan keterbatasan jaringan transmisi.
"Hambatan-hambatan inilah yang membuat panas bumi sulit berkembang, meskipun sudah mulai digarap sejak 1980-an," ucapnya.
Baca Juga: Pertamina Hulu Energi Beberkan Tantangan Tingkatkan Lifting Migas
Komaidi menekankan perlunya langkah antisipatif berupa kebijakan energi yang berkelanjutan, diversifikasi sumber energi, serta percepatan investasi infrastruktur. Upaya tersebut dinilai krusial agar Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Pasifik tidak menghadapi krisis pasokan di tengah lonjakan kebutuhan energi pada 2045.
Menurut Komaidi, saat ini Asia Pasifik menyerap sekitar 40 persen konsumsi energi dunia. Besarnya permintaan itu terutama didorong negara-negara dengan populasi dan industri besar seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, serta negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.
“Produksi energi di kawasan ini hanya sekitar 7 persen dari produksi global, sementara cadangan minyaknya lebih kecil lagi, yakni 2,5 persen dari total cadangan global,” ujar Komaidi dalam acara SindoNews Sharing Session di iNews Tower Jakarta, Kamis (18/9).
Ia menambahkan, tekanan permintaan energi akan semakin besar dalam dua dekade mendatang. Hal itu seiring proyeksi jumlah penduduk India yang akan melampaui China dan terus bertambah signifikan hingga 2045. “Ini berpotensi menimbulkan perebutan energi luar biasa di Pasifik yang perlu diantisipasi,” ujarnya.
Baca Juga: PHE Siapkan Metode EOR Genjot Produksi Minyak di Lapangan Tua
Meski energi baru terbarukan (EBT) disebut sebagai solusi jangka panjang, pengembangannya masih menghadapi banyak hambatan. Menurut Komaidi, satu-satunya EBT yang dapat dijadikan base load dalam sistem kelistrikan adalah panas bumi. Namun, potensi panas bumi sulit dimanfaatkan secara optimal karena umumnya berada di daerah pegunungan terpencil dengan keterbatasan jaringan transmisi.
"Hambatan-hambatan inilah yang membuat panas bumi sulit berkembang, meskipun sudah mulai digarap sejak 1980-an," ucapnya.
Baca Juga: Pertamina Hulu Energi Beberkan Tantangan Tingkatkan Lifting Migas
Komaidi menekankan perlunya langkah antisipatif berupa kebijakan energi yang berkelanjutan, diversifikasi sumber energi, serta percepatan investasi infrastruktur. Upaya tersebut dinilai krusial agar Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Pasifik tidak menghadapi krisis pasokan di tengah lonjakan kebutuhan energi pada 2045.
(nng)
Lihat Juga :