The Fed Pangkas Suku Bunga, Harga Bitcoin Melejit Tembus Rp1,94 Miliar
Jum'at, 19 September 2025 - 20:38 WIB
loading...
Harga Bitcoin kembali mencatat rekor penguatan usai The Fed memangkas suku bunga. FOTO/iStock Photo
A
A
A
JAKARTA - Harga Bitcoin kembali mencatat rekor penguatan dengan menembus level USD117.000 atau sekitar Rp1,94 miliar per unit setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Pada perdagangan Jumat (19/9) pagi, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD117.182. Pasar menilai, jika level psikologis ini dapat bertahan sebagai support baru, peluang Bitcoin menembus USD120.000 atau sekitar Rp1,99 miliar semakin terbuka.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai lonjakan harga tersebut menegaskan pergeseran kekuatan pasar kripto. "Investasi kripto, khususnya Bitcoin, kini tidak lagi didorong sentimen ritel semata, tetapi juga mendapat dukungan signifikan dari institusi global melalui arus masuk dana ETF," ujarnya.
Baca Juga: September Effect Tak Goyahkan Pasar Kripto, Transaksi Juli Capai Rp52,46 Triliun
Ia menjelaskan, investor ritel masih cenderung berhati-hati. Data on-chain menunjukkan penurunan pada indikator New Address Momentum, yang berarti jumlah alamat baru Bitcoin tidak bertambah signifikan. "Namun, aksi dari investor institusi justru menjadi fondasi utama reli kali ini," kata dia.
Menurut Antony level USD120.000 akan menjadi tonggak penting. Jika berhasil ditembus bukan hanya kepercayaan pasar yang meningkat tetapi juga potensi aliran likuiditas baru dari institusi akan semakin besar.
Meski demikian, Indodax menilai arah jangka panjang Bitcoin tetap positif, terutama di tengah perubahan kebijakan moneter global. "Penurunan suku bunga menandakan likuiditas kembali mengalir. Secara historis, kondisi ini selalu menjadi katalis pertumbuhan aset digital," tutur Antony.
Baca Juga: Indodax Raih Penghargaan dengan Volume Transaksi Tertinggi Sepanjang 2025
Arus masuk ke ETF Bitcoin sepanjang pekan ini juga mencatat tren positif meski sempat melambat menjelang keputusan The Fed. Hal itu menunjukkan investor besar tidak terpengaruh gejolak jangka pendek.
Antony menambahkan, fenomena ini menjadi pelajaran penting bagi investor di Indonesia. Menurut dia, strategi investasi jangka panjang seperti dollar-cost averaging (DCA) lebih relevan dibanding mengejar keuntungan harian.
"Bitcoin kini semakin hadir sebagai alternatif lindung nilai di tengah ketidakpastian makroekonomi global. Pola ini memperkuat narasi bahwa Bitcoin bukan hanya instrumen spekulatif, tetapi bagian dari diversifikasi portofolio," ujarnya.
Hingga saat ini, jumlah pengguna Indodax telah menembus 9 juta investor dengan tambahan hampir 2 juta anggota baru sepanjang tahun 2025. Meski sebagian investor ritel masih menunggu konfirmasi tren, aktivitas transaksi tetap stabil.
Antony menegaskan, kebijakan moneter global akan tetap menjadi faktor utama penggerak harga Bitcoin. "Jika siklus pemangkasan suku bunga berlanjut, maka ruang pertumbuhan Bitcoin semakin luas," katanya.
Ia optimistis adopsi institusional memberi fondasi lebih kokoh bagi Bitcoin. "Selama fundamental terjaga, Bitcoin akan tetap relevan sebagai instrumen investasi, baik hari ini maupun di masa depan," ujarnya.
Pada perdagangan Jumat (19/9) pagi, Bitcoin diperdagangkan di kisaran USD117.182. Pasar menilai, jika level psikologis ini dapat bertahan sebagai support baru, peluang Bitcoin menembus USD120.000 atau sekitar Rp1,99 miliar semakin terbuka.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai lonjakan harga tersebut menegaskan pergeseran kekuatan pasar kripto. "Investasi kripto, khususnya Bitcoin, kini tidak lagi didorong sentimen ritel semata, tetapi juga mendapat dukungan signifikan dari institusi global melalui arus masuk dana ETF," ujarnya.
Baca Juga: September Effect Tak Goyahkan Pasar Kripto, Transaksi Juli Capai Rp52,46 Triliun
Ia menjelaskan, investor ritel masih cenderung berhati-hati. Data on-chain menunjukkan penurunan pada indikator New Address Momentum, yang berarti jumlah alamat baru Bitcoin tidak bertambah signifikan. "Namun, aksi dari investor institusi justru menjadi fondasi utama reli kali ini," kata dia.
Menurut Antony level USD120.000 akan menjadi tonggak penting. Jika berhasil ditembus bukan hanya kepercayaan pasar yang meningkat tetapi juga potensi aliran likuiditas baru dari institusi akan semakin besar.
Meski demikian, Indodax menilai arah jangka panjang Bitcoin tetap positif, terutama di tengah perubahan kebijakan moneter global. "Penurunan suku bunga menandakan likuiditas kembali mengalir. Secara historis, kondisi ini selalu menjadi katalis pertumbuhan aset digital," tutur Antony.
Baca Juga: Indodax Raih Penghargaan dengan Volume Transaksi Tertinggi Sepanjang 2025
Arus masuk ke ETF Bitcoin sepanjang pekan ini juga mencatat tren positif meski sempat melambat menjelang keputusan The Fed. Hal itu menunjukkan investor besar tidak terpengaruh gejolak jangka pendek.
Antony menambahkan, fenomena ini menjadi pelajaran penting bagi investor di Indonesia. Menurut dia, strategi investasi jangka panjang seperti dollar-cost averaging (DCA) lebih relevan dibanding mengejar keuntungan harian.
"Bitcoin kini semakin hadir sebagai alternatif lindung nilai di tengah ketidakpastian makroekonomi global. Pola ini memperkuat narasi bahwa Bitcoin bukan hanya instrumen spekulatif, tetapi bagian dari diversifikasi portofolio," ujarnya.
Hingga saat ini, jumlah pengguna Indodax telah menembus 9 juta investor dengan tambahan hampir 2 juta anggota baru sepanjang tahun 2025. Meski sebagian investor ritel masih menunggu konfirmasi tren, aktivitas transaksi tetap stabil.
Antony menegaskan, kebijakan moneter global akan tetap menjadi faktor utama penggerak harga Bitcoin. "Jika siklus pemangkasan suku bunga berlanjut, maka ruang pertumbuhan Bitcoin semakin luas," katanya.
Ia optimistis adopsi institusional memberi fondasi lebih kokoh bagi Bitcoin. "Selama fundamental terjaga, Bitcoin akan tetap relevan sebagai instrumen investasi, baik hari ini maupun di masa depan," ujarnya.
(nng)
Lihat Juga :