Pelaku Usaha dan Investor Bangun Fondasi Rencana Aksi Bisnis dan Keanekaragaman Hayati Indonesia
Jum'at, 10 Oktober 2025 - 22:03 WIB
loading...
A
A
A
“Forum ini menghadirkan kelompok strategis yang telah IBCSD pilih secara cermat untuk mewakili para pemangku kepentingan kunci, mulai dari pembuat kebijakan terkait iklim, sektor bisnis yang mendorong transformasi di lapangan, hingga investor global yang membawa standar etika dan inovasi,” ujarnya.
“Melalui dialog ini, kami ingin menghimpun masukan konkret untuk membentuk Indonesia Business and Biodiversity Action Plan, agar konservasi keanekaragaman hayati menjadi bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan ekonomi kita.”
Joe Phelan, Executive Director Asia Pacific dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), dalam penyampaian pidato utama menegaskan bahwa upaya mengatasi tantangan iklim dan alam harus dilakukan secara terpadu.
“Tidak ada pemisahan antara risiko iklim dan risiko alam, keduanya adalah satu agenda yang harus dihadapi bersama,” katanya.
“Dunia usaha tidak bisa lagi bersikap reaktif. Perusahaan harus secara proaktif mengintegrasikan strategi alam dan iklim untuk mengelola risiko material sekaligus membuka peluang pertumbuhan berkelanjutan," bebernya.
Diskusi juga menghadirkan Ir. Inge Retnowati, M.E, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Monica Bae, Director of Investor Practice AIGCC; Imam Muttaqien, Vice President of Safeguard PT PLN (Persero); serta Dharsono Hartono, CEO PT Rimba Makmur Utama dan Vice Chairman IBCSD yang menyampaikan sambutan penutup.
Para narasumber ini menyoroti adanya peningkatan kesadaran terhadap risiko dan peluang terkait alam, perlunya kolaborasi lebih kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan investor, serta pentingnya pengembangan mekanisme pembiayaan dan valuasi inovatif untuk mendorong transisi menuju bisnis yang positif terhadap alam.
“Melalui dialog ini, kami ingin menghimpun masukan konkret untuk membentuk Indonesia Business and Biodiversity Action Plan, agar konservasi keanekaragaman hayati menjadi bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan ekonomi kita.”
Joe Phelan, Executive Director Asia Pacific dari World Business Council for Sustainable Development (WBCSD), dalam penyampaian pidato utama menegaskan bahwa upaya mengatasi tantangan iklim dan alam harus dilakukan secara terpadu.
“Tidak ada pemisahan antara risiko iklim dan risiko alam, keduanya adalah satu agenda yang harus dihadapi bersama,” katanya.
“Dunia usaha tidak bisa lagi bersikap reaktif. Perusahaan harus secara proaktif mengintegrasikan strategi alam dan iklim untuk mengelola risiko material sekaligus membuka peluang pertumbuhan berkelanjutan," bebernya.
Diskusi juga menghadirkan Ir. Inge Retnowati, M.E, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Monica Bae, Director of Investor Practice AIGCC; Imam Muttaqien, Vice President of Safeguard PT PLN (Persero); serta Dharsono Hartono, CEO PT Rimba Makmur Utama dan Vice Chairman IBCSD yang menyampaikan sambutan penutup.
Para narasumber ini menyoroti adanya peningkatan kesadaran terhadap risiko dan peluang terkait alam, perlunya kolaborasi lebih kuat antara pemerintah, dunia usaha, dan investor, serta pentingnya pengembangan mekanisme pembiayaan dan valuasi inovatif untuk mendorong transisi menuju bisnis yang positif terhadap alam.
Lihat Juga :