IMF Peringatkan Soal Ancaman Utang Global, Efeknya Ngeri

Senin, 13 Oktober 2025 - 10:24 WIB
loading...
IMF Peringatkan Soal...
Dana Moneter Internasional/International Monetary Fund (IMF) memperingatkan, utang pemerintah (publik) secara global bakal melewati Produk Domestik Bruto (PDB) dunia dalam lima tahun ke depan. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Dana Moneter Internasional/International Monetary Fund ( IMF ) memperingatkan, utang pemerintah (publik) secara global bakal melewati Produk Domestik Bruto (PDB) dunia dalam lima tahun ke depan. Hal itu diungkapkan oleh Kepala IMF, Kristalina Georgieva.

Ia menyebutkan tren ini sebagai realitas yang mengejutkan bagi pembuat kebijakan di seluruh dunia. Sebagai informasi utang publik merujuk pada total utang yang dimiliki oleh pemerintah, sektor bisnis, dan rumah tangga.

Georgieva mengungkap, lonjakan pinjaman ini didorong oleh defisit fiskal, warisan saat pandemi, dan meningkatnya biaya bunga baik di negara maju maupun negara berkembang. Baca Juga: Utang Pemerintah Tembus Rp9.138 Triliun, Terbesar dari Pinjaman Luar Negeri

"Utang publik secara global diproyeksikan melebihi 100% dari PDB dunia pada tahun 2029,” kata Georgieva dalam pidato yang disiarkan di saluran resmi YouTube IMF.

Dia memperingatkan, bahwa kenaikan utang berisiko meningkatkan biaya, mendorong naiknya suku bunga, membatasi pengeluaran, dan melemahkan kemampuan pemerintah global untuk menahan guncangan. Peringatan ini muncul di tengah melonjaknya utang federal AS, dimana Washington terus mengalami defisit meskipun suku bunga tinggi.

Hingga Oktober, utang AS telah mencapai rekor USD37 triliun, atau sekitar 125% dari PDB, dengan pembayaran bunga kini menjadi salah satu pengeluaran federal terbesar, melampaui belanja sektor pertahanan.

Pemerintahan Presiden Donald Trump melakukan pembelaan bahwa utang tersebut sangat vital untuk pertumbuhan dan program domestik. Sementara itu para kritikus mengingatkan bahwa semua itu berisiko menyebabkan krisis fiskal.

IMF sebelumnya memperingatkan bahwa pengeluaran yang tidak terkendali dapat meningkatkan biaya pinjaman global dan mengguncang pasar negara berkembang.

Komentar Georgieva muncul bersamaan dengan peringatan yang lebih luas tentang ekonomi global, yang menurutnya berjalan “lebih buruk daripada yang kita butuhkan,”. Ia juga menyoroti bahwa pergeseran struktural yang mendalam dalam geopolitik, teknologi, dan demografi telah membuat ketidakpastian ekonomi menjadi “hal baru yang normal”.

"Ketahanan global belum sepenuhnya diuji. Dan ada tanda-tanda mengkhawatirkan bahwa ujian itu mungkin akan datang,” kata Georgieva.

Apa yang diungkapkan olehnya merujuk pada sinyal bahaya yang terus meningkat – termasuk lonjakan harga emas, yang mencapai rekor USD4.000 per ons pada Rabu, dan valuasi saham AS yang melambung, mengingatkan pada gelembung dotcom 25 tahun lalu.

Georgieva juga memberikan wanti-wanti tentang dampak tarif Trump, dengan mengatakan bahwa “efek penuhnya masih belum terlihat.”

Baca Juga: Purbaya Sebut IMF Puji Ekonomi Indonesia, Ini Rahasianya

Dalam Outlook Juli 2025, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global mencapai sebesar 3,0% pada 2025 dan 3,1% pada 2026, sedikit di atas perkiraan sebelumnya. IMF memperingatkan bahwa tekanan fiskal, fragmentasi perdagangan, dan harga aset yang tinggi dapat menggagalkan pemulihan kecuali pemerintah membatasi defisit dan membangun kembali cadangan. Georgieva mengatakan pembaruan baru akan dirilis minggu depan.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
IMF, Bank Dunia, dan...
IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata
Perang AS-Israel Lawan...
Perang AS-Israel Lawan Iran Bikin Badai Ekonomi ke Seluruh Dunia, Sektor Bisnis Tekor Rp441 Triliun
IMF Peringatkan AI Bisa...
IMF Peringatkan AI Bisa Bobol Sistem Perbankan Dunia dalam Hitungan Detik!
Utang Dunia Tembus Rekor...
Utang Dunia Tembus Rekor Gila Rp6.168 Kuadriliun! Investor Mulai Buang AS?
Cerita Purbaya Tolak...
Cerita Purbaya Tolak Dana Segar dari IMF dan World Bank: Kita Punya Tabungan Sendiri
BRICS Kian Digdaya Dibandingkan...
BRICS Kian Digdaya Dibandingkan G7, Kuasai Hampir 40% Ekonomi Dunia di 2025
Thucydides Trap: Antinomi...
Thucydides Trap: Antinomi China dan Amerika
Peran Yuan China Dalam...
Peran Yuan China Dalam Tata Keuangan Dunia Baru
Bergaji Rp540 Juta per...
Bergaji Rp540 Juta per Tahun, Warga Kelas Pekerja AS Berbondong-bondong Gabung Militer
Rekomendasi
Gempa Guncang Filipina,...
Gempa Guncang Filipina, 15 Orang Tewas
Eks Waka BGN Sony Sonjaya...
Eks Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan JC, Sebut 20 Nama Besar Diduga Terlibat Korupsi
HUT ke-80, SPS: Fondasi...
HUT ke-80, SPS: Fondasi Pers Nasional Terletak pada Integritas, Profesionalisme, dan Kepentingan Publik
Berita Terkini
BPDP, Ditjenbun dan...
BPDP, Ditjenbun dan AKPY Latih 122 Pekebun Sawit OKI Tingkatkan Kualitas Panen
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Pegadaian Gelar Literasi...
Pegadaian Gelar Literasi Keuangan dan Investasi Emas di Kemendes PDT
RupiahCepat dan Bank...
RupiahCepat dan Bank DBS Kolaborasi Perluas Akses Pembiayaan
Bahlil Beberkan soal...
Bahlil Beberkan soal Rencana Pembentukan Bursa Mineral Indonesia
Pakar Ingatkan Galon...
Pakar Ingatkan Galon Guna Ulang Jangan Dipakai Lebih dari Setahun
Infografis
9 Negara yang Pernah...
9 Negara yang Pernah Bangkrut karena Utang Menggila
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved