KPI Beberkan Lima Terobosan Strategis Jawab Tantangan Energi Global
Senin, 13 Oktober 2025 - 16:16 WIB
loading...
KPI membeberkan lima capaian strategis untuk menjawab tantangan ganda sektor energi global. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) membeberkan lima capaian strategis untuk menjawab tantangan ganda sektor energi global, yaitu menjamin ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju energi bersih. Langkah ini menjadi fondasi dalam kontribusi perusahaan terhadap pertumbuhan ekonomi dan target nasional menuju Net Zero Emission (NZE).
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menekankan bahwa dunia tengah menghadapi dua tantangan utama yang harus dijawab secara beriringan. "Di satu sisi, kita harus memastikan ketahanan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, transisi menuju energi rendah karbon juga harus dipercepat. Ini adalah tantangan yang membutuhkan keseimbangan, visi, dan yang terutama, kemitraan," ujarnya dalam pembukaan forum teknologi ASIA-TECH 2025 di Jakarta, dikutip Senin (13/10).
Baca Juga: Dukung Transisi Energi, KPI Kembangkan Kilang Hijau hingga Produksi Biofuel
Sebagai bagian dari Subholding Refining & Petrochemical Pertamina, KPI berkomitmen penuh memainkan peran strategis dalam mendorong transisi energi berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara. Komitmen ini sejalan dengan target Pemerintah Indonesia untuk mencapai NZE pada 2060 atau lebih cepat.
Untuk mewujudkannya, Taufik memaparkan lima pencapaian kunci KPI. Pertama, pelaksanaan Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan. Proyek strategis ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga dirancang untuk menghasilkan bahan bakar bersih berstandar tinggi setara Euro V, yang lebih ramah lingkungan.
Kedua, pengembangan Green Refinery, termasuk produksi Sustainable Aviation Fuel (PertaminaSAF) dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) di Kilang Cilacap. Inisiatif yang memanfaatkan minyak jelantah dan minyak sawit ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pelopor energi hijau di kawasan. "Ini adalah langkah nyata dalam mendiversifikasi energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil," tegas Taufik.
Strategi ketiga adalah optimalisasi melalui digitalisasi dan operational excellence. KPI menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk predictive maintenance dan efisiensi energi. Penerapan teknologi mutakhir ini bertujuan menciptakan operasi kilang yang lebih kompetitif, andal, dan rendah emisi.
Keempat, KPI aktif memperkuat kolaborasi regional. Perusahaan menjalin kemitraan strategis dengan berbagai mitra teknologi, investor, serta perusahaan minyak nasional (NOC) di kawasan. Kemitraan ini difokuskan untuk mendorong inovasi katalis, fleksibilitas bahan baku, dan memperkuat ketahanan rantai pasok.
Mendukung langkah strategis KPI, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor hilir minyak dan gas bumi.
"Modernisasi infrastruktur melalui rekayasa dan teknologi menjadi kunci menuju ketahanan energi dan masa depan rendah karbon," jelas Laode dalam kesempatan yang sama.
Baca Juga: Pertamina Bakal Beli Minyak dari Sumur Rakyat dengan Harga 80% ICP
Ia menambahkan, dengan proyeksi peningkatan permintaan gas alam global pada 2026, Indonesia perlu mengoptimalkan strategi hilirisasi, memperluas jaringan pipa, dan membangun virtual pipeline cluster untuk memperkuat distribusi energi bersih.
Forum ASIA-TECH 2025 yang diselenggarakan oleh Euro Petroleum Consultants (EPC) berkolaborasi dengan KPI pada 8-9 Oktober 2025, menjadi wadah strategis bagi para pemangku kepentingan industri untuk bertukar wawasan dan menjalin kemitraan guna menghadapi dinamika tantangan energi global ke depan.
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menekankan bahwa dunia tengah menghadapi dua tantangan utama yang harus dijawab secara beriringan. "Di satu sisi, kita harus memastikan ketahanan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, transisi menuju energi rendah karbon juga harus dipercepat. Ini adalah tantangan yang membutuhkan keseimbangan, visi, dan yang terutama, kemitraan," ujarnya dalam pembukaan forum teknologi ASIA-TECH 2025 di Jakarta, dikutip Senin (13/10).
Baca Juga: Dukung Transisi Energi, KPI Kembangkan Kilang Hijau hingga Produksi Biofuel
Sebagai bagian dari Subholding Refining & Petrochemical Pertamina, KPI berkomitmen penuh memainkan peran strategis dalam mendorong transisi energi berkelanjutan di kawasan Asia Tenggara. Komitmen ini sejalan dengan target Pemerintah Indonesia untuk mencapai NZE pada 2060 atau lebih cepat.
Untuk mewujudkannya, Taufik memaparkan lima pencapaian kunci KPI. Pertama, pelaksanaan Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan. Proyek strategis ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga dirancang untuk menghasilkan bahan bakar bersih berstandar tinggi setara Euro V, yang lebih ramah lingkungan.
Kedua, pengembangan Green Refinery, termasuk produksi Sustainable Aviation Fuel (PertaminaSAF) dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) di Kilang Cilacap. Inisiatif yang memanfaatkan minyak jelantah dan minyak sawit ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu pelopor energi hijau di kawasan. "Ini adalah langkah nyata dalam mendiversifikasi energi dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil," tegas Taufik.
Strategi ketiga adalah optimalisasi melalui digitalisasi dan operational excellence. KPI menerapkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk predictive maintenance dan efisiensi energi. Penerapan teknologi mutakhir ini bertujuan menciptakan operasi kilang yang lebih kompetitif, andal, dan rendah emisi.
Keempat, KPI aktif memperkuat kolaborasi regional. Perusahaan menjalin kemitraan strategis dengan berbagai mitra teknologi, investor, serta perusahaan minyak nasional (NOC) di kawasan. Kemitraan ini difokuskan untuk mendorong inovasi katalis, fleksibilitas bahan baku, dan memperkuat ketahanan rantai pasok.
Mendukung langkah strategis KPI, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat sektor hilir minyak dan gas bumi.
"Modernisasi infrastruktur melalui rekayasa dan teknologi menjadi kunci menuju ketahanan energi dan masa depan rendah karbon," jelas Laode dalam kesempatan yang sama.
Baca Juga: Pertamina Bakal Beli Minyak dari Sumur Rakyat dengan Harga 80% ICP
Ia menambahkan, dengan proyeksi peningkatan permintaan gas alam global pada 2026, Indonesia perlu mengoptimalkan strategi hilirisasi, memperluas jaringan pipa, dan membangun virtual pipeline cluster untuk memperkuat distribusi energi bersih.
Forum ASIA-TECH 2025 yang diselenggarakan oleh Euro Petroleum Consultants (EPC) berkolaborasi dengan KPI pada 8-9 Oktober 2025, menjadi wadah strategis bagi para pemangku kepentingan industri untuk bertukar wawasan dan menjalin kemitraan guna menghadapi dinamika tantangan energi global ke depan.
(nng)
Lihat Juga :