Operasional Membaik, Garuda Indonesia Optimistis Raup Untung di 2026
Selasa, 14 Oktober 2025 - 23:23 WIB
loading...
Pelan tapi pasti, PT Garuda Indonesia (Persero) (GIAA) Tbk mulai menyelesaikan masalah keuangan, dampak pandemi COVID-19. Kini muncul harapan baru, maskapai pelat merah ini bakal meraup untung. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Pelan tapi pasti, PT Garuda Indonesia (Persero) (GIAA) Tbk mulai menyelesaikan masalah keuangan, dampak pandemi COVID-19. Kini muncul harapan baru, maskapai pelat merah ini bakal meraup untung mulai tahun depan.
Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia, Wamildan Tsani menyatakan, optimistis Garuda Indonesia mampu membalikkan keadaan. Dari maskapai penerbangan yang didera utang jumbo, menjadi perusahaan sehat yang meraup profit dan berkontribusi besar untuk negara.
"Akhir tahun 2026, Garuda Indonesia harus bisa mencetak profit. Ini sesuai arahan presiden bahwa Garuda Indonesia harus menjadi lebih besar, melayani rakyat dan dikenal di internasional," terangnya di Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Baca Juga: Tingkat Keterisian Garuda Indonesia Group Capai 88% di Tengah Animo MotoGP Mandalika 2025
Agar Garuda Indonesia mampu mendulang profit, memang bukan perkara mudah. Cukup banyak masalah yang harus diatasi. Saat ini Garuda Indonesia menguasai 30% pangsa pasar, dan targetnya naik menjadi 50% dalam waktu cepat.
"Target naik menjadi 50 persen dalam lima tahun ke depan, serta memastikan melayani rute-rute yang untung," kata Wamildan.
Untuk menguasai pasar, tak ada pilihan kecuali Garuda Indonesia harus menambah armada. Sebagai gambaran saja, jumlah pesawat Garuda Indonesia sebelum pandemi COVID-19, mencapai 140 unit. Namun kini tersisa 50% saja, atau 70 unit pesawat yang beroperasi.
Wamildan mengatakan, Garuda Indonesia dan Citilink, anak usaha Garuda Indonesia, perlu menambah armada hingga 120 unit. Tambahan pesawat sebanyak itu bisa didapat dari sewa atau beli.
Jika membeli, ada masalah dengan supply chain yang membuat pesawat pesanan baru rampung sekitar 6-7 tahun. Beda dengan sewa yang bisa lebih cepat.
"Sedangkan kalau sewa ke lessor, lebih visible. Karena bisa lebih cepat. Itu menjadi salah satu opsi dari Garuda Indonesia untuk menambah armada," papar Wamildan.
Lalu dari mana dana untuk menambah 120 pesawat? Wamildan menyebut Danantara Indonesia sangat mensupport proses 'tinggal landas' Garuda Indonesia. Tahap awal, Danantara telah menggelontorkan dana pinjaman sebesar Rp6,6 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk perawatan atau maintenance pesawat.
"Alhamdulillah support dari presiden sangat besar, termasuk dukungan Danantara, lewat dua tahap. Pertama, berupa pinjaman. Sudah dilaksanakan sebesar Rp6,6 triliun untuk maintenance pesawat. Dananya sudah terserap," imbuhnya.
Tahap kedua, lanjut Wamildan, Danantara siap membenamkan modal ke Garuda Indonesia Group. Terkait angkanya, masih terus difinalisasi antara Garuda Indonesia dengan Danantara. "Targetnya, ekuitas Garuda Indonesia bisa positif di akhir tahun ini," paparnya.
Terbang Nyaman dan Aman
Selain memperkuat armada, lanjut Wamildan, perseroan terus meneguhkan komitmen terkait aspek keamanan dan keselamatan penerbangan. Itu semua tak bisa ditawar. Serta, kualitas layanan 'full service' yang memiliki standar tersendiri. Tidak boleh diturunkan.
"Tahun ini, kita kembalikan beberapa layanan full service yang sempat ditiadakan. Misalnya, pilihan menu makanan, kita munculkan lagi," ungkapnya.
Tak berhenti di situ, lanjut Wamildan, Garuda Indonesia Group menjalin kolaborasi dengan banyak pihak demi memberikan nilai tambah kepada penumpang.Intinya, Garuda Indonesia benar-benar ingin memanjakan penumpang. "Terbang bersama Garuda Indonesia harus aman dan nyaman," tandasnya.
Baca Juga: Bukti Penyehatan Maskapai Garuda Indonesia usai Badai Finansial
Kalau tak ada aral, lanjut Wamildan, Garuda Indonesia menggelar travel fair di Jakarta dan 6 kota besar, pada 16-19 Oktober 2025. Acara ini menghadirkan sejumlah program promo tiket.
"Kami dari manajemen Garuda Indonesia Grup terus menegakkan komitmen bahwa aspek keamanan dan keselamatan penerbangan, tidak bisa ditawar. Dan kualitas layanan full service tak boleh turun," pungkasnya.
Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia, Wamildan Tsani menyatakan, optimistis Garuda Indonesia mampu membalikkan keadaan. Dari maskapai penerbangan yang didera utang jumbo, menjadi perusahaan sehat yang meraup profit dan berkontribusi besar untuk negara.
"Akhir tahun 2026, Garuda Indonesia harus bisa mencetak profit. Ini sesuai arahan presiden bahwa Garuda Indonesia harus menjadi lebih besar, melayani rakyat dan dikenal di internasional," terangnya di Jakarta, Selasa (14/10/2025).
Baca Juga: Tingkat Keterisian Garuda Indonesia Group Capai 88% di Tengah Animo MotoGP Mandalika 2025
Agar Garuda Indonesia mampu mendulang profit, memang bukan perkara mudah. Cukup banyak masalah yang harus diatasi. Saat ini Garuda Indonesia menguasai 30% pangsa pasar, dan targetnya naik menjadi 50% dalam waktu cepat.
"Target naik menjadi 50 persen dalam lima tahun ke depan, serta memastikan melayani rute-rute yang untung," kata Wamildan.
Untuk menguasai pasar, tak ada pilihan kecuali Garuda Indonesia harus menambah armada. Sebagai gambaran saja, jumlah pesawat Garuda Indonesia sebelum pandemi COVID-19, mencapai 140 unit. Namun kini tersisa 50% saja, atau 70 unit pesawat yang beroperasi.
Wamildan mengatakan, Garuda Indonesia dan Citilink, anak usaha Garuda Indonesia, perlu menambah armada hingga 120 unit. Tambahan pesawat sebanyak itu bisa didapat dari sewa atau beli.
Jika membeli, ada masalah dengan supply chain yang membuat pesawat pesanan baru rampung sekitar 6-7 tahun. Beda dengan sewa yang bisa lebih cepat.
"Sedangkan kalau sewa ke lessor, lebih visible. Karena bisa lebih cepat. Itu menjadi salah satu opsi dari Garuda Indonesia untuk menambah armada," papar Wamildan.
Lalu dari mana dana untuk menambah 120 pesawat? Wamildan menyebut Danantara Indonesia sangat mensupport proses 'tinggal landas' Garuda Indonesia. Tahap awal, Danantara telah menggelontorkan dana pinjaman sebesar Rp6,6 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk perawatan atau maintenance pesawat.
"Alhamdulillah support dari presiden sangat besar, termasuk dukungan Danantara, lewat dua tahap. Pertama, berupa pinjaman. Sudah dilaksanakan sebesar Rp6,6 triliun untuk maintenance pesawat. Dananya sudah terserap," imbuhnya.
Tahap kedua, lanjut Wamildan, Danantara siap membenamkan modal ke Garuda Indonesia Group. Terkait angkanya, masih terus difinalisasi antara Garuda Indonesia dengan Danantara. "Targetnya, ekuitas Garuda Indonesia bisa positif di akhir tahun ini," paparnya.
Terbang Nyaman dan Aman
Selain memperkuat armada, lanjut Wamildan, perseroan terus meneguhkan komitmen terkait aspek keamanan dan keselamatan penerbangan. Itu semua tak bisa ditawar. Serta, kualitas layanan 'full service' yang memiliki standar tersendiri. Tidak boleh diturunkan.
"Tahun ini, kita kembalikan beberapa layanan full service yang sempat ditiadakan. Misalnya, pilihan menu makanan, kita munculkan lagi," ungkapnya.
Tak berhenti di situ, lanjut Wamildan, Garuda Indonesia Group menjalin kolaborasi dengan banyak pihak demi memberikan nilai tambah kepada penumpang.Intinya, Garuda Indonesia benar-benar ingin memanjakan penumpang. "Terbang bersama Garuda Indonesia harus aman dan nyaman," tandasnya.
Baca Juga: Bukti Penyehatan Maskapai Garuda Indonesia usai Badai Finansial
Kalau tak ada aral, lanjut Wamildan, Garuda Indonesia menggelar travel fair di Jakarta dan 6 kota besar, pada 16-19 Oktober 2025. Acara ini menghadirkan sejumlah program promo tiket.
"Kami dari manajemen Garuda Indonesia Grup terus menegakkan komitmen bahwa aspek keamanan dan keselamatan penerbangan, tidak bisa ditawar. Dan kualitas layanan full service tak boleh turun," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :