Perempuan Muda Rawan Terjerat Utang Konsumtif, OJK Wanti-wanti Risiko Paylater
Minggu, 19 Oktober 2025 - 23:43 WIB
loading...
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan tren peningkatan signifikan penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) di kalangan perempuan berusia muda. Foto/Dok
A
A
A
PURWOKERTO - Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) mengingatkan tren peningkatan signifikan penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) di kalangan perempuan berusia muda . Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku PUJK, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi menyebut, fenomena ini perlu diwaspadai karena sebagian besar penggunaan BNPL atau pay later bersifat konsumtif, bukan produktif.
"Dari profil yang kita terima, itu kebanyakan memang perempuan, dan usia muda. Jadi ini kebanyakan adalah untuk konsumtif. Jadi ini mungkin harus hati-hati juga," kata Kiki, Sabtu (18/10).
Baca Juga: Ketua LPS: Kalau Tak Butuh, Jangan Pakai Paylater
Ia menekankan, peningkatan akses layanan keuangan harus diimbangi dengan tanggung jawab dan pemahaman terhadap risiko. Menurut Friderica, perilaku konsumtif yang dipicu gaya hidup digital kini banyak dipicu tren di media sosial, yang menimbulkan fenomena fear of missing out (FOMO), you only live once (YOLO), dan fear of other people’s opinion (FOPO).
Kiki juga menambahkan, tekanan sosial dalam era digital sering kali mendorong seseorang untuk berutang demi menjaga citra diri di tengah masyarakat. Baca Juga: Paylater Butuh Pengawasan dan Aturan Jelas
"FOPO ini merupakan satu studi yang belum terlalu lama, itu fear of other people opinion. Kita jadi insecure (karena penilaian orang lain), jadi ambil utang untuk beli sesuatu, dan seterusnya. Itu bahaya," ujarnya.
Sedianya peningkatan literasi keuangan menjadi langkah OJK dalam agar menyadarkan masyarakat gar tidak hanya memahami manfaat produk keuangan digital seperti BNPL, tetapi juga mampu mengelola risikonya dengan bijak.
"Dari profil yang kita terima, itu kebanyakan memang perempuan, dan usia muda. Jadi ini kebanyakan adalah untuk konsumtif. Jadi ini mungkin harus hati-hati juga," kata Kiki, Sabtu (18/10).
Baca Juga: Ketua LPS: Kalau Tak Butuh, Jangan Pakai Paylater
Ia menekankan, peningkatan akses layanan keuangan harus diimbangi dengan tanggung jawab dan pemahaman terhadap risiko. Menurut Friderica, perilaku konsumtif yang dipicu gaya hidup digital kini banyak dipicu tren di media sosial, yang menimbulkan fenomena fear of missing out (FOMO), you only live once (YOLO), dan fear of other people’s opinion (FOPO).
Kiki juga menambahkan, tekanan sosial dalam era digital sering kali mendorong seseorang untuk berutang demi menjaga citra diri di tengah masyarakat. Baca Juga: Paylater Butuh Pengawasan dan Aturan Jelas
"FOPO ini merupakan satu studi yang belum terlalu lama, itu fear of other people opinion. Kita jadi insecure (karena penilaian orang lain), jadi ambil utang untuk beli sesuatu, dan seterusnya. Itu bahaya," ujarnya.
Sedianya peningkatan literasi keuangan menjadi langkah OJK dalam agar menyadarkan masyarakat gar tidak hanya memahami manfaat produk keuangan digital seperti BNPL, tetapi juga mampu mengelola risikonya dengan bijak.
(akr)
Lihat Juga :