Tanpa Perhitungan Matang, Kebijakan B50 Berpotensi Mematikan Sawit Nasional
Senin, 20 Oktober 2025 - 09:29 WIB
loading...
A
A
A
Simulasi menunjukkan penghematan devisa impor solar sebesar Rp172,35 triliun, namun potensi kehilangan devisa akibat turunnya ekspor CPO bisa mencapai Rp190,5 triliun. Kondisi ini dapat memperlemah neraca perdagangan, cadangan devisa, dan stabilitas nilai tukar rupiah, apalagi saat harga CPO Indonesia sudah lebih tinggi dari minyak nabati lain, mendorong negara importir seperti India beralih ke komoditas pesaing.
Kenaikan mandatori biodiesel B50 juga berdampak pada harga domestik. Harga minyak goreng diperkirakan naik hingga 9% dan TBS naik sekitar Rp618 per kilogram akibat meningkatnya permintaan bahan baku biodiesel. Namun, lonjakan subsidi untuk menjaga keekonomian program akan menjadi beban fiskal besar. Jika tarif pungutan ekspor CPO dinaikkan dari 10% menjadi 15,17%, harga TBS di tingkat petani berpotensi tertekan hingga Rp1.725 per kilogram.
Baca Juga: PP Nomor 45/2025 Terbit, Ketua Aspekpir: Petani Sawit Bisa Bangkrut
Dampak terberat akan dirasakan petani swadaya yang memiliki posisi tawar lemah dalam rantai pasok sawit. Terkait hasil riset diatas, Pranata UI merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan mempertimbangkan seksama kapasitas produksi sawit nasional, daya saing ekspor, dan kesejahteraan petani agar manfaat program ini terasakan secara menyeluruh.
Lebih jauh, Bayu Krisnamurthi menilai kondisi industri sawit Indonesia saat ini tengah lesu. Dimana, daya saing sawit Indonesia di pasar global juga semakin tergerus. Harga CPO saat ini sekitar USD 300 lebih mahal dari minyak kedelai, sementara negara-negara konsumen mulai mencari alternatif pengganti sawit.
Dalam analisisnya, penerapan mandatori biodiesel B50 akan meningkatkan kebutuhan CPO domestik hingga 4 juta ton, menekan ekspor sekitar 5 juta ton, dan berpotensi mengurangi nilai ekspor hingga Rp 190 triliun. Di sisi lain, tambahan subsidi yang dibutuhkan mencapai Rp 46,45 triliun, atau naik Rp 10–12 triliun dari skema sebelumnya.
Kenaikan mandatori biodiesel B50 juga berdampak pada harga domestik. Harga minyak goreng diperkirakan naik hingga 9% dan TBS naik sekitar Rp618 per kilogram akibat meningkatnya permintaan bahan baku biodiesel. Namun, lonjakan subsidi untuk menjaga keekonomian program akan menjadi beban fiskal besar. Jika tarif pungutan ekspor CPO dinaikkan dari 10% menjadi 15,17%, harga TBS di tingkat petani berpotensi tertekan hingga Rp1.725 per kilogram.
Baca Juga: PP Nomor 45/2025 Terbit, Ketua Aspekpir: Petani Sawit Bisa Bangkrut
Dampak terberat akan dirasakan petani swadaya yang memiliki posisi tawar lemah dalam rantai pasok sawit. Terkait hasil riset diatas, Pranata UI merekomendasikan agar seluruh pemangku kepentingan mempertimbangkan seksama kapasitas produksi sawit nasional, daya saing ekspor, dan kesejahteraan petani agar manfaat program ini terasakan secara menyeluruh.
Lebih jauh, Bayu Krisnamurthi menilai kondisi industri sawit Indonesia saat ini tengah lesu. Dimana, daya saing sawit Indonesia di pasar global juga semakin tergerus. Harga CPO saat ini sekitar USD 300 lebih mahal dari minyak kedelai, sementara negara-negara konsumen mulai mencari alternatif pengganti sawit.
Dalam analisisnya, penerapan mandatori biodiesel B50 akan meningkatkan kebutuhan CPO domestik hingga 4 juta ton, menekan ekspor sekitar 5 juta ton, dan berpotensi mengurangi nilai ekspor hingga Rp 190 triliun. Di sisi lain, tambahan subsidi yang dibutuhkan mencapai Rp 46,45 triliun, atau naik Rp 10–12 triliun dari skema sebelumnya.
Lihat Juga :