Tanpa Perhitungan Matang, Kebijakan B50 Berpotensi Mematikan Sawit Nasional
Senin, 20 Oktober 2025 - 09:29 WIB
loading...
A
A
A
Meskipun ada potensi penghematan impor solar sekitar Rp 172 triliun, Bayu memperkirakan Indonesia tetap mengalami kehilangan devisa sekitar Rp 18 triliun. Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan ini akan memicu kenaikan harga minyak goreng dan TBS. Harga CPO dunia diperkirakan dapat naik hingga USD 150 per ton, dan harga TBS naik sementara Rp 600 per kilogram, namun dapat anjlok hingga Rp 1.700 per kilogram jika subsidi habis dan pungutan ekspor dinaikkan. Kenaikan harga minyak goreng diperkirakan mencapai Rp 1.900 per liter.
Bayu meragukan urgensi peningkatan porsi biodiesel di tengah tren global menuju teknologi otomotif dan pembangkit non-mesin bakar. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak lagi sejalan dengan arah perkembangan energi dunia. Bayu mengaku sependapat dengan hasil riset yang mendorong agar kebijakan biodiesel dirancang lebih adaptif dan didasarkan pada data yang kuat. “Kita perlu keseimbangan antara target energi, ekspor, dan kesejahteraan petani. Sawit Indonesia ini luar biasa kuat, tidak mungkin kalah, kecuali kalau kita sendiri yang membuatnya kalah,” tandas Bayu yang juga mantan Wakil Menteri Perdagangan itu.
Adapun, Komisioner KPPU dan Peneliti Sawit Dr. Eugenia Mardanugraha menambahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan mandatori biodiesel dari B40 ke B50 secara signifikan mendorong kenaikan harga CPO internasional sebesar USD 159,32 per metrik ton. Peningkatan harga tersebut membuat sawit kehilangan daya saing terhadap minyak nabati lain, seperti kedelai dan bunga matahari.
"Harga CPO yang kerap melampaui minyak nabati pesaing, bahkan hingga lebih dari USD 100 per ton, mengikis posisi sawit sebagai minyak nabati termurah di dunia. Akibatnya, importir besar seperti India mulai mengalihkan permintaan ke komoditas alternatif yang lebih murah dan stabil, sehingga memperdalam kontraksi ekspor Indonesia pada periode berikutnya," paparnya.
Karena itu, meski produsen terbesar, Indonesia berisiko kehilangan sebagian keuntungan dagang dan kendali harga global akibat kebijakan biodiesel yang rigid dan kurang adaptif terhadap dinamika pasar internasional.
Bayu meragukan urgensi peningkatan porsi biodiesel di tengah tren global menuju teknologi otomotif dan pembangkit non-mesin bakar. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak lagi sejalan dengan arah perkembangan energi dunia. Bayu mengaku sependapat dengan hasil riset yang mendorong agar kebijakan biodiesel dirancang lebih adaptif dan didasarkan pada data yang kuat. “Kita perlu keseimbangan antara target energi, ekspor, dan kesejahteraan petani. Sawit Indonesia ini luar biasa kuat, tidak mungkin kalah, kecuali kalau kita sendiri yang membuatnya kalah,” tandas Bayu yang juga mantan Wakil Menteri Perdagangan itu.
Adapun, Komisioner KPPU dan Peneliti Sawit Dr. Eugenia Mardanugraha menambahkan hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan mandatori biodiesel dari B40 ke B50 secara signifikan mendorong kenaikan harga CPO internasional sebesar USD 159,32 per metrik ton. Peningkatan harga tersebut membuat sawit kehilangan daya saing terhadap minyak nabati lain, seperti kedelai dan bunga matahari.
"Harga CPO yang kerap melampaui minyak nabati pesaing, bahkan hingga lebih dari USD 100 per ton, mengikis posisi sawit sebagai minyak nabati termurah di dunia. Akibatnya, importir besar seperti India mulai mengalihkan permintaan ke komoditas alternatif yang lebih murah dan stabil, sehingga memperdalam kontraksi ekspor Indonesia pada periode berikutnya," paparnya.
Karena itu, meski produsen terbesar, Indonesia berisiko kehilangan sebagian keuntungan dagang dan kendali harga global akibat kebijakan biodiesel yang rigid dan kurang adaptif terhadap dinamika pasar internasional.
(nng)
Lihat Juga :