Pertamina SAF Forum 2025: Dekarbonisasi Penerbangan Butuh Keterlibatan Seluruh Industri
Senin, 20 Oktober 2025 - 15:26 WIB
loading...
Diskusi panel bertajuk Sustainability: Indonesia’s Emission Reduction Ambition and the Benefits of SAF pada Pertamina SAF Forum 2025. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Dekarbonisasi sektor penerbangan melalui pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) membutuhkan keterlibatan seluruh industri. Hal ini terungkap dalam diskusi panel bertajuk "Sustainability: Indonesia’s Emission Reduction Ambition and the Benefits of SAF" pada Pertamina SAF Forum 2025, yang digelar di Jakarta, Kamis (16/10) lalu.
Forum yang diselenggarakan Pertamina Patra Niaga tersebut melibatkan pembicara lintas sektor, antara lain Country Manager Indonesia Cathay Pacific Airways Tony Sham, CEO Qualitas Sertifikasi Indonesia Ryanza Prasetya, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Sokhib Al Rokhman, serta Senior Managing Director Boeing Malcom An.
Dalam diskusi tersebut, Malcom An dari Boeing menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi di sektor penerbangan membutuhkan pendekatan yang melibatkan seluruh industri. Boeing sendiri, ujar dia, terus berupaya mewujudkan penerbangan yang lebih berkelanjutan melalui pesawat yang lebih baru dan efisien, energi yang lebih bersih, serta teknologi canggih.
Sementara, Tony Sham dari Cathay Pacific menyoroti pentingnya ekosistem dan kebijakan pendukung adopsi SAF di Asia. "Cathay Pacific menargetkan 10% pemakaian pada 2030, sementara pada tahun 2024 saja Cathay Pacific telah menggunakan 6.884 KL SAF," ungkapnya dalam keterangan pers, Senin (20/10/2025).
Baca Juga: Satu Tahun Prabowo-Gibran: Menantang Badai, Membawa Energi hingga Pelosok Negeri
Dia menambahkan, Indonesia berpotensi menjadi pemasok strategis SAF berbasis minyak jelantah bila tantangan ketersediaan dan harga dapat diatasi melalui kolaborasi lintas pelaku.
Hal senada dikatakan Malcom An yang menilai minat untuk mengubah minyak jelantah dan limbah pertanian menjadi SAF di kawasan Asia Tenggara terus meningkat. "Kawasan ini memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sendiri, bahkan berpotensi memproduksi lebih untuk diekspor," ujarnya.
Sejalan dengan itu, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Sokhib Al Rokhman menegaskan bahwa pemerintah tengah memperkuat kebijakan untuk mempercepat penggunaan SAF yang selaras dengan roadmap dan standard internasional.
"Roadmap SAF, mekanisme MRV oleh operator, serta regulasi penerapan skema CORSIA telah disiapkan. Dengan sertifikasi sesuai ketentuan Ditjen Migas dan ICAO CORSIA, dan insentif yang proporsional, adopsi SAF di dalam negeri dapat dipercepat," tuturnya.
Dari sisi sertifikasi, CEO Qualitas Sertifikasi Indonesia, Ryanza Prasetya menegaskan pentingnya International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) CORSIA dalam menjaga integritas dan keberlanjutan rantai pasok SAF. "Sertifikasi ini memastikan asal bahan baku, perhitungan emisi, dan ketelusuran di setiap tahap produksi berjalan transparan dan sesuai standar global," katanya.
Sementara, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyampaikan bahwa penyelenggaraan Pertamina SAF Forum 2025 menunjukkan komitmen perusahaan dalam pengembangan energi bersih bagi industri penerbangan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Perkuat Kolaborasi Industri Aviasi dalam Penggunaan SAF
Forum ini, tegas dia, menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi dan menegaskan kesiapan teknis Indonesia dalam menghadirkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang kompetitif dan berstandar global.
"Pertamina Group sendiri telah memanfaatkan minyak jelantah menjadi SAF melalui ekosistem SAF terintegrasi dari pengumpulan, pengolahan, hingga distribusi. Upaya ini tak hanya menekan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi sirkular bagi masyarakat dan mempercepat transisi menuju energi bersih," jelasnya.
Forum yang diselenggarakan Pertamina Patra Niaga tersebut melibatkan pembicara lintas sektor, antara lain Country Manager Indonesia Cathay Pacific Airways Tony Sham, CEO Qualitas Sertifikasi Indonesia Ryanza Prasetya, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Sokhib Al Rokhman, serta Senior Managing Director Boeing Malcom An.
Dalam diskusi tersebut, Malcom An dari Boeing menegaskan bahwa upaya dekarbonisasi di sektor penerbangan membutuhkan pendekatan yang melibatkan seluruh industri. Boeing sendiri, ujar dia, terus berupaya mewujudkan penerbangan yang lebih berkelanjutan melalui pesawat yang lebih baru dan efisien, energi yang lebih bersih, serta teknologi canggih.
Sementara, Tony Sham dari Cathay Pacific menyoroti pentingnya ekosistem dan kebijakan pendukung adopsi SAF di Asia. "Cathay Pacific menargetkan 10% pemakaian pada 2030, sementara pada tahun 2024 saja Cathay Pacific telah menggunakan 6.884 KL SAF," ungkapnya dalam keterangan pers, Senin (20/10/2025).
Baca Juga: Satu Tahun Prabowo-Gibran: Menantang Badai, Membawa Energi hingga Pelosok Negeri
Dia menambahkan, Indonesia berpotensi menjadi pemasok strategis SAF berbasis minyak jelantah bila tantangan ketersediaan dan harga dapat diatasi melalui kolaborasi lintas pelaku.
Hal senada dikatakan Malcom An yang menilai minat untuk mengubah minyak jelantah dan limbah pertanian menjadi SAF di kawasan Asia Tenggara terus meningkat. "Kawasan ini memiliki sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sendiri, bahkan berpotensi memproduksi lebih untuk diekspor," ujarnya.
Sejalan dengan itu, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Kementerian Perhubungan Sokhib Al Rokhman menegaskan bahwa pemerintah tengah memperkuat kebijakan untuk mempercepat penggunaan SAF yang selaras dengan roadmap dan standard internasional.
"Roadmap SAF, mekanisme MRV oleh operator, serta regulasi penerapan skema CORSIA telah disiapkan. Dengan sertifikasi sesuai ketentuan Ditjen Migas dan ICAO CORSIA, dan insentif yang proporsional, adopsi SAF di dalam negeri dapat dipercepat," tuturnya.
Dari sisi sertifikasi, CEO Qualitas Sertifikasi Indonesia, Ryanza Prasetya menegaskan pentingnya International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) CORSIA dalam menjaga integritas dan keberlanjutan rantai pasok SAF. "Sertifikasi ini memastikan asal bahan baku, perhitungan emisi, dan ketelusuran di setiap tahap produksi berjalan transparan dan sesuai standar global," katanya.
Sementara, Direktur Utama Pertamina Patra Niaga Mars Ega Legowo Putra menyampaikan bahwa penyelenggaraan Pertamina SAF Forum 2025 menunjukkan komitmen perusahaan dalam pengembangan energi bersih bagi industri penerbangan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Perkuat Kolaborasi Industri Aviasi dalam Penggunaan SAF
Forum ini, tegas dia, menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi dan menegaskan kesiapan teknis Indonesia dalam menghadirkan bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang kompetitif dan berstandar global.
"Pertamina Group sendiri telah memanfaatkan minyak jelantah menjadi SAF melalui ekosistem SAF terintegrasi dari pengumpulan, pengolahan, hingga distribusi. Upaya ini tak hanya menekan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi sirkular bagi masyarakat dan mempercepat transisi menuju energi bersih," jelasnya.
(nng)
Lihat Juga :