NICL Jaga Momentum Pertumbuhan, Laba Bersih Meroket di Kuartal III/2025
Senin, 03 November 2025 - 15:29 WIB
loading...
A
A
A
Faktor regulasi tersebut menjadi penentu utama keberlangsungan operasional dan arus kas perusahaan. Perseroan aktif mengikuti agenda sosialisasi pembaruan sistem administrasi di kementerian terkait guna mempercepat proses persetujuan dokumen teknis yang dibutuhkan.
Di sisi lain, ketergantungan penuh terhadap smelter sebagai price taker turut membatasi posisi tawar, khususnya bagi perusahaan berskala menengah dan kecil, yang kerap harus menerima harga di bawah Harga Patokan Mineral (HPM) serta memenuhi persyaratan spesifikasi bijih nikel yang sangat ketat.
Baca Juga: Harga Nikel Naik Turun, NICL Menjaga Pertumbuhan Laba Bersih
Dalam menghadapi dinamika tersebut, Perseroan berkomitmen untuk memenuhi keseluruhan kuota RKAB tahun 2025 yang telah diperoleh sambil menunggu proses persetujuan RKAB tahun 2026. Komitmen ini dijalankan dengan tetap memperhatikan aspek tata kelola yang baik dan standar keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance/ESG) sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha.
Hingga akhir tahun 2025, Perseroan menargetkan produksi gabungan sebesar 2,6 juta ton ore seiring pelaksanaan program pengeboran lanjutan guna menambah cadangan sumber daya. Dalam menghadapi dinamika pasar domestik, Perseroan berkomitmen meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat pengendalian mutu melalui penerapan prosedur QAQC yang lebih ketat serta investasi pada peralatan analisa berteknologi tinggi untuk meminimalkan potensi kesalahan dan deviasi terhadap spesifikasi produk pabrik.
Selain itu, Perseroan memperluas kerja sama strategis dengan smelter dan trader di wilayah Sulawesi, Pulau Obi, dan Halmahera. Langkah ini didukung oleh penguatan kemitraan jangka panjang yang bertujuan memperkokoh posisi pasar, mempercepat distribusi, serta menjaga stabilitas penjualan di tengah fluktuasi harga nikel global.
Di sisi lain, ketergantungan penuh terhadap smelter sebagai price taker turut membatasi posisi tawar, khususnya bagi perusahaan berskala menengah dan kecil, yang kerap harus menerima harga di bawah Harga Patokan Mineral (HPM) serta memenuhi persyaratan spesifikasi bijih nikel yang sangat ketat.
Baca Juga: Harga Nikel Naik Turun, NICL Menjaga Pertumbuhan Laba Bersih
Dalam menghadapi dinamika tersebut, Perseroan berkomitmen untuk memenuhi keseluruhan kuota RKAB tahun 2025 yang telah diperoleh sambil menunggu proses persetujuan RKAB tahun 2026. Komitmen ini dijalankan dengan tetap memperhatikan aspek tata kelola yang baik dan standar keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance/ESG) sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha.
Hingga akhir tahun 2025, Perseroan menargetkan produksi gabungan sebesar 2,6 juta ton ore seiring pelaksanaan program pengeboran lanjutan guna menambah cadangan sumber daya. Dalam menghadapi dinamika pasar domestik, Perseroan berkomitmen meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat pengendalian mutu melalui penerapan prosedur QAQC yang lebih ketat serta investasi pada peralatan analisa berteknologi tinggi untuk meminimalkan potensi kesalahan dan deviasi terhadap spesifikasi produk pabrik.
Selain itu, Perseroan memperluas kerja sama strategis dengan smelter dan trader di wilayah Sulawesi, Pulau Obi, dan Halmahera. Langkah ini didukung oleh penguatan kemitraan jangka panjang yang bertujuan memperkokoh posisi pasar, mempercepat distribusi, serta menjaga stabilitas penjualan di tengah fluktuasi harga nikel global.
(akr)
Lihat Juga :