Ancaman Penipuan Berbasis AI Deepfake Marak, Nasabah Bank Diminta Jangan Kasih Celah

Rabu, 05 November 2025 - 23:54 WIB
loading...
Ancaman Penipuan Berbasis...
Salah satu kejahatan siber yang menjadi fokus perhatian adalah kejahatan siber yang menggunakan teknologi AI, seperti melalui penggunaan teknik deepfake yang dapat mengelabui nasabah. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Danamon mengajak seluruh nasabah dan masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan terhadap teknik penipuan siber yang menggunakan teknologi kecerdasan kecerdasan buatan (AI) . Agar tidak terjebak dalam penipuan yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dengan teknik deepfake yang mampu meniru wajah dan suara seseorang secara sangat realistis, Danamon menggalakkan kampanyenya #JanganKasihCelah.

Edukasi melalui kampanye #JanganKasihCelah penting agar nasabah terhindar dari kerugian akibat penipuan di jagat maya. Chief Digital Officer Danamon, Andreas Kurniawan menjelaskan, pihaknya melihat fenomena penipuan berbasis siber ini sebagai tantangan serius yang harus dihadapi bersama.

Oleh karena itu, lanjut dia, Danamon menyelenggarakan kampanye edukasi #JanganKasihCelah yang bertujuan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat terhadap berbagai bentuk penipuan, serta terus dapat memperbarui wawasan mereka akan trend modus yang bermunculan.

Baca Juga: 3 Modus Penipuan Keuangan Berbasis AI, Masyarakat Diimbau Waspada

Salah satu kejahatan siber yang menjadi fokus perhatian adalah kejahatan siber yang menggunakan teknologi AI, seperti melalui penggunaan teknik deepfake yang dapat mengelabui nasabah. "Kampanye #JanganKasihCelah ini menjadi bagian dari upaya Danamon untuk melindungi nasabah dari ragam potensi kerugian yang dapat terjadi akibat penipuan tersebut,” Andreas Kurniawan, Selasa (4/11).

Teknologi AI awalnya dikembangkan untuk membantu masyarakat dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya. Contohnya pemanfaatan AI generatif untuk tujuan kreatif, seperti pembuatan konten hiburan dan seni digital. Namun, seiring dengan kemudahan akses dan peningkatan kemampuan teknologi ini, banyak pihak yang menyalahgunakannya untuk kejahatan siber.

Di antaranya, pelaku penipuan menggunakan teknik deepfake , yaitu sebuah teknik manipulasi video dan audio yang dapat meniru karakteristik visual (seperti wajah) dan suara dari orang lain dengan menyerupai dan sulit untuk dibedakan dari aslinya, sehingga mampu mengelabui korban untuk memberikan data pribadi rahasia seperti Kode OTP, Kode CVV / CVC, PIN dan masa berlaku Kartu Debit/Kredit/ Charge Danamon.

Modus operandi kejahatan ini sering dilakukan dengan melakukan panggilan suara (voice call) atau panggilan video (video call) kepada nasabah dengan mengaku sebagai pejabat bank dengan tampilan yang tampak asli dan meyakinkan.

Menurut laporan Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kasus penipuan dengan teknik deepfake mengalami peningkatan seiring kemampuan dan aksesibilitas AI generatif yang meningkat.

Disebutkan juga bahwa antara kuartal pertama 2023 dan kuartal pertama 2024, terjadi lonjakan sebesar 223% dalam perdagangan perangkat pembuat deepfake di forum dark web. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi ini semakin mudah diakses dan digunakan oleh pelaku kejahatan siber, seringkali tanpa deteksi.

Ancaman ini tidak hanya berdampak pada individu atau perusahaan tertentu, tetapi juga dapat mengganggu kepercayaan masyarakat terhadap sistem finansial secara keseluruhan.

“Saat ini, sudah banyak pemanfaatan teknologi AI untuk tujuan positif. Di sisi lain, sudah ada pelaku kejahatan siber yang memanfaatkan AI untuk mendapatkan keuntungan melalui tindak kriminal, seperti penggunaan teknik deepfake dengan tujuan mengelabui korban," ujar Kurniawan.

Menurut dia, apabila tidak menyadari bentuk kejahatan ini, korban akan dengan mudah dihubungi oleh pelaku kejahatan, dikelabui, dan memberikan data rahasia yang akan dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang merugikan.

"Untuk itu, penting bagi masyarakat mengetahui skema-skema yang mungkin digunakan penipu, seraya mengingatkan nasabah dan masyarakat untuk tidak sembarang memberikan Kode OTP, Kode CVV / CVC, PIN dan masa berlaku Kartu Debit / Kredit/Charge Danamon kepada orang yang tidak bisa terverifikasi, termasuk yang mengaku sebagai perwakilan pihak perbankan,” imbaunya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pelaku dapat berpura-pura menjadi anggota keluarga yang sedang dalam keadaan darurat dan membutuhkan bantuan dana. Bisa juga pura-pura sebagai selebritas yang menawarkan hadiah palsu, atau bahkan sebagai petugas bank yang meminta informasi pribadi rahasia.

Dengan suara dan wajah yang sangat mirip dengan aslinya, korban seringkali terjebak dan memberikan informasi penting yang kemudian disalahgunakan untuk melakukan transaksi ilegal. Melalui kampanye edukasi #JanganKasihCelah, Danamon mengingatkan nasabah untuk selalu berhati-hati dan melakukan verifikasi terhadap setiap panggilan atau permintaan informasi yang diterima.

Baca Juga: Yuk Pahami Modus Kejahatan Perbankan yang Kian Marak

Untuk terhindar dari penipuan menggunakan teknik deepfake, nasabah dianjurkan untuk memeriksa nomor telepon yang menghubungi dan mengabaikan panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Jika nasabah Danamon merasa telah menjadi korban atau telah memberikan data rahasia kepada pihak yang tidak bertanggung jawab, nasabah diimbau untuk segera mengganti kata sandi (password) dan PIN akun perbankan.

Selain itu, nasabah dapat memblokir sementara atau permanen Kartu Transaksi melalui aplikasi D-Bank PRO atau menghubungi layanan Hello Danamon di 1-500-090. Langkah cepat ini sangat penting untuk mencegah kerugian finansial yang lebih besar.

“Kami mengajak seluruh nasabah dan masyarakat untuk bersama-sama meningkatkan kewaspadaan, tidak mudah percaya pada informasi yang tidak terverifikasi, serta selalu menggunakan saluran komunikasi resmi dalam berinteraksi dengan pihak bank,” tutupnya.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tips MotionTrade: Jangan...
Tips MotionTrade: Jangan Bagikan Kode OTP, Lindungi Keamanan Akun Investasi Anda!
IFG Life Bayarkan Klaim...
IFG Life Bayarkan Klaim Asuransi Kredit Nasabah Bank Sulselbar
Nasabah MNC Bank Apresiasi...
Nasabah MNC Bank Apresiasi Program Tabungan Dahsyat Berhadiah
Menang Undian Tabungan...
Menang Undian Tabungan Dahsyat MNC Bank, Nasabah Manfaatkan untuk Kuliah Anak
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Dorong Pensiunan Tetap Produktif dan Sejahtera
Dirut BRI Hery Gunardi:...
Dirut BRI Hery Gunardi: Adopsi AI Jadi Kunci Perbankan Pertahankan Nasabah
Marak Tuntutan Tebusan,...
Marak Tuntutan Tebusan, Serangan Pelumpuhan Website di Indonesia Melonjak 62%
Zentara Perusahaan Keamanan...
Zentara Perusahaan Keamanan Siber di Indonesia Raih Sertifikasi Sistem Manajemen AI
Nurul Arifin Sebut Akun...
Nurul Arifin Sebut Akun Medsos Wajib Pakai Nomor HP Bisa Jadi Tameng Indonesia Lawan Kejahatan Siber
Rekomendasi
Mengejutkan, 92% Warga...
Mengejutkan, 92% Warga Israel Yakin Iran Telah Menang Perang
Kawin Silang JLR dan...
Kawin Silang JLR dan Chery: Freelander 8 Lahir, Eropa Ketar-ketir!
Seruan Masyayikh NU...
Seruan Masyayikh NU di Ponpes Al Falah Ploso Redam Ketegangan di PBNU
Berita Terkini
Rosan Lapor Prabowo...
Rosan Lapor Prabowo soal Perampingan 258 BUMN, 300 Pelat Merah Lain Menyusul
Pergantian Direksi Disorot,...
Pergantian Direksi Disorot, Mampukah Kejayaan Pelni Kembali?
IHSG Menghijau di Awal...
IHSG Menghijau di Awal Pekan, Pagi Ini Sentuh Level 6.217
Harga Emas Malas Bergerak...
Harga Emas Malas Bergerak di Posisi Rp2.668.000 per Gram, Intip Daftar Lengkapnya
Dibayangi Outflow Rp4,5...
Dibayangi Outflow Rp4,5 Triliun, IHSG Pekan Ini Diprediksi Bergerak Fluktuatif
Spesial, Investor Patriot...
Spesial, Investor Patriot Bond Dilindungi dari Tuntutan Pidana hingga Pajak
Infografis
3 Ancaman Terbesar Militer...
3 Ancaman Terbesar Militer AS, Paling Utama Adalah China
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved