Indonesia Mobilisasi Rp128,5 Triliun per Tahun dari Pasar Karbon
Jum'at, 07 November 2025 - 18:31 WIB
loading...
Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah mengumumkan keberhasilan mobilisasi investasi lintas sektor hingga USD7,7 miliar atau sekitar Rp128,5 triliun per tahun melalui skema pasar karbon, sebuah sinyal kuat bagi para investor global.
Baca Juga: Sandiaga Uno: Asia Bisa Ubah Risiko Iklim Jadi Peluang Ekonomi
Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH melaporkan, pilar utama dari strategi ini adalah Peraturan Presiden tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Regulasi ini menjadi landasan bagi pembiayaan proyek-proyek rendah emisi, menciptakan ekosistem ekonomi hijau yang menguntungkan.
Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa transformasi menuju ekonomi hijau adalah sebuah keniscayaan yang profitabel. "COP30 menjadi momentum untuk membuktikan bahwa pembangunan hijau tidak hanya mungkin, tetapi juga menguntungkan," ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat (7/11/2025).
Baca Juga: Para Pemimpin Negara AZEC Deklarasi Komitmen Transisi Energi Berkeadilan
Langkah tersebut didukung oleh penghentian investasi pada pembangkit batu bara baru sejak 2023 dan percepatan penutupan PLTU lama. Kebijakan tersebut secara langsung mengalihkan fokus investasi ke sektor energi terbarukan, yang ditargetkan mencapai 23% dari bauran energi nasional pada 2030.
Indonesia dengan adanya kepastian hukum dan komitmen politik yang kuat, kini menjadi destinasi menarik bagi modal yang mencari pertumbuhan berkelanjutan, mulai dari proyek energi bersih, restorasi ekosistem, hingga teknologi pengelolaan limbah modern.
Baca Juga: Sandiaga Uno: Asia Bisa Ubah Risiko Iklim Jadi Peluang Ekonomi
Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH melaporkan, pilar utama dari strategi ini adalah Peraturan Presiden tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Regulasi ini menjadi landasan bagi pembiayaan proyek-proyek rendah emisi, menciptakan ekosistem ekonomi hijau yang menguntungkan.
Menteri LH/Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa transformasi menuju ekonomi hijau adalah sebuah keniscayaan yang profitabel. "COP30 menjadi momentum untuk membuktikan bahwa pembangunan hijau tidak hanya mungkin, tetapi juga menguntungkan," ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat (7/11/2025).
Baca Juga: Para Pemimpin Negara AZEC Deklarasi Komitmen Transisi Energi Berkeadilan
Langkah tersebut didukung oleh penghentian investasi pada pembangkit batu bara baru sejak 2023 dan percepatan penutupan PLTU lama. Kebijakan tersebut secara langsung mengalihkan fokus investasi ke sektor energi terbarukan, yang ditargetkan mencapai 23% dari bauran energi nasional pada 2030.
Indonesia dengan adanya kepastian hukum dan komitmen politik yang kuat, kini menjadi destinasi menarik bagi modal yang mencari pertumbuhan berkelanjutan, mulai dari proyek energi bersih, restorasi ekosistem, hingga teknologi pengelolaan limbah modern.
(nng)
Lihat Juga :