Ekonomi Tumbuh Stabil Jelang Akhir 2025 Cerminan Perbaikan Aktivitas Investasi, hingga Konsumsi
Selasa, 18 November 2025 - 20:00 WIB
loading...
Capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04% pada kuartal III 2025 sejalan dengan ekspektasi pelaku usaha yang mencerminkan adanya perbaikan aktivitas industri dan investasi di dalam negeri. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Capaian pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04% pada kuartal III 2025 sejalan dengan ekspektasi pelaku usaha. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menjelaskan, pertumbuhan ekonomi yang stabil di atas 5% mencerminkan adanya perbaikan aktivitas industri dan investasi di dalam negeri.
"Pas dong prediksi saya, saya bilang sedikit di atas 5%. Jadi saya rasa memang sudah sesuai dengan kondisi yang kami perkirakan," ujar Shinta saat ditemui usai acara Economic Outlook 2026 di Jakarta.
Ia mengaitkan hal ini dengan data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang menunjukkan tren positif serta pencapaian target investasi hingga kuartal III tahun ini. Baca Juga: BPS: Jawa dan Sulawesi Tumbuh di Atas Ekonomi Nasional
Pada kesempatan itu, Shinta mengatakan saat ini terjadi fenomena perubahan struktur pertumbuhan ekonomi, mesin penggerak ekonomi kini tidak lagi bertumpu pada sektor manufaktur padat karya, melainkan semakin bergeser ke sektor jasa dan industri padat modal.
Dijelaskan juga bahwa, kontribusi tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi saat ini datang dari sektor tersier. Sementara sektor Jasa lainnya tumbuh 11,3%, jasa perusahaan 9,3%, dan transportasi serta pergudangan 8,5%.
Shinta mengatakan, pola ini juga tercermin dari arus investasi. Investasi asing langsung (FDI) masih terkonsentrasi pada mesin dan peralatan dengan porsi 28,8%, diikuti sektor pertambangan sebesar 10%. Menurutnya, hal ini menandakan fokus yang kuat pada industri berbasis sumber daya dan rantai pasok industri berat.
"Kalau kita lihat dari segi manufaktur nonmigas, polanya juga konsisten. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada mesin dan peralatan serta logam. Sementara sektor padat karya seperti tekstil hanya tumbuh 4,3%, dan furniture bahkan mengalami kontraksi," jelasnya.
Meski demikian, Shinta menekankan bahwa pemerintah perlu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi pada kuartal IV agar target pertumbuhan tahunan sebesar 5,2% bisa mencapai target Pemerintah. "Kalau mau dapat 5,2%, kita mesti tumbuh sekitar 5,8% di kuartal IV. Jadi sekarang kuncinya ada di kuartal IV yang mesti digenjot," tegasnya.
Menurutnya momentum akhir tahun biasanya memberikan dorongan tambahan bagi aktivitas ekonomi, baik dari sisi konsumsi rumah tangga maupun belanja pemerintah. Namun Ia mengingatkan bahwa upaya mempercepat realisasi program dan investasi menjadi faktor penting untuk menjaga momentum tersebut.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud mengatakan, ekonomi Indonesia berdasarkan PDB pada kuartal III 2025 atas dasar harga berlaku Rp6.060 triliun, dan atas dasar harga konstan Rp3.444,8 triliun. "Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2025 bila dibandingkan triwulan III 2024 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,04 persen,” kata Edy dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Rabu (5/11).
Baca Juga: Ekonomi Kuartal III/2025 Tumbuh 5,04%, Airlangga: Masih On Track Capai Target
Ditegaskan bahwa motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025 masih ditopang oleh sisi pengeluaran domestik. "Sisi domestik kinerja ekonomi ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih terjaga," terang Edy.
Konsumsi masyarakat tercatat tumbuh 5,49% (yoy) dengan kontribusi sebesar 82,23% terhadap PDB. Indikator yang menopang konsumsi ini adalah pertumbuhan konsumsi per kapita jasa makanan & minuman (5,76% yoy) dan akomodasi (7,49% yoy).
Selain konsumsi masyarakat, kontribusi signifikan juga datang dari Ekspor yang mencatatkan pertumbuhan nyaris 10 persen, yakni 9,91% (yoy) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)/Investasi: Memberikan kontribusi terbesar kedua dengan pertumbuhan 5,04%. "PMTB tumbuh positif didorong oleh sub komponen mesin dan perlengkapan," pungkas Edy.
"Pas dong prediksi saya, saya bilang sedikit di atas 5%. Jadi saya rasa memang sudah sesuai dengan kondisi yang kami perkirakan," ujar Shinta saat ditemui usai acara Economic Outlook 2026 di Jakarta.
Ia mengaitkan hal ini dengan data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang menunjukkan tren positif serta pencapaian target investasi hingga kuartal III tahun ini. Baca Juga: BPS: Jawa dan Sulawesi Tumbuh di Atas Ekonomi Nasional
Pada kesempatan itu, Shinta mengatakan saat ini terjadi fenomena perubahan struktur pertumbuhan ekonomi, mesin penggerak ekonomi kini tidak lagi bertumpu pada sektor manufaktur padat karya, melainkan semakin bergeser ke sektor jasa dan industri padat modal.
Dijelaskan juga bahwa, kontribusi tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi saat ini datang dari sektor tersier. Sementara sektor Jasa lainnya tumbuh 11,3%, jasa perusahaan 9,3%, dan transportasi serta pergudangan 8,5%.
Shinta mengatakan, pola ini juga tercermin dari arus investasi. Investasi asing langsung (FDI) masih terkonsentrasi pada mesin dan peralatan dengan porsi 28,8%, diikuti sektor pertambangan sebesar 10%. Menurutnya, hal ini menandakan fokus yang kuat pada industri berbasis sumber daya dan rantai pasok industri berat.
"Kalau kita lihat dari segi manufaktur nonmigas, polanya juga konsisten. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada mesin dan peralatan serta logam. Sementara sektor padat karya seperti tekstil hanya tumbuh 4,3%, dan furniture bahkan mengalami kontraksi," jelasnya.
Meski demikian, Shinta menekankan bahwa pemerintah perlu mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi pada kuartal IV agar target pertumbuhan tahunan sebesar 5,2% bisa mencapai target Pemerintah. "Kalau mau dapat 5,2%, kita mesti tumbuh sekitar 5,8% di kuartal IV. Jadi sekarang kuncinya ada di kuartal IV yang mesti digenjot," tegasnya.
Menurutnya momentum akhir tahun biasanya memberikan dorongan tambahan bagi aktivitas ekonomi, baik dari sisi konsumsi rumah tangga maupun belanja pemerintah. Namun Ia mengingatkan bahwa upaya mempercepat realisasi program dan investasi menjadi faktor penting untuk menjaga momentum tersebut.
Konsumsi Nanjak Terus
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III 2025 berdasarkan produk domestik bruto (PDB) tumbuh sebesar 5,04% (yoy). Angka ini lebih rendah dari 5,12% di kuartal II 2025.Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud mengatakan, ekonomi Indonesia berdasarkan PDB pada kuartal III 2025 atas dasar harga berlaku Rp6.060 triliun, dan atas dasar harga konstan Rp3.444,8 triliun. "Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III 2025 bila dibandingkan triwulan III 2024 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,04 persen,” kata Edy dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Rabu (5/11).
Baca Juga: Ekonomi Kuartal III/2025 Tumbuh 5,04%, Airlangga: Masih On Track Capai Target
Ditegaskan bahwa motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2025 masih ditopang oleh sisi pengeluaran domestik. "Sisi domestik kinerja ekonomi ditopang oleh konsumsi masyarakat yang masih terjaga," terang Edy.
Konsumsi masyarakat tercatat tumbuh 5,49% (yoy) dengan kontribusi sebesar 82,23% terhadap PDB. Indikator yang menopang konsumsi ini adalah pertumbuhan konsumsi per kapita jasa makanan & minuman (5,76% yoy) dan akomodasi (7,49% yoy).
Selain konsumsi masyarakat, kontribusi signifikan juga datang dari Ekspor yang mencatatkan pertumbuhan nyaris 10 persen, yakni 9,91% (yoy) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)/Investasi: Memberikan kontribusi terbesar kedua dengan pertumbuhan 5,04%. "PMTB tumbuh positif didorong oleh sub komponen mesin dan perlengkapan," pungkas Edy.
(akr)
Lihat Juga :