Ramalan Miliarder Ray Dalio: Emas dan Bitcoin Bakal Melesat Sebelum Krisis Baru Meledak
Senin, 10 November 2025 - 14:55 WIB
loading...
A
A
A
Per 1 Desember 2025, pengetatan dihentikan The Fed dan mempertahankan neraca senilai USD6,5 triliun. Pendapatan dari surat berharga agensi akan dialihkan ke pembelian obligasi pemerintah AS (Treasury bills), bukan lagi ke sekuritas berbasis hipotek.
“Jika dulu stimulus diberikan untuk menyelamatkan pasar dari krisis, kali ini stimulus justru dilakukan di tengah gelembung,” kata Dalio.
Ia bahkan menilai saham-saham teknologi berbasis AI sudah memasuki wilayah gelembung berdasarkan indikator internal Bridgewater.
"Jika (langkah pelonggaran) itu terjadi saat kredit swasta dan penciptaan modal masih kuat, saham mencapai level tertinggi, pengangguran rendah, inflasi di atas target, dan saham AI berada dalam gelembung... maka bagi saya itu akan terlihat seperti The Fed sedang merangsang ke dalam gelembung," tegasnya.
Risiko Monetisasi Utang Pemerintah
Dalio menyoroti risiko terbesar dari interaksi antara kebijakan moneter dan fiskal. Jika The Fed memperluas neraca (melakukan QE) di saat defisit fiskal pemerintah AS sangat besar dan suku bunga dipotong, ia melihat ini sebagai: "Interaksi moneter dan fiskal klasik antara Fed dan Treasury untuk monetisasi utang pemerintah."
Fenomena ini, di mana bank sentral pada dasarnya "mencetak uang" untuk membeli obligasi di tengah pasokan utang Treasury yang melimpah, merupakan dinamika fase akhir yang klasik dari Siklus Utang Besar.Secara mekanis, Dalio menjelaskan bahwa pembelian obligasi oleh The Fed menciptakan likuiditas dan menekan suku bunga riil. Apa yang terjadi selanjutnya tergantung pada ke mana likuiditas mengalir:
Jika ke Aset Keuangan: Likuiditas akan mendorong harga aset naik, menurunkan imbal hasil riil, dan meningkatkan P/E multiples (rasio harga terhadap laba). Ini berpotensi memicu "inflasi aset keuangan" yang memperlebar kesenjangan kekayaan.
Stimulus Memicu Gelembung
Ketika di masa lalu pelonggaran moneter dilakukan saat ekonomi melemah, inflasi rendah, dan valuasi aset jatuh. Dalio menekankan, saat ini justru sebaliknya: ekonomi AS tumbuh 2% per tahun, pengangguran hanya 4,3%, dan inflasi masih di atas target The Fed di kisaran 3%.“Jika dulu stimulus diberikan untuk menyelamatkan pasar dari krisis, kali ini stimulus justru dilakukan di tengah gelembung,” kata Dalio.
Ia bahkan menilai saham-saham teknologi berbasis AI sudah memasuki wilayah gelembung berdasarkan indikator internal Bridgewater.
"Jika (langkah pelonggaran) itu terjadi saat kredit swasta dan penciptaan modal masih kuat, saham mencapai level tertinggi, pengangguran rendah, inflasi di atas target, dan saham AI berada dalam gelembung... maka bagi saya itu akan terlihat seperti The Fed sedang merangsang ke dalam gelembung," tegasnya.
Risiko Monetisasi Utang Pemerintah
Dalio menyoroti risiko terbesar dari interaksi antara kebijakan moneter dan fiskal. Jika The Fed memperluas neraca (melakukan QE) di saat defisit fiskal pemerintah AS sangat besar dan suku bunga dipotong, ia melihat ini sebagai: "Interaksi moneter dan fiskal klasik antara Fed dan Treasury untuk monetisasi utang pemerintah."
Fenomena ini, di mana bank sentral pada dasarnya "mencetak uang" untuk membeli obligasi di tengah pasokan utang Treasury yang melimpah, merupakan dinamika fase akhir yang klasik dari Siklus Utang Besar.Secara mekanis, Dalio menjelaskan bahwa pembelian obligasi oleh The Fed menciptakan likuiditas dan menekan suku bunga riil. Apa yang terjadi selanjutnya tergantung pada ke mana likuiditas mengalir:
Jika ke Aset Keuangan: Likuiditas akan mendorong harga aset naik, menurunkan imbal hasil riil, dan meningkatkan P/E multiples (rasio harga terhadap laba). Ini berpotensi memicu "inflasi aset keuangan" yang memperlebar kesenjangan kekayaan.
Lihat Juga :