Penyandang Disabilitas Diberdayakan Melalui Digitalisasi Ekonomi Kreatif
Kamis, 13 November 2025 - 16:57 WIB
loading...
Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) memberdayakan penyandang disabilitas di Desa Toapaya, Kabupaten Bintan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) berhasil memberdayakan penyandang disabilitas di Desa Toapaya, Kabupaten Bintan, melalui program digitalisasi ekonomi kreatif. Kegiatan yang berlangsung selama Oktober 2025 ini bertujuan meningkatkan kemandirian dan inklusivitas ekonomi kelompok rentan tersebut.
Program bertajuk "Sinergi Asta Cita" ini diselenggarakan melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025. Rangkaian workshop intensif menggabungkan pelatihan keterampilan lokal dengan materi literasi digital yang disampaikan para dosen pakar UMRAH.
Ketua Tim Pengmas UMRAH, Ferdi Cahyadi, menjelaskan inisiatif ini didorong kebutuhan mendesak mewujudkan pembangunan inklusif. "Metode yang digunakan berfokus pada pelatihan ganda: asimilasi keterampilan lokal berupa workshop pembuatan miniatur rumah kelong dan sampan khas daerah kepulauan dengan narasumber seorang penggiat disabilitas yaitu bapak Hamsyah dan dilengkapi dengan peningkatan literasi digital, mencakup aspek kewirausahaan dan strategi bisnis digital," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (13/11/2025).
Baca Juga: Lebih dari Seribu Inovasi Lahir di SOBAT Competition 2025
Pelaksanaan kegiatan dirancang dengan pendekatan fleksibel. Sesi pertama pada 12 Oktober berfokus penguatan kapasitas manajerial dan literasi teknologi di Balai Desa Toapaya. Sesi kedua pada 18-19 Oktober berlangsung di kediaman Hamsyah, menyajikan pelatihan keterampilan pembuatan miniatur rumah kelong dan sampan dalam nuansa santai.
Menurut Hamsyah, penguasaan keterampilan kerajinan miniatur efektif memupuk semangat berkreasi. "Keterampilan ini menjaga penyandang disabilitas agar terus aktif serta produktif," katanya. Pendapat senada disampaikan Adi Pranadipa, S.Kom, yang mencatat kenaikan skor rata-rata peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang signifikan.
Baca Juga: Sambangi PUKA, Ketum Partai Perindo Angela Tanoesoedibjo Dukung Disabilitas Berkarya
Program ini menghasilkan tiga dampak utama: peningkatan kapabilitas, penguatan legalitas, dan transformasi produk. Melalui fasilitasi merek dagang 'Lidi Laut', produk kerajinan kini memiliki jaminan legalitas dan nilai jual lebih tinggi sebagai souvenir premium.
Keberhasilan program membuktikan sinergi keterampilan lokal dan penguasaan teknologi digital menjadi kunci pembangunan inklusif. Keberlanjutan program dan dukungan stakeholder diperlukan agar model pemberdayaan 'Asta Cita' dapat direplikasi untuk kontribusi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat berkeadilan.
Program bertajuk "Sinergi Asta Cita" ini diselenggarakan melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025. Rangkaian workshop intensif menggabungkan pelatihan keterampilan lokal dengan materi literasi digital yang disampaikan para dosen pakar UMRAH.
Ketua Tim Pengmas UMRAH, Ferdi Cahyadi, menjelaskan inisiatif ini didorong kebutuhan mendesak mewujudkan pembangunan inklusif. "Metode yang digunakan berfokus pada pelatihan ganda: asimilasi keterampilan lokal berupa workshop pembuatan miniatur rumah kelong dan sampan khas daerah kepulauan dengan narasumber seorang penggiat disabilitas yaitu bapak Hamsyah dan dilengkapi dengan peningkatan literasi digital, mencakup aspek kewirausahaan dan strategi bisnis digital," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (13/11/2025).
Baca Juga: Lebih dari Seribu Inovasi Lahir di SOBAT Competition 2025
Pelaksanaan kegiatan dirancang dengan pendekatan fleksibel. Sesi pertama pada 12 Oktober berfokus penguatan kapasitas manajerial dan literasi teknologi di Balai Desa Toapaya. Sesi kedua pada 18-19 Oktober berlangsung di kediaman Hamsyah, menyajikan pelatihan keterampilan pembuatan miniatur rumah kelong dan sampan dalam nuansa santai.
Menurut Hamsyah, penguasaan keterampilan kerajinan miniatur efektif memupuk semangat berkreasi. "Keterampilan ini menjaga penyandang disabilitas agar terus aktif serta produktif," katanya. Pendapat senada disampaikan Adi Pranadipa, S.Kom, yang mencatat kenaikan skor rata-rata peserta menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang signifikan.
Baca Juga: Sambangi PUKA, Ketum Partai Perindo Angela Tanoesoedibjo Dukung Disabilitas Berkarya
Program ini menghasilkan tiga dampak utama: peningkatan kapabilitas, penguatan legalitas, dan transformasi produk. Melalui fasilitasi merek dagang 'Lidi Laut', produk kerajinan kini memiliki jaminan legalitas dan nilai jual lebih tinggi sebagai souvenir premium.
Keberhasilan program membuktikan sinergi keterampilan lokal dan penguasaan teknologi digital menjadi kunci pembangunan inklusif. Keberlanjutan program dan dukungan stakeholder diperlukan agar model pemberdayaan 'Asta Cita' dapat direplikasi untuk kontribusi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat berkeadilan.
(nng)
Lihat Juga :