Dominasi BRICS Ancam Hegemoni Dolar AS, Harga Emas Diprediksi Tembus Rp75 Juta

Kamis, 13 November 2025 - 17:55 WIB
loading...
Dominasi BRICS Ancam...
Harga emas dunia diperkirakan terus menanjak dan berpotensi menembus level 4.500 dolar AS per ons troi. FOTO/iStock Photo
A A A
JAKARTA - Harga emas dunia diperkirakan terus menanjak dan berpotensi menembus level 4.500 dolar AS per ons troi, atau setara Rp75 juta per troi ons seiring meningkatnya pengaruh kelompok negara BRICS dalam sistem moneter global.

Para analis menilai, strategi akumulasi cadangan emas yang agresif serta pergeseran orientasi keuangan di antara negara-negara BRICS akan mengubah peta kekuatan ekonomi dunia yang selama ini dikuasai dolar Amerika Serikat.

Ekonom Jim O’Neill, pencetus istilah BRICS, menyebut pasar emas global kini tengah mengalami pergeseran struktural, dengan harga yang sudah bergerak di kisaran 4.000 dolar AS per ons atau Rp2.421.917 per gram. Ia menilai, kenaikan tajam ini dipicu oleh fenomena fear of missing out (FOMO) di kalangan investor ritel dan langkah diversifikasi strategis oleh sejumlah bank sentral dunia.

"Begitu rasa takut ketinggalan atau FOMO muncul, bahkan perkembangan kecil atau tak relevan pun bisa memperkuat euforia pasar. Pertanyaannya, apakah justifikasi seperti itu dapat bertahan terhadap pengujian pasar," ujar O’Neill dikutip dari Watcher Guru, Kamis (13/11/2025).

Baca Juga: Kilau Emas Kembali Lagi, Pagi Ini Harga Naik Rp29 Ribu per Gram

Ia juga mengingatkan potensi terjadinya gelembung (bubble) harga akibat antusiasme berlebihan terhadap emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Sementara, analis CIBC Capital Markets, Anita Soni, memproyeksikan harga emas mencapai 4.500 dolar AS per ons pada periode 2026–2027. Ia menilai prospek makroekonomi global masih kondusif bagi penguatan logam mulia tersebut.

"Kami memperkirakan ketidakpastian kebijakan tarif akan berlanjut, sementara ekonomi Amerika Serikat belum sepenuhnya merasakan dampak negatif dari kebijakan tarif terhadap daya beli konsumen," ujarnya.



Proyeksi serupa datang dari Goldman Sachs, yang menaikkan target harga emas hingga 4.900 dolar AS per ons pada Desember 2026. Lembaga keuangan tersebut menilai potensi kenaikan masih terbuka karena sektor swasta mulai memperluas diversifikasi portofolio ke pasar emas yang relatif kecil, sehingga dapat mendorong peningkatan kepemilikan exchange-traded fund (ETF) di atas ekspektasi sebelumnya.

Dari sisi fundamental, peningkatan cadangan emas negara-negara BRICS menjadi faktor utama penggerak reli harga. Rusia, misalnya, tercatat memiliki cadangan emas sebesar 2.326,5 ton per Oktober 2025, senilai lebih dari 302 miliar dolar AS. Emas kini mencakup 35,4 persen dari total cadangan devisa internasional negara itu.

Baca Juga: Perang Dagang Tekan Dolar AS, Dongkrak Harga Emas dan Logam Mulia

Langkah serupa juga dilakukan China dan negara anggota BRICS lainnya, yang dinilai sebagai strategi membangun sistem keuangan alternatif di luar dominasi dolar AS. O’Neill menilai kebijakan tersebut sejalan dengan ambisi BRICS membentuk tatanan moneter global yang lebih seimbang dan tidak bergantung pada satu mata uang tunggal.

"Jika pasar meyakini bahwa bank sentral akan melonggarkan kebijakan atau setidaknya tidak memperketatnya lagi, sementara inflasi masih bertahan, maka harga emas yang lebih tinggi merupakan pola historis yang konsisten," ujarnya.

Dengan berbagai faktor tersebut, mulai dari akumulasi cadangan emas BRICS, ketegangan geopolitik, hingga arah kebijakan moneter global—harga emas diyakini masih akan melanjutkan tren penguatan dalam jangka menengah. Para analis memperkirakan momentum reli ini akan berlanjut hingga 2026–2027, terutama bila inflasi tinggi dan ketidakpastian ekonomi tetap membayangi pasar global.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Libur 1 Muharram, Harga...
Libur 1 Muharram, Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,7 Juta per Gram
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Rupiah Tampil Perkasa...
Rupiah Tampil Perkasa di Awal Pekan, Hari Ini Sentuh Rp17.708 per Dolar AS
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp18.000, Buyback Melonjak Rp46.000 per Gram
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Trump: AS Tidak akan...
Trump: AS Tidak akan Bayar Iran Rp5 Triliun, Itu Berita Palsu
Larangan Perangkat Lunak...
Larangan Perangkat Lunak AS Bikin Susah Banyak Produsen Mobil
Wapres AS Sebut Iran...
Wapres AS Sebut Iran Bisa Dapat Rp5.312 Triliun, tapi Trump Ragu
Rekomendasi
4 Upaya Penyelundupan...
4 Upaya Penyelundupan Narkoba ke Lapas dan Rutan Salemba Digagalkan, Disembunyikan di Organ Intim hingga Botol Obat
Nasaruddin Umar Ingin...
Nasaruddin Umar Ingin Indonesia Jadi Epicentrum Peradaban Dunia Islam Modern
Singgung Peran KPRP,...
Singgung Peran KPRP, Pakar: Kritik Mahfud MD Terhadap UU Polri Sangat Aneh
Berita Terkini
Buka Akses Pasar Lebih...
Buka Akses Pasar Lebih Luas, Pertamina Fasilitasi UMKM Binaan di Jakarta Fair
Krisis LNG Timur Tengah,...
Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Revisi UU Hak Cipta...
Revisi UU Hak Cipta Dikhawatirkan Bebani UMKM hingga Startup
Libur 1 Muharram, Harga...
Libur 1 Muharram, Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,7 Juta per Gram
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Infografis
Ketakutan Resesi AS,...
Ketakutan Resesi AS, Harga Emas ke Rekor Sepanjang Masa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved