Perangi Korupsi dan Jaga Nilai Tukar, Ekonom Dukung Kebijakan Redenominasi

Sabtu, 15 November 2025 - 17:00 WIB
loading...
Perangi Korupsi dan...
Redenominasi kembali mengemuka setelah didengungkan oleh Kementerian Keuangan. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Wacana redenominasi atau pemotongan harga mata uang Rupiah kembali mengemuka setelah didengungkan oleh Kementerian Keuangan. Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, langkah ini dinilai wajar dan strategis, tidak hanya untuk efisiensi transaksi tetapi juga sebagai instrumen untuk menghadapi tantangan korupsi dan menjaga nilai tukar rupiah dari pelemahan lebih lanjut.

Ibrahim mengingatkan isu redenominasi bukanlah hal baru. Wacana ini pertama kali digulirkan pada masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sekitar tahun 2010, ketika nilai tukar Rupiah sudah berada di atas Rp9.000 per dolar AS.

"Kita harus ingat bahwa redenominasi itu sudah mulai digulirkan di tahun 2010. Saat itu rupiah ini sudah di atas Rp9.000 saat itu," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Sabtu (15/11/2025).

Baca Juga: Purbaya Lempar ke BI soal Redenominasi Rupiah: Bukan Wewenang Kemenkeu

Sosialisasi redenominasi, yang secara kewenangan seharusnya dilakukan oleh Bank Indonesia (BI), telah masif dilakukan hingga 2015-2017, membuat masyarakat dari berbagai lapisan sudah mengenal konsep ini.

Ibrahim melihat munculnya wacana redenominasi saat ini memiliki kaitan erat dengan desakan Presiden Prabowo Subianto untuk memberantas korupsi dan meminta koruptor mengembalikan dananya.

"Rupanya pernyataan-pernyataan Prabowo itu tidak didengar oleh para koruptor sehingga apa? Sehingga muncullah redenominasi, pemangkasan harga mata uang," kata Ibrahim.



Ia berpendapat bahwa tujuan terselubung redenominasi adalah untuk memaksa para penimbun uang, terutama dari hasil korupsi, untuk menukarkan dananya dengan mata uang baru. Penukaran ini akan memerlukan persyaratan seperti KTP, yang berpotensi mengungkap kepemilikan dana gelap.

Secara ekonomi, Ibrahim menegaskan redenominasi sangat diperlukan untuk membendung pelemahan Rupiah yang kian signifikan. Ia menyoroti posisi Rupiah yang telah melampaui Rp16.700 per dolar AS, jauh di atas level Rp9.081 saat wacana ini pertama kali digulirkan pada 2010.

"Saat ini kalau seandainya pemerintah tidak cepat-cepat melakukan pemangkasan harga mata uang rupiah, bisa saja harga mata uang rupiah akan terus mengalami kelemahan. Rp17.000 di depan mata. Kalau sudah tembus Rp17.000 bisa saja itu akan menuju ke Rp18.000," tegasnya.

Baca Juga: 10 Negara Ini Pernah Melakukan Redenominasi, Bisa Jadi Contoh Indonesia

Ibrahim juga menyoroti bagaimana Rupiah kini kalah dibandingkan mata uang regional seperti Ringgit Malaysia (yang kini mencapai sekitar Rp4.000 per Ringgit) dan dolar Singapura (Rp12.000 per dolar Singapura). Kondisi geopolitik global yang tidak menentu memperburuk pelemahan nilai tukar.

Sebab itu, Ibrahim mendukung penuh pemerintah untuk menjalankan redenominasi, dan bila perlu, nilai tukar Rupiah dipatok di level Rp15.000 setelah redenominasi untuk menjaga stabilitas. "Ini adalah cara yang tepat untuk menghindari rupiah terus mengalami kelemahan yang cukup signifikan," tambahnya.

Meskipun menyadari adanya tentangan dari beberapa pihak, termasuk anggota Dewan yang mungkin khawatir dana kampanye mereka tertahan akibat proses penukaran uang, Ibrahim berharap pemerintah tetap menjalankan Rancangan Undang-Undang (RUU) ini demi kemajuan bangsa.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
Jaksa Agung Serahkan...
Jaksa Agung Serahkan Hasil Pemulihan Aset Rp1,22 Triliun ke Purbaya
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Rekomendasi
GKSI Berdayakan Peternak...
GKSI Berdayakan Peternak dan Koperasi Susu untuk Perkuat Program MBG
Perkuat Akuntabilitas...
Perkuat Akuntabilitas Keuangan Daerah, BSKDN Libatkan Akademisi dalam Validasi IPKD
50 Tokoh Pasang Badan...
50 Tokoh Pasang Badan untuk Roy Suryo, Din Syamsuddin dan Oegroseno Ikut Jadi Penjamin
Berita Terkini
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Diskon Tarif Transportasi...
Diskon Tarif Transportasi hingga 30% Kembali Menyapa selama Periode Libur Sekolah 2026
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Ini Daftar PLTU Terdampak...
Ini Daftar PLTU Terdampak Krisis Pasokan Batu Bara di Pulau Jawa
Dorong Kesejahteraan...
Dorong Kesejahteraan Petani, Inovasi Fungisida Syngenta Hadir di Jember
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved