Kilang LPG Cilamaya Siap Beroperasi, Perkuat Program Substitusi Impor dan Ketahanan Energi
Kamis, 20 November 2025 - 11:33 WIB
loading...
A
A
A
Kebutuhan LPG nasional saat ini mencapai 6,5–7 juta ton per tahun atau sekitar 75–80 persen dari konsumsi dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia masih mengimpor LPG dari sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Aljazair. “Upaya untuk meningkatkan pemanfaatan gas bumi domestik melalui pembangunan kilang LPG baru dan optimalisasi fasilitas yang ada menjadi prioritas penting untuk memperkuat ketahanan energi dan mengurangi defisit neraca perdagangan migas,” jelas Hidayat.
Kilang LPG Recovery Cilamaya akan menerima pasokan bahan baku gas dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ). Fasilitas ini dirancang mampu memproduksi sekitar 178 metrik ton LPG per hari melalui penggunaan dua kolom fraksinasi dan satu kolom absorpsi, didukung sistem pendinginan gabungan dari MRU (Mechanical Refrigeration Unit) dan turbo expander untuk mengoptimalkan recovery propana dan butana.
Selain memperkuat pasokan LPG nasional, keberadaan kilang ini juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah. Selama tahap EPC, proyek menyerap sekitar 261 tenaga kerja lokal atau 60 persen dari total kebutuhan. Pada tahap operasi dan pemeliharaan selama 10 tahun ke depan, setidaknya 25 pekerja lokal akan direkrut sehingga diharapkan menciptakan multiplier effect bagi para pelaku usaha di sekitar wilayah proyek.
Baca Juga: Antisipasi Cuaca Ekstrem, Pertamina Perkuat Pengawasan Distribusi Energi dan Aktifkan Satgas Nataru
Demi mendukung operasional fasilitas tersebut, pengembang memilih bekerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk pemenuhan kebutuhan listrik sebesar 3.465 KVA per hari. Nilai transaksi berlangganan listrik mencapai Rp74,16 juta per hari, yang dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan membangun pembangkit mandiri.
Kilang LPG Recovery Cilamaya akan menerima pasokan bahan baku gas dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Offshore North West Java (ONWJ). Fasilitas ini dirancang mampu memproduksi sekitar 178 metrik ton LPG per hari melalui penggunaan dua kolom fraksinasi dan satu kolom absorpsi, didukung sistem pendinginan gabungan dari MRU (Mechanical Refrigeration Unit) dan turbo expander untuk mengoptimalkan recovery propana dan butana.
Selain memperkuat pasokan LPG nasional, keberadaan kilang ini juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah. Selama tahap EPC, proyek menyerap sekitar 261 tenaga kerja lokal atau 60 persen dari total kebutuhan. Pada tahap operasi dan pemeliharaan selama 10 tahun ke depan, setidaknya 25 pekerja lokal akan direkrut sehingga diharapkan menciptakan multiplier effect bagi para pelaku usaha di sekitar wilayah proyek.
Baca Juga: Antisipasi Cuaca Ekstrem, Pertamina Perkuat Pengawasan Distribusi Energi dan Aktifkan Satgas Nataru
Demi mendukung operasional fasilitas tersebut, pengembang memilih bekerja sama dengan PT PLN (Persero) untuk pemenuhan kebutuhan listrik sebesar 3.465 KVA per hari. Nilai transaksi berlangganan listrik mencapai Rp74,16 juta per hari, yang dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan dibandingkan membangun pembangkit mandiri.
Lihat Juga :