G-20 Serukan Perlindungan Mineral Kritis, Sindiran Terselubung ke China
Minggu, 23 November 2025 - 07:44 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Kerusuhan Madagaskar Soroti Meningkatnya Sentimen Negatif terhadap China di Afrika
Ia menambahkan bahasa dalam rancangan deklarasi tersebut menunjukkan besarnya kekhawatiran global terkait langkah China yang belakangan ini mengganggu rantai pasok demi kepentingannya sendiri.
Seruan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan dagang dengan Presiden Xi Jinping beberapa waktu lalu telah memulihkan akses AS dan dunia terhadap mineral kritis.
Pada KTT G-20 di Brasil tahun lalu, isu mineral kritis hanya disebut secara singkat, tetapi dalam rancangan dokumen tahun ini, topik tersebut mendapat porsi khusus dengan empat butir pembahasan, menandai meningkatnya tensi global terkait isu tersebut. Rancangan deklarasi juga memuat cetak biru sukarela dan tidak mengikat bertujuan memastikan mineral kritis dapat "menjadi pendorong kemakmuran dan pembangunan berkelanjutan."
Penyusunan deklarasi dilakukan tanpa kehadiran Presiden China Xi Jinping, yang kali ini mengutus Perdana Menteri Li Qiang mewakili China. Meski sejumlah negara Eropa, Asia, dan Amerika Serikat (AS) mengkritik restriksi ekspor rare earth China, belum ada kejelasan apakah kebijakan tersebut melanggar aturan World Trade Organization (WTO). Pembatasan tersebut menyasar mineral berfungsi ganda yang dapat digunakan untuk kebutuhan militer maupun komersial.
Selain isu mineral kritis, para pemimpin Eropa yang hadir di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 diperkirakan banyak menyoroti perkembangan perang Ukraina serta tekanan AS kepada Kyiv untuk menerima proposal perdamaian yang dianggap timpang dengan Rusia.
Ia menambahkan bahasa dalam rancangan deklarasi tersebut menunjukkan besarnya kekhawatiran global terkait langkah China yang belakangan ini mengganggu rantai pasok demi kepentingannya sendiri.
Seruan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan dagang dengan Presiden Xi Jinping beberapa waktu lalu telah memulihkan akses AS dan dunia terhadap mineral kritis.
Pada KTT G-20 di Brasil tahun lalu, isu mineral kritis hanya disebut secara singkat, tetapi dalam rancangan dokumen tahun ini, topik tersebut mendapat porsi khusus dengan empat butir pembahasan, menandai meningkatnya tensi global terkait isu tersebut. Rancangan deklarasi juga memuat cetak biru sukarela dan tidak mengikat bertujuan memastikan mineral kritis dapat "menjadi pendorong kemakmuran dan pembangunan berkelanjutan."
Penyusunan deklarasi dilakukan tanpa kehadiran Presiden China Xi Jinping, yang kali ini mengutus Perdana Menteri Li Qiang mewakili China. Meski sejumlah negara Eropa, Asia, dan Amerika Serikat (AS) mengkritik restriksi ekspor rare earth China, belum ada kejelasan apakah kebijakan tersebut melanggar aturan World Trade Organization (WTO). Pembatasan tersebut menyasar mineral berfungsi ganda yang dapat digunakan untuk kebutuhan militer maupun komersial.
Selain isu mineral kritis, para pemimpin Eropa yang hadir di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 diperkirakan banyak menyoroti perkembangan perang Ukraina serta tekanan AS kepada Kyiv untuk menerima proposal perdamaian yang dianggap timpang dengan Rusia.
Lihat Juga :