Konsumsi Masyarakat Menggeliat, Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV Makin Kuat
Minggu, 23 November 2025 - 20:30 WIB
loading...
A
A
A
Sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, dan Makassar mencatat okupansi hotel pada kisaran 68–75%. Permintaan pada sektor transportasi, baik penerbangan domestik, angkutan jalan, maupun layanan transportasi daring, juga meningkat. Kondisi tersebut mencerminkan keyakinan publik yang tetap terjaga terhadap prospek ekonomi.
Indeks Keyakinan Konsumen yang konsisten berada pada level 115 dan PMI manufaktur yang bertahan di atas 51 memperkuat sinyal bahwa masyarakat dan pelaku usaha memandang situasi ekonomi secara positif. Sektor jasa hiburan, kuliner, perjalanan, dan perhotelan menjadi penerima manfaat langsung dari peningkatan konsumsi tersebut.
Di sisi kebijakan, pemerintah mempercepat realisasi belanja APBN pada kuartal IV untuk menjaga momentum pemulihan. Berbagai program Kementerian/Lembaga, bantuan sosial, serta stimulus fiskal digelontorkan sejak awal Oktober sebagai dorongan tambahan bagi konsumsi dan investasi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa seluruh instrumen fiskal disiapkan untuk memaksimalkan dampak akhir tahun. "Saya kira di triwulan keempat kita bisa tumbuh di atas 5,5%, mungkin 5,6–5,7%," ujarnya dalam kegiatan Car Free Day di Jakarta pada 16 November 2025.
Ia menambahkan, belanja pemerintah yang dipercepat tidak sekadar memperbesar nominal serapan, melainkan didesain untuk memberi efek langsung ke daya beli. "Pemerintah sudah menyalurkan sejumlah stimulus pada periode Oktober hingga Desember, termasuk bantuan langsung tunai. Saya pastikan itu akan berdampak," kata Purbaya.
Selain konsumsi rumah tangga, ekspor nonmigas menjadi pilar kuat perekonomian. Nilainya diperkirakan mendekati USD195–USD200 miliar pada akhir 2025, jauh melampaui kinerja ekspor migas yang sekitar USD10 miliar. Produk industri pengolahan, pertanian, serta komoditas bernilai tambah seperti besi-baja, mesin, elektronik, kimia, dan makanan olahan menjadi kontributor utama ekspor nasional.
Baca Juga: Aktivitas Ekonomi Meningkat, Didorong Sektor Pariwisata dan Stabilitas Inflasi
Indeks Keyakinan Konsumen yang konsisten berada pada level 115 dan PMI manufaktur yang bertahan di atas 51 memperkuat sinyal bahwa masyarakat dan pelaku usaha memandang situasi ekonomi secara positif. Sektor jasa hiburan, kuliner, perjalanan, dan perhotelan menjadi penerima manfaat langsung dari peningkatan konsumsi tersebut.
Di sisi kebijakan, pemerintah mempercepat realisasi belanja APBN pada kuartal IV untuk menjaga momentum pemulihan. Berbagai program Kementerian/Lembaga, bantuan sosial, serta stimulus fiskal digelontorkan sejak awal Oktober sebagai dorongan tambahan bagi konsumsi dan investasi. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa seluruh instrumen fiskal disiapkan untuk memaksimalkan dampak akhir tahun. "Saya kira di triwulan keempat kita bisa tumbuh di atas 5,5%, mungkin 5,6–5,7%," ujarnya dalam kegiatan Car Free Day di Jakarta pada 16 November 2025.
Ia menambahkan, belanja pemerintah yang dipercepat tidak sekadar memperbesar nominal serapan, melainkan didesain untuk memberi efek langsung ke daya beli. "Pemerintah sudah menyalurkan sejumlah stimulus pada periode Oktober hingga Desember, termasuk bantuan langsung tunai. Saya pastikan itu akan berdampak," kata Purbaya.
Selain konsumsi rumah tangga, ekspor nonmigas menjadi pilar kuat perekonomian. Nilainya diperkirakan mendekati USD195–USD200 miliar pada akhir 2025, jauh melampaui kinerja ekspor migas yang sekitar USD10 miliar. Produk industri pengolahan, pertanian, serta komoditas bernilai tambah seperti besi-baja, mesin, elektronik, kimia, dan makanan olahan menjadi kontributor utama ekspor nasional.
Baca Juga: Aktivitas Ekonomi Meningkat, Didorong Sektor Pariwisata dan Stabilitas Inflasi
Lihat Juga :