Pengelolaan Keanekaragaman Hayati, Pamapersada Nusantara Luncurkan PAMA Eco-Edu Forest di IKN
Senin, 24 November 2025 - 10:12 WIB
loading...
A
A
A
Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara(OIKN) Basuki Hadimuljono menyambut baik hadirnya program ini sebagai bagian dari implementasi visi IKN sebagai kota hutan berkelanjutan. Ia menjelaskan, IKN dibangun dengan visi sebagai kota hutan yang modern dan berkelanjutan. Kehadiran PAMA Eco-Edu Forest semakin memperkuat ekosistem konservasi yang kami dorong di kawasan ini.
”Kami mengapresiasi inisiatif PAMA dalam menciptakan ruang edukasi alam yang melibatkan masyarakat dan dunia akademik. Kolaborasi seperti ini penting agar pembangunan IKN tetap berpihak pada keberlanjutan ekologis,” ungkapnya.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menjaga keberlanjutan kawasan hutan. UGM melihat PAMA Eco-Edu Forest sebagai model kolaborasi ideal antara dunia usaha, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Pendekatan berbasis riset dan restorasi ekologis sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlanjutan kawasan hutan. ”Kami berharap program ini menjadi laboratorium alam yang dapat melahirkan inovasi dan sumber daya manusia unggul di bidang kehutanan dan konservasi,” ujarnya.
Program ini dikembangkan di lahan seluas 100 hektare di Wanagama Nusantara, yang dirancang sebagai pusat konservasi dan pendidikan lingkungan. Di dalamnya, PAMA menekankan pentingnya penangkaran satwa dilindungi seperti rusa sambar untuk memulihkan populasi spesies rentan serta menjaga fungsi ekologis satwa kunci dalam ekosistem hutan.
”Kami mengapresiasi inisiatif PAMA dalam menciptakan ruang edukasi alam yang melibatkan masyarakat dan dunia akademik. Kolaborasi seperti ini penting agar pembangunan IKN tetap berpihak pada keberlanjutan ekologis,” ungkapnya.
Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam menjaga keberlanjutan kawasan hutan. UGM melihat PAMA Eco-Edu Forest sebagai model kolaborasi ideal antara dunia usaha, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Pendekatan berbasis riset dan restorasi ekologis sangat dibutuhkan untuk memastikan keberlanjutan kawasan hutan. ”Kami berharap program ini menjadi laboratorium alam yang dapat melahirkan inovasi dan sumber daya manusia unggul di bidang kehutanan dan konservasi,” ujarnya.
Program ini dikembangkan di lahan seluas 100 hektare di Wanagama Nusantara, yang dirancang sebagai pusat konservasi dan pendidikan lingkungan. Di dalamnya, PAMA menekankan pentingnya penangkaran satwa dilindungi seperti rusa sambar untuk memulihkan populasi spesies rentan serta menjaga fungsi ekologis satwa kunci dalam ekosistem hutan.
Lihat Juga :