Para Miliarder Dunia Bersiap Hadapi Kiamat, Bangun Bunker Mewah hingga Pelindung Badai
Selasa, 16 Desember 2025 - 11:30 WIB
loading...
Fenomena orang super kaya dunia bersiap menghadapi skenario terburuk dunia. FOTO/Tech Startsups
A
A
A
JAKARTA - Fenomena orang super kaya bersiap menghadapi skenario terburuk dunia. Di berbagai negara, sejumlah miliarder dan kelompok ultrakaya dilaporkan menggelontorkan dana besar untuk membangun bunker bawah tanah, hunian berpengamanan tinggi, hingga tempat perlindungan terpencil sebagai langkah antisipasi menghadapi kemungkinan bencana global.
Langkah tersebut menandai perubahan perilaku kalangan elite global. Jika sebelumnya pulau pribadi dan rumah mewah menjadi simbol keamanan dan privasi, kini bunker kiamat lengkap dengan persediaan logistik jangka panjang mulai menjadi bagian dari strategi perlindungan aset dan keselamatan diri.
Dikutip dari Stars Insider, para miliarder ini mempersiapkan diri menghadapi beragam risiko, mulai dari ketidakstabilan ekonomi global, ketegangan geopolitik, bencana iklim, hingga potensi ancaman dari perkembangan kecerdasan buatan yang dinilai sulit dikendalikan.
Baca Juga: Pria Ini Mengaku Nabi, Klaim Diperintah Tuhan Bikin 8 Kapal Raksasa karena Kiamat Terjadi pada Natal 2025
Salah satu contoh yang kerap disorot adalah pendiri Meta, Mark Zuckerberg, yang tengah mengembangkan kompleks hunian berskala besar di Pulau Kauai, Hawaii. Dokumen perencanaan menyebutkan keberadaan beberapa bangunan, sistem terowongan, serta fasilitas perlindungan badai, yang dinilai melampaui konsep rumah liburan biasa.
Selain itu, Peter Thiel, salah satu pendiri perusahaan teknologi Palantir, juga dikabarkan membeli lahan luas di Selandia Baru. Properti tersebut memicu spekulasi sebagai lokasi perlindungan jika terjadi krisis global, meski tidak ada konfirmasi resmi mengenai tujuan pembangunan tersebut.
Tren serupa juga dilakukan oleh tokoh Silicon Valley, manajer hedge fund, dan investor global lainnya. Bahkan, sejumlah silo rudal yang sudah tidak terpakai di Amerika Serikat diubah menjadi bunker mewah, lengkap dengan pertanian hidroponik, ruang medis, pusat kebugaran, hingga fasilitas hiburan.
Kontraktor pembangunan bunker mencatat lonjakan permintaan, terutama saat ketegangan geopolitik atau krisis ekonomi meningkat. Umumnya, fasilitas yang dipesan mencakup pasokan makanan jangka panjang, sistem listrik mandiri, pemurnian air, serta pengamanan berlapis yang memungkinkan penghuni hidup tanpa bergantung pada jaringan publik.
Pengamat menilai, ketakutan terhadap instabilitas ekonomi menjadi salah satu pendorong utama. Kekayaan digital dan aset finansial dinilai rentan jika terjadi krisis besar, sehingga kalangan ultrakaya mulai mengamankan aset fisik seperti lahan, logam mulia, dan infrastruktur dasar.
Di sisi lain, meningkatnya konflik geopolitik dan ancaman serangan siber turut memperkuat kekhawatiran akan lumpuhnya sistem kelistrikan, komunikasi, dan logistik global. Kondisi tersebut mendorong sebagian miliarder memilih hidup “di luar jaringan” dengan teknologi yang sepenuhnya mandiri.
Ketergantungan dunia modern pada teknologi juga menjadi sorotan. Para pelaku industri digital dinilai memahami betul rapuhnya sistem komputasi awan, jaringan AI, dan server penting yang menopang aktivitas ekonomi dan sosial global.
Baca Juga: 3 Fenomena Menjadi Tanda Kiamat yang Muncul dari Tanah Arab, Apa Saja?
Meski demikian, tidak semua laporan tentang persiapan kiamat para miliarder sepenuhnya akurat. Sebagian proyek properti disebut lebih berkaitan dengan privasi, investasi, atau optimalisasi pajak, ketimbang kesiapan menghadapi kehancuran dunia.
Namun, para pengamat menilai fenomena ini tetap menjadi sinyal peringatan. Ketika kelompok dengan akses informasi dan sumber daya terbesar mulai mempersiapkan skenario terburuk, hal itu mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global dan melemahnya kepercayaan terhadap sistem ekonomi, teknologi, dan tata kelola dunia saat ini.
Langkah tersebut menandai perubahan perilaku kalangan elite global. Jika sebelumnya pulau pribadi dan rumah mewah menjadi simbol keamanan dan privasi, kini bunker kiamat lengkap dengan persediaan logistik jangka panjang mulai menjadi bagian dari strategi perlindungan aset dan keselamatan diri.
Dikutip dari Stars Insider, para miliarder ini mempersiapkan diri menghadapi beragam risiko, mulai dari ketidakstabilan ekonomi global, ketegangan geopolitik, bencana iklim, hingga potensi ancaman dari perkembangan kecerdasan buatan yang dinilai sulit dikendalikan.
Baca Juga: Pria Ini Mengaku Nabi, Klaim Diperintah Tuhan Bikin 8 Kapal Raksasa karena Kiamat Terjadi pada Natal 2025
Salah satu contoh yang kerap disorot adalah pendiri Meta, Mark Zuckerberg, yang tengah mengembangkan kompleks hunian berskala besar di Pulau Kauai, Hawaii. Dokumen perencanaan menyebutkan keberadaan beberapa bangunan, sistem terowongan, serta fasilitas perlindungan badai, yang dinilai melampaui konsep rumah liburan biasa.
Selain itu, Peter Thiel, salah satu pendiri perusahaan teknologi Palantir, juga dikabarkan membeli lahan luas di Selandia Baru. Properti tersebut memicu spekulasi sebagai lokasi perlindungan jika terjadi krisis global, meski tidak ada konfirmasi resmi mengenai tujuan pembangunan tersebut.
Tren serupa juga dilakukan oleh tokoh Silicon Valley, manajer hedge fund, dan investor global lainnya. Bahkan, sejumlah silo rudal yang sudah tidak terpakai di Amerika Serikat diubah menjadi bunker mewah, lengkap dengan pertanian hidroponik, ruang medis, pusat kebugaran, hingga fasilitas hiburan.
Kontraktor pembangunan bunker mencatat lonjakan permintaan, terutama saat ketegangan geopolitik atau krisis ekonomi meningkat. Umumnya, fasilitas yang dipesan mencakup pasokan makanan jangka panjang, sistem listrik mandiri, pemurnian air, serta pengamanan berlapis yang memungkinkan penghuni hidup tanpa bergantung pada jaringan publik.
Pengamat menilai, ketakutan terhadap instabilitas ekonomi menjadi salah satu pendorong utama. Kekayaan digital dan aset finansial dinilai rentan jika terjadi krisis besar, sehingga kalangan ultrakaya mulai mengamankan aset fisik seperti lahan, logam mulia, dan infrastruktur dasar.
Di sisi lain, meningkatnya konflik geopolitik dan ancaman serangan siber turut memperkuat kekhawatiran akan lumpuhnya sistem kelistrikan, komunikasi, dan logistik global. Kondisi tersebut mendorong sebagian miliarder memilih hidup “di luar jaringan” dengan teknologi yang sepenuhnya mandiri.
Ketergantungan dunia modern pada teknologi juga menjadi sorotan. Para pelaku industri digital dinilai memahami betul rapuhnya sistem komputasi awan, jaringan AI, dan server penting yang menopang aktivitas ekonomi dan sosial global.
Baca Juga: 3 Fenomena Menjadi Tanda Kiamat yang Muncul dari Tanah Arab, Apa Saja?
Meski demikian, tidak semua laporan tentang persiapan kiamat para miliarder sepenuhnya akurat. Sebagian proyek properti disebut lebih berkaitan dengan privasi, investasi, atau optimalisasi pajak, ketimbang kesiapan menghadapi kehancuran dunia.
Namun, para pengamat menilai fenomena ini tetap menjadi sinyal peringatan. Ketika kelompok dengan akses informasi dan sumber daya terbesar mulai mempersiapkan skenario terburuk, hal itu mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global dan melemahnya kepercayaan terhadap sistem ekonomi, teknologi, dan tata kelola dunia saat ini.
(nng)
Lihat Juga :