Ekonomi 2026 Masih Mendung, Berbagai Instrumen Investasi Diprediksi Terkoreksi
Rabu, 17 Desember 2025 - 22:23 WIB
loading...
Reiner Rahardja, pelaku investasi digital yang juga mentor bisnis, mengungkap bahwa kondisi makro global yang memburuk akan berdampak langsung ke perekonomian nasional. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Tahun 2026 merupakan tahun penuh tekanan bagi perekonomian global dan pasar keuangan . Indikator menunjukkan risiko koreksi tajam di berbagai jenis aset investasi , karena perubahan kebijakan moneter global, ketegangan geopolitik, dan likuiditas melemah.
Reiner Rahardja, pelaku investasi digital yang juga mentor bisnis, mengungkap bahwa kondisi makro global yang memburuk akan berdampak langsung ke perekonomian nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan terhadap daya beli, serta semakin ketatnya arus kas menjadi tantangan utama bagi dunia pengusaha, terutama sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
“Di dunia, ada beberapa faktor utama yang dapat mengguncang pasar dalam kurun 10 sampai 12 bulan ke depan dan membuat instrumen investasi seperti emas, bitcoin, dan pasar finansial juga akan bergejolak,” kata Reiner saat acara Navigating 2026 Economic Horizon di Jakarta, Selasa (16/12).
Baca Juga: Ingat, Promosi Aset Investasi Ilegal Bisa Berakhir Ancaman Pidana
Faktor-faktor tersebut meliputi mid-term election Amerika Serikat, Piala Dunia 2026, arah kebijakan kabinet baru The FED, dan risiko kenaikan suku bunga Jepang yang dapat mengakhiri era Yen Carry Trade. Reiner memperkirakan Japan Rate Hike ini akan menarik kembali aliran likuiditas global ke negara asalnya.
Menurunnya arus likuiditas ini akan menekan aset berisiko seperti saham, kripto, dan komoditas spekulatif. China juga kembali menegaskan larangan pada aktivitas kripto, khususnya stablecoin, karena mereka menilai aset digital itu berisiko bagi stabilitas ekonomi dan arus keuangan.
“Di sisi lain, ada kekhawatiran munculnya AI bubble karena bisnis model kecerdasan buatan ini belum terbukti mendukung untuk menghasilkan arus kas berkelanjutan secara berkesinambungan. Penggunaan AI masih sangat primitif di masyarakat maupun institusi namun biaya pengembangannya sudah di luar akal sehat,” papar Reiner.
Dampaknya lanjut Reiner, banyak aset investasi yang akan masuk fase koreksi besar. Emas akan mengalami fase koreksi cukup signifikan diikuti oleh bentuk aset logam lainnya yang lebih volatile.
Indeks saham global pun akan turun yang tentu memicu penurunan lebih drastis pada aset spekulatif seperti Bitcoin yang tidak memiliki routine earning, tapi berbasis feeling. “Kondisi ini dapat memicu terjadinya efek spiral. Jika aksi jual institusional terjadi di pasar yang sedang bearish, maka efek spiral ke bawah tidak dapat dihindarkan,” katanya.
Baca Juga: Investasi Digital Rp60 Triliun Masih Dikuasai Jabodetabek dan Bandung
Dalam situasi ini, Reiner menilai pendekatan spekulatif akan semakin berisiko dan harus menghindari posisi investasi pada berbagai aset, sembari menunggu sampai harga koreksi tercapai atau biasa disebut buy bottom, hindari buy the top. Meskipun tekanan ekonomi meningkat, peluang tetap ada pada sektor bisnis.
“Beberapa sektor yang dinilai masih berpotensi menguntungkan pada 2026 antara lain adalah industri kecantikan dan kebugaran, layanan kesehatan usia lanjut (anti-aging), pendidikan anak dan remaja, serta sektor berbasis perilaku konsumsi Masyarakat,” papar Reiner.
Reiner Rahardja menegaskan bahwa 2026 bukan sekadar tahun sulit, melainkan periode seleksi alam. Pelaku usaha dan investor yang mampu beradaptasi dan membangun fundamental pendapatan, dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tumbuh ditengah siklus ekonomi yang menantang.
Reiner Rahardja, pelaku investasi digital yang juga mentor bisnis, mengungkap bahwa kondisi makro global yang memburuk akan berdampak langsung ke perekonomian nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah, tekanan terhadap daya beli, serta semakin ketatnya arus kas menjadi tantangan utama bagi dunia pengusaha, terutama sektor UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia.
“Di dunia, ada beberapa faktor utama yang dapat mengguncang pasar dalam kurun 10 sampai 12 bulan ke depan dan membuat instrumen investasi seperti emas, bitcoin, dan pasar finansial juga akan bergejolak,” kata Reiner saat acara Navigating 2026 Economic Horizon di Jakarta, Selasa (16/12).
Baca Juga: Ingat, Promosi Aset Investasi Ilegal Bisa Berakhir Ancaman Pidana
Faktor-faktor tersebut meliputi mid-term election Amerika Serikat, Piala Dunia 2026, arah kebijakan kabinet baru The FED, dan risiko kenaikan suku bunga Jepang yang dapat mengakhiri era Yen Carry Trade. Reiner memperkirakan Japan Rate Hike ini akan menarik kembali aliran likuiditas global ke negara asalnya.
Menurunnya arus likuiditas ini akan menekan aset berisiko seperti saham, kripto, dan komoditas spekulatif. China juga kembali menegaskan larangan pada aktivitas kripto, khususnya stablecoin, karena mereka menilai aset digital itu berisiko bagi stabilitas ekonomi dan arus keuangan.
“Di sisi lain, ada kekhawatiran munculnya AI bubble karena bisnis model kecerdasan buatan ini belum terbukti mendukung untuk menghasilkan arus kas berkelanjutan secara berkesinambungan. Penggunaan AI masih sangat primitif di masyarakat maupun institusi namun biaya pengembangannya sudah di luar akal sehat,” papar Reiner.
Dampaknya lanjut Reiner, banyak aset investasi yang akan masuk fase koreksi besar. Emas akan mengalami fase koreksi cukup signifikan diikuti oleh bentuk aset logam lainnya yang lebih volatile.
Indeks saham global pun akan turun yang tentu memicu penurunan lebih drastis pada aset spekulatif seperti Bitcoin yang tidak memiliki routine earning, tapi berbasis feeling. “Kondisi ini dapat memicu terjadinya efek spiral. Jika aksi jual institusional terjadi di pasar yang sedang bearish, maka efek spiral ke bawah tidak dapat dihindarkan,” katanya.
Baca Juga: Investasi Digital Rp60 Triliun Masih Dikuasai Jabodetabek dan Bandung
Dalam situasi ini, Reiner menilai pendekatan spekulatif akan semakin berisiko dan harus menghindari posisi investasi pada berbagai aset, sembari menunggu sampai harga koreksi tercapai atau biasa disebut buy bottom, hindari buy the top. Meskipun tekanan ekonomi meningkat, peluang tetap ada pada sektor bisnis.
“Beberapa sektor yang dinilai masih berpotensi menguntungkan pada 2026 antara lain adalah industri kecantikan dan kebugaran, layanan kesehatan usia lanjut (anti-aging), pendidikan anak dan remaja, serta sektor berbasis perilaku konsumsi Masyarakat,” papar Reiner.
Reiner Rahardja menegaskan bahwa 2026 bukan sekadar tahun sulit, melainkan periode seleksi alam. Pelaku usaha dan investor yang mampu beradaptasi dan membangun fundamental pendapatan, dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan tumbuh ditengah siklus ekonomi yang menantang.
(akr)
Lihat Juga :