Harga Tembaga Melonjak Imbas Guncangan Pasokan dan Permintaan AI
Kamis, 18 Desember 2025 - 10:44 WIB
loading...
Gelombang hambatan operasional di tambang-tambang tembaga terbesar dunia memperburuk pasokan. FOTO/Reuters
A
A
A
JAKARTA - Harga tembaga melonjak tajam pada Rabu (17/12), diperdagangkan di level USD5,36 per ton atau naik 1,15% dibandingkan hari sebelumnya, dan mendekati ambang psikologis USD12.000 per ton di London Metal Exchange (LME). Secara tahunan harga logam industri ini telah menguat 33%, didorong kombinasi gangguan besar di tambang-tambang utama dunia serta lonjakan permintaan dari pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).
Pergerakan tersebut menyusul pengujian berulang terhadap level USD12.000 per ton pada awal bulan, ketika kontrak tembaga tiga bulan di LME sempat menyentuh USD11.952 per ton dalam perdagangan intraday. Reuters mencatat reli ini sebagai kenaikan tahunan terbesar harga tembaga sejak 2009, yang turut dipicu aktivitas penimbunan stok di Amerika Serikat.
"Meski permintaan kerap diperdebatkan, ketidakpastian pasokan nyata adanya dan kini dihargai pasar sebagai premi risiko," kata analis ING menanggapi serangkaian gangguan produksi yang memperketat keseimbangan pasar global.
Baca Juga: Freeport Temukan Harta Karun Sumber Daya 3 Miliar Bijih Tembaga dan Emas di Papua
Gelombang hambatan operasional di tambang-tambang tembaga terbesar dunia memperburuk pasokan. Tambang Grasberg milik Freeport-McMoRan di Indonesia penyumbang sekitar 4% produksi tembaga globalmenetapkan status force majeure setelah longsor lumpur pada September yang menewaskan tujuh pekerja. Perusahaan memperkirakan produksi 2026 akan 35% lebih rendah dari estimasi sebelum insiden, meski pemulihan skala besar ditargetkan mulai kuartal II 2026.
Gangguan tambahan terjadi di kompleks Kamoa-Kakula milik Ivanhoe Mines di Republik Demokratik Kongo akibat banjir pada Mei, serta di tambang El Teniente milik Codelco di Chile setelah runtuhnya terowongan mematikan pada Juli. Rangkaian kejadian ini memperketat pasokan di saat permintaan meningkat.
Pasar tembaga juga terbelah secara geografis di tengah ketidakpastian tarif. Persediaan di bursa COMEX Amerika Serikat membengkak hingga lebih dari 405.000 ton—sekitar 61% dari total stok tembaga di bursa—sementara persediaan di luar AS tetap ketat, memicu distorsi harga antara COMEX dan LME. Kondisi tersebut menciptakan reli yang saling menguatkan karena penimbunan menjelang potensi pembatasan perdagangan menguras stok di wilayah lain. Namun, analis memperingatkan perubahan ekspektasi tarif dapat mendorong aliran stok kembali keluar dan membalikkan dinamika harga dengan cepat.
Dari sisi permintaan, pembangunan pusat data berbasis AI menjadi katalis utama. Menurut Copper Development Association, satu pusat data hyperscale untuk operasi AI dapat membutuhkan hingga 50.000 ton tembaga per fasilitas, jauh di atas kebutuhan fasilitas konvensional yang berkisar 5.000–15.000 ton.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memproyeksikan konsumsi listrik pusat data akan lebih dari dua kali lipat pada 2030, yang berpotensi menyerap lebih dari setengah juta ton tembaga per tahun menjelang akhir dekade.
Baca Juga: Gantikan Polantas, China Siapkan Robot AI Humanoid untuk Atur Lalu Lintas
Di sisi proyeksi, pandangan analis global masih terbelah. Citigroup memperkirakan harga tembaga mencapai 13.000 dolar AS per ton pada kuartal II 2026 dengan skenario optimistis hingga 15.000 dolar AS, sementara ANZ memprediksi harga bertahan di atas 11.000 dolar AS per ton sepanjang 2026 dan mendekati 12.000 dolar AS pada akhir tahun.
Sebaliknya, Goldman Sachs menyampaikan pandangan lebih hati-hati dengan memproyeksikan harga turun ke kisaran USD10.000–USD11.000 per ton pada 2026, dengan rata-rata USD10.710 pada paruh pertama, seiring pasokan global yang dinilai masih memadai.
Sementara itu, International Copper Study Group memperkirakan pasar tembaga rafinasi berbalik menjadi defisit 150.000 ton pada 2026 dari proyeksi surplus pada 2025, meski UBS menaikkan proyeksi defisitnya menjadi 407.000 ton pada 2026.
Pergerakan tersebut menyusul pengujian berulang terhadap level USD12.000 per ton pada awal bulan, ketika kontrak tembaga tiga bulan di LME sempat menyentuh USD11.952 per ton dalam perdagangan intraday. Reuters mencatat reli ini sebagai kenaikan tahunan terbesar harga tembaga sejak 2009, yang turut dipicu aktivitas penimbunan stok di Amerika Serikat.
"Meski permintaan kerap diperdebatkan, ketidakpastian pasokan nyata adanya dan kini dihargai pasar sebagai premi risiko," kata analis ING menanggapi serangkaian gangguan produksi yang memperketat keseimbangan pasar global.
Baca Juga: Freeport Temukan Harta Karun Sumber Daya 3 Miliar Bijih Tembaga dan Emas di Papua
Gelombang hambatan operasional di tambang-tambang tembaga terbesar dunia memperburuk pasokan. Tambang Grasberg milik Freeport-McMoRan di Indonesia penyumbang sekitar 4% produksi tembaga globalmenetapkan status force majeure setelah longsor lumpur pada September yang menewaskan tujuh pekerja. Perusahaan memperkirakan produksi 2026 akan 35% lebih rendah dari estimasi sebelum insiden, meski pemulihan skala besar ditargetkan mulai kuartal II 2026.
Gangguan tambahan terjadi di kompleks Kamoa-Kakula milik Ivanhoe Mines di Republik Demokratik Kongo akibat banjir pada Mei, serta di tambang El Teniente milik Codelco di Chile setelah runtuhnya terowongan mematikan pada Juli. Rangkaian kejadian ini memperketat pasokan di saat permintaan meningkat.
Pasar tembaga juga terbelah secara geografis di tengah ketidakpastian tarif. Persediaan di bursa COMEX Amerika Serikat membengkak hingga lebih dari 405.000 ton—sekitar 61% dari total stok tembaga di bursa—sementara persediaan di luar AS tetap ketat, memicu distorsi harga antara COMEX dan LME. Kondisi tersebut menciptakan reli yang saling menguatkan karena penimbunan menjelang potensi pembatasan perdagangan menguras stok di wilayah lain. Namun, analis memperingatkan perubahan ekspektasi tarif dapat mendorong aliran stok kembali keluar dan membalikkan dinamika harga dengan cepat.
Dari sisi permintaan, pembangunan pusat data berbasis AI menjadi katalis utama. Menurut Copper Development Association, satu pusat data hyperscale untuk operasi AI dapat membutuhkan hingga 50.000 ton tembaga per fasilitas, jauh di atas kebutuhan fasilitas konvensional yang berkisar 5.000–15.000 ton.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) memproyeksikan konsumsi listrik pusat data akan lebih dari dua kali lipat pada 2030, yang berpotensi menyerap lebih dari setengah juta ton tembaga per tahun menjelang akhir dekade.
Baca Juga: Gantikan Polantas, China Siapkan Robot AI Humanoid untuk Atur Lalu Lintas
Di sisi proyeksi, pandangan analis global masih terbelah. Citigroup memperkirakan harga tembaga mencapai 13.000 dolar AS per ton pada kuartal II 2026 dengan skenario optimistis hingga 15.000 dolar AS, sementara ANZ memprediksi harga bertahan di atas 11.000 dolar AS per ton sepanjang 2026 dan mendekati 12.000 dolar AS pada akhir tahun.
Sebaliknya, Goldman Sachs menyampaikan pandangan lebih hati-hati dengan memproyeksikan harga turun ke kisaran USD10.000–USD11.000 per ton pada 2026, dengan rata-rata USD10.710 pada paruh pertama, seiring pasokan global yang dinilai masih memadai.
Sementara itu, International Copper Study Group memperkirakan pasar tembaga rafinasi berbalik menjadi defisit 150.000 ton pada 2026 dari proyeksi surplus pada 2025, meski UBS menaikkan proyeksi defisitnya menjadi 407.000 ton pada 2026.
(nng)
Lihat Juga :