BRICS Sepanjang 2025: Indonesia Bergabung hingga Jalan Terjal Dedolarisasi
Sabtu, 27 Desember 2025 - 07:35 WIB
loading...
A
A
A
Di tengah ambisi besar tersebut, muncul dinamika menarik dari para pemimpin negara anggota terkait posisi dolar AS. Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan pernyataan mengejutkan pada November 2024 yang tetap relevan hingga penghujung 2025.
"Kami tidak pernah berusaha meninggalkan dolar dan kami tidak sedang berusaha untuk melakukannya," ujar Putin dikutip dari Watcher Guru, Sabtu (27/12/2025). Senada dengan hal itu, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menegaskan bahwa dolar AS tetap menjadi sumber stabilitas ekonomi global yang masih dibutuhkan dunia saat ini.
Menumpuk Cadangan Emas
Sebagai upaya mitigasi risiko, bank sentral negara-negara BRICS bertransformasi menjadi pembeli emas paling agresif di pasar global. Sepanjang tahun 2025 saja, blok ini telah menambah hampir 800 ton metrik logam mulia ke dalam brankas mereka. Akumulasi cadangan emas gabungan BRICS kini menembus angka 6.000 ton, atau setara dengan 21 persen dari total cadangan emas bank sentral di seluruh dunia. Rusia dan China tercatat sebagai pemegang porsi terbesar yang mencapai 74 persen dari total cadangan blok tersebut.
Strategi pembelian emas yang terkoordinasi ini terbukti efektif menjadi perisai terhadap volatilitas mata uang dan risiko sanksi internasional. Dampaknya, harga emas dunia meroket hingga menyentuh level USD4.400 per ons pada akhir 2025. Fenomena ini sejalan dengan survei World Gold Council yang menunjukkan bahwa 73% bankir sentral global memprediksi peran dolar dalam cadangan devisa dunia akan terus menyusut dalam lima tahun ke depan.
"Kami tidak pernah berusaha meninggalkan dolar dan kami tidak sedang berusaha untuk melakukannya," ujar Putin dikutip dari Watcher Guru, Sabtu (27/12/2025). Senada dengan hal itu, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menegaskan bahwa dolar AS tetap menjadi sumber stabilitas ekonomi global yang masih dibutuhkan dunia saat ini.
Menumpuk Cadangan Emas
Sebagai upaya mitigasi risiko, bank sentral negara-negara BRICS bertransformasi menjadi pembeli emas paling agresif di pasar global. Sepanjang tahun 2025 saja, blok ini telah menambah hampir 800 ton metrik logam mulia ke dalam brankas mereka. Akumulasi cadangan emas gabungan BRICS kini menembus angka 6.000 ton, atau setara dengan 21 persen dari total cadangan emas bank sentral di seluruh dunia. Rusia dan China tercatat sebagai pemegang porsi terbesar yang mencapai 74 persen dari total cadangan blok tersebut.
Strategi pembelian emas yang terkoordinasi ini terbukti efektif menjadi perisai terhadap volatilitas mata uang dan risiko sanksi internasional. Dampaknya, harga emas dunia meroket hingga menyentuh level USD4.400 per ons pada akhir 2025. Fenomena ini sejalan dengan survei World Gold Council yang menunjukkan bahwa 73% bankir sentral global memprediksi peran dolar dalam cadangan devisa dunia akan terus menyusut dalam lima tahun ke depan.
Lihat Juga :