BRICS Sepanjang 2025: Indonesia Bergabung hingga Jalan Terjal Dedolarisasi
Sabtu, 27 Desember 2025 - 07:35 WIB
loading...
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping foto bersama sebelum sesi format Outreach KTT BRICS di Kazan, Rusia, Kamis (24/10/2024). Menlu RI Sugiono berada di barisan belakang, kedua dari kiri. FOTO/AP
A
A
A
JAKARTA - Lanskap ekonomi politik global sepanjang tahun 2025 diwarnai manuver blok BRICS yang kini semakin memperkokoh pengaruhnya di panggung global. Bergabungnya Indonesia sebagai anggota penuh pada awal tahun ini menjadi tonggak sejarah baru, melengkapi kekuatan Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Dengan formasi baru ini, BRICS kini menguasai sekitar 48,5% populasi dunia serta menyumbang 39% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global berdasarkan paritas daya beli. Langkah strategis blok ini tidak hanya terbatas pada perluasan wilayah, tetapi juga pada upaya sistematis memperkuat kemandirian finansial melalui jalur dedolarisasi.
Baca Juga: Dorong Dedolarisasi, BRICS Timbun 663 Ton Emas Senilai Rp1.513 Triliun di 2025
Alih-alih melakukan konfrontasi langsung terhadap mata uang tunggal, BRICS fokus pada pengembangan infrastruktur pembayaran alternatif dan perdagangan menggunakan mata uang lokal. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan akan sistem keuangan yang lebih inklusif dan tahan terhadap tekanan geopolitik.
Di tengah ambisi besar tersebut, muncul dinamika menarik dari para pemimpin negara anggota terkait posisi dolar AS. Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan pernyataan mengejutkan pada November 2024 yang tetap relevan hingga penghujung 2025.
"Kami tidak pernah berusaha meninggalkan dolar dan kami tidak sedang berusaha untuk melakukannya," ujar Putin dikutip dari Watcher Guru, Sabtu (27/12/2025). Senada dengan hal itu, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menegaskan bahwa dolar AS tetap menjadi sumber stabilitas ekonomi global yang masih dibutuhkan dunia saat ini.
Menumpuk Cadangan Emas
Sebagai upaya mitigasi risiko, bank sentral negara-negara BRICS bertransformasi menjadi pembeli emas paling agresif di pasar global. Sepanjang tahun 2025 saja, blok ini telah menambah hampir 800 ton metrik logam mulia ke dalam brankas mereka. Akumulasi cadangan emas gabungan BRICS kini menembus angka 6.000 ton, atau setara dengan 21 persen dari total cadangan emas bank sentral di seluruh dunia. Rusia dan China tercatat sebagai pemegang porsi terbesar yang mencapai 74 persen dari total cadangan blok tersebut.
Strategi pembelian emas yang terkoordinasi ini terbukti efektif menjadi perisai terhadap volatilitas mata uang dan risiko sanksi internasional. Dampaknya, harga emas dunia meroket hingga menyentuh level USD4.400 per ons pada akhir 2025. Fenomena ini sejalan dengan survei World Gold Council yang menunjukkan bahwa 73% bankir sentral global memprediksi peran dolar dalam cadangan devisa dunia akan terus menyusut dalam lima tahun ke depan.
Baca Juga: Rusia Respons Pidato Natal Zelensky yang Dianggap Tidak Waras
Dari sisi teknologi finansial, BRICS telah meluncurkan "BRICS Pay", sebuah sistem pesan pembayaran terdesentralisasi berbasis blockchain. Inovasi ini dirancang untuk memfasilitasi transaksi ritel maupun grosir antarnegara anggota tanpa harus bergantung pada sistem SWIFT yang dikendalikan Barat. Selain itu, bursa logam mulia baru juga telah diresmikan untuk memungkinkan perdagangan emas fisik secara langsung tanpa menggunakan mata uang dolar AS.
Menjelang akhir tahun, tepatnya pada 31 Oktober 2025, blok ini memulai uji coba instrumen "Unit". Instrumen ini berfungsi sebagai alat penyelesaian transaksi grosir internasional yang didukung oleh keranjang mata uang dan agunan fisik. Meskipun bukan merupakan mata uang untuk penggunaan harian, "Unit" diproyeksikan menjadi sarana utama dalam penyelesaian perdagangan skala besar guna mengurangi ketergantungan pada likuiditas dolar.
Meski gebrakan teknologi dan akumulasi emas terus berlanjut, tantangan internal terkait konsensus penggantian dolar masih menjadi catatan penting. Hingga awal 2025, dolar AS terpantau masih memegang kendali atas 57,3% cadangan devisa dunia. Perpecahan visi mengenai mata uang tunggal BRICS menunjukkan bahwa transformasi menuju tatanan ekonomi multipolar memerlukan waktu dan sinkronisasi kebijakan yang lebih mendalam di antara para anggotanya.
Dengan formasi baru ini, BRICS kini menguasai sekitar 48,5% populasi dunia serta menyumbang 39% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global berdasarkan paritas daya beli. Langkah strategis blok ini tidak hanya terbatas pada perluasan wilayah, tetapi juga pada upaya sistematis memperkuat kemandirian finansial melalui jalur dedolarisasi.
Baca Juga: Dorong Dedolarisasi, BRICS Timbun 663 Ton Emas Senilai Rp1.513 Triliun di 2025
Alih-alih melakukan konfrontasi langsung terhadap mata uang tunggal, BRICS fokus pada pengembangan infrastruktur pembayaran alternatif dan perdagangan menggunakan mata uang lokal. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan akan sistem keuangan yang lebih inklusif dan tahan terhadap tekanan geopolitik.
Di tengah ambisi besar tersebut, muncul dinamika menarik dari para pemimpin negara anggota terkait posisi dolar AS. Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan pernyataan mengejutkan pada November 2024 yang tetap relevan hingga penghujung 2025.
"Kami tidak pernah berusaha meninggalkan dolar dan kami tidak sedang berusaha untuk melakukannya," ujar Putin dikutip dari Watcher Guru, Sabtu (27/12/2025). Senada dengan hal itu, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menegaskan bahwa dolar AS tetap menjadi sumber stabilitas ekonomi global yang masih dibutuhkan dunia saat ini.
Menumpuk Cadangan Emas
Sebagai upaya mitigasi risiko, bank sentral negara-negara BRICS bertransformasi menjadi pembeli emas paling agresif di pasar global. Sepanjang tahun 2025 saja, blok ini telah menambah hampir 800 ton metrik logam mulia ke dalam brankas mereka. Akumulasi cadangan emas gabungan BRICS kini menembus angka 6.000 ton, atau setara dengan 21 persen dari total cadangan emas bank sentral di seluruh dunia. Rusia dan China tercatat sebagai pemegang porsi terbesar yang mencapai 74 persen dari total cadangan blok tersebut.
Strategi pembelian emas yang terkoordinasi ini terbukti efektif menjadi perisai terhadap volatilitas mata uang dan risiko sanksi internasional. Dampaknya, harga emas dunia meroket hingga menyentuh level USD4.400 per ons pada akhir 2025. Fenomena ini sejalan dengan survei World Gold Council yang menunjukkan bahwa 73% bankir sentral global memprediksi peran dolar dalam cadangan devisa dunia akan terus menyusut dalam lima tahun ke depan.
Baca Juga: Rusia Respons Pidato Natal Zelensky yang Dianggap Tidak Waras
Dari sisi teknologi finansial, BRICS telah meluncurkan "BRICS Pay", sebuah sistem pesan pembayaran terdesentralisasi berbasis blockchain. Inovasi ini dirancang untuk memfasilitasi transaksi ritel maupun grosir antarnegara anggota tanpa harus bergantung pada sistem SWIFT yang dikendalikan Barat. Selain itu, bursa logam mulia baru juga telah diresmikan untuk memungkinkan perdagangan emas fisik secara langsung tanpa menggunakan mata uang dolar AS.
Menjelang akhir tahun, tepatnya pada 31 Oktober 2025, blok ini memulai uji coba instrumen "Unit". Instrumen ini berfungsi sebagai alat penyelesaian transaksi grosir internasional yang didukung oleh keranjang mata uang dan agunan fisik. Meskipun bukan merupakan mata uang untuk penggunaan harian, "Unit" diproyeksikan menjadi sarana utama dalam penyelesaian perdagangan skala besar guna mengurangi ketergantungan pada likuiditas dolar.
Meski gebrakan teknologi dan akumulasi emas terus berlanjut, tantangan internal terkait konsensus penggantian dolar masih menjadi catatan penting. Hingga awal 2025, dolar AS terpantau masih memegang kendali atas 57,3% cadangan devisa dunia. Perpecahan visi mengenai mata uang tunggal BRICS menunjukkan bahwa transformasi menuju tatanan ekonomi multipolar memerlukan waktu dan sinkronisasi kebijakan yang lebih mendalam di antara para anggotanya.
(nng)
Lihat Juga :