BRICS Lego Obligasi AS Rp482 Triliun, Sinyal Dedolarisasi Menguat
Rabu, 31 Desember 2025 - 07:54 WIB
loading...
Negara-negara anggota BRICS tercatat melepas surat utang AS senilai sekitar USD28,8 miliar pada Oktober lalu. FOTO/Watcher Guru
A
A
A
JAKARTA - Negara-negara anggota BRICS tercatat melepas surat utang Amerika Serikat (AS) senilai sekitar USD28,8 miliar atau setara Rp482 triliun pada Oktober lalu. Data Departemen Keuangan AS menunjukkan penjualan tersebut didorong oleh langkah China, India, dan Brasil yang secara agresif mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS di tengah menguatnya tren dedolarisasi global.
India menjadi negara dengan penjualan terbesar dengan memangkas kepemilikan surat utang AS sebesar USD12 miliar. China menyusul dengan pengurangan sekitar USD11,8 miliar, sementara Brasil melepas sekitar USD5 miliar. Data Treasury International Capital System juga mencatat, dalam periode Oktober 2024 hingga Oktober 2025, China telah menjual obligasi AS senilai USD71,4 miliar, Brasil USD61,1 miliar, dan India USD50,7 miliar.
Baca Juga: BRICS Sepanjang 2025: Indonesia Bergabung hingga Jalan Terjal Dedolarisasi
Raksasa perbankan ING menilai langkah tersebut sebagai sinyal kuat perubahan arah pengelolaan cadangan devisa. "Negara-negara BRICS secara perlahan namun pasti mulai meninggalkan pasar surat utang AS, seiring upaya mereka mengurangi ketergantungan pada dolar dan memperkuat kemandirian moneter," tulis ING dalam kajiannya dikutip dari Watcher Guru, Rabu (30/12/2025).
Langkah penjualan obligasi AS oleh BRICS terjadi bersamaan dengan pandangan bearish JPMorgan terhadap dolar AS pada 2026. Bank investasi tersebut menilai arah kebijakan moneter global berpotensi menekan greenback, terutama ketika Federal Reserve mulai melonggarkan kebijakan, sementara Bank Sentral Eropa cenderung bertahan dan Bank of Japan membuka peluang kenaikan suku bunga.
JPMorgan memproyeksikan nilai tukar EUR/USD berada di level 1,20 dan GBP/USD di 1,36 pada akhir 2026, sementara USD/JPY diperkirakan bergerak ke kisaran 164. Meski demikian, pelemahan dolar dinilai bisa tertahan oleh pertumbuhan ekonomi AS yang relatif solid serta tekanan inflasi yang berpotensi membuat The Fed mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
Baca Juga: Ukraina Luncurkan 91 Drone Kamikaze ke Kediaman Putin, Rusia Ancam Balas Dendam
Penjualan surat utang AS oleh BRICS juga mencerminkan perubahan struktural dalam manajemen cadangan global. Negara-negara tersebut secara bertahap mendiversifikasi aset cadangan mereka dari instrumen berdenominasi dolar, seiring meningkatnya kebutuhan akan stabilitas moneter jangka panjang.
Selain mengurangi kepemilikan obligasi AS, bank sentral negara-negara BRICS juga tercatat meningkatkan cadangan emas sebagai alternatif aset lindung nilai. Langkah ini memperkuat sinyal bahwa dedolarisasi bukan lagi wacana, melainkan strategi nyata yang terus dijalankan.
Analis ING menilai, meski penjualan obligasi AS oleh BRICS cukup signifikan, dampaknya terhadap pasar global sejauh ini masih dapat diredam karena sebagian besar kekosongan diserap oleh investor sektor swasta. Namun, jika tren ini berlanjut hingga 2026 dan seterusnya, tekanan terhadap dominasi dolar AS dinilai akan semakin terasa.
India menjadi negara dengan penjualan terbesar dengan memangkas kepemilikan surat utang AS sebesar USD12 miliar. China menyusul dengan pengurangan sekitar USD11,8 miliar, sementara Brasil melepas sekitar USD5 miliar. Data Treasury International Capital System juga mencatat, dalam periode Oktober 2024 hingga Oktober 2025, China telah menjual obligasi AS senilai USD71,4 miliar, Brasil USD61,1 miliar, dan India USD50,7 miliar.
Baca Juga: BRICS Sepanjang 2025: Indonesia Bergabung hingga Jalan Terjal Dedolarisasi
Raksasa perbankan ING menilai langkah tersebut sebagai sinyal kuat perubahan arah pengelolaan cadangan devisa. "Negara-negara BRICS secara perlahan namun pasti mulai meninggalkan pasar surat utang AS, seiring upaya mereka mengurangi ketergantungan pada dolar dan memperkuat kemandirian moneter," tulis ING dalam kajiannya dikutip dari Watcher Guru, Rabu (30/12/2025).
Langkah penjualan obligasi AS oleh BRICS terjadi bersamaan dengan pandangan bearish JPMorgan terhadap dolar AS pada 2026. Bank investasi tersebut menilai arah kebijakan moneter global berpotensi menekan greenback, terutama ketika Federal Reserve mulai melonggarkan kebijakan, sementara Bank Sentral Eropa cenderung bertahan dan Bank of Japan membuka peluang kenaikan suku bunga.
JPMorgan memproyeksikan nilai tukar EUR/USD berada di level 1,20 dan GBP/USD di 1,36 pada akhir 2026, sementara USD/JPY diperkirakan bergerak ke kisaran 164. Meski demikian, pelemahan dolar dinilai bisa tertahan oleh pertumbuhan ekonomi AS yang relatif solid serta tekanan inflasi yang berpotensi membuat The Fed mempertahankan kebijakan ketat lebih lama.
Baca Juga: Ukraina Luncurkan 91 Drone Kamikaze ke Kediaman Putin, Rusia Ancam Balas Dendam
Penjualan surat utang AS oleh BRICS juga mencerminkan perubahan struktural dalam manajemen cadangan global. Negara-negara tersebut secara bertahap mendiversifikasi aset cadangan mereka dari instrumen berdenominasi dolar, seiring meningkatnya kebutuhan akan stabilitas moneter jangka panjang.
Selain mengurangi kepemilikan obligasi AS, bank sentral negara-negara BRICS juga tercatat meningkatkan cadangan emas sebagai alternatif aset lindung nilai. Langkah ini memperkuat sinyal bahwa dedolarisasi bukan lagi wacana, melainkan strategi nyata yang terus dijalankan.
Analis ING menilai, meski penjualan obligasi AS oleh BRICS cukup signifikan, dampaknya terhadap pasar global sejauh ini masih dapat diredam karena sebagian besar kekosongan diserap oleh investor sektor swasta. Namun, jika tren ini berlanjut hingga 2026 dan seterusnya, tekanan terhadap dominasi dolar AS dinilai akan semakin terasa.
(nng)
Lihat Juga :