Mendulang Cuan lewat Kreatifitas, Produk Inovatif UMKM Binaan IFG Tembus Pasar Global
Jum'at, 02 Januari 2026 - 22:28 WIB
loading...
A
A
A
Oleh karena itu, Jasa Raharja mempercayakan proses mentoring ahli waris kepada Irfan. Berkolabosari dengan Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya, ada sekitar 30 ahli waris yang telah mengikuti pelatihan Jarihitam Ecoprint.
Menurut Yudi, keunggulan ecoprint terletak pada pendampingan yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Peserta tidak hanya dibekali keterampilan produksi, tetapi juga dibimbing hingga produknya siap dipasarkan.
Dengan adanya jejaring produksi dan pemasaran yang kuat, Jasa Raharja berharap program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan ahli waris, tetapi juga membuka peluang ekonomi jangka panjang dan mencegah mereka jatuh ke dalam kemiskinan akibat kehilangan anggota keluarga.
"Tujuan kami adalah pemberdayaan ekonomi. Banyak ahli waris yang kehilangan tulang punggung keluarga akibat kecelakaan. Melalui diklat dan pelatihan wirausaha ini, kami ingin ekonomi mereka tetap hidup dan memiliki sumber penghasilan baru," ujar Yudi.
Heni Nurelah, salah satu ahli waris peserta pelatihan, mengaku mendapat pengalaman baru dari proses pembuatan ecoprint yang seluruhnya dilakukan secara manual dan penuh ketelatenan. Ia menjelaskan, sejak awal peserta dilatih mulai dari menyiapkan kain polos hingga menyusunnya menjadi karya seni bermotif alam.
"Prosesnya dari awal sampai akhir bisa memakan waktu sekitar satu minggu, mulai dari kain polos sampai menjadi kain ecoprint. Setiap daun, bunga dan ranting-ranting itu bisa dimanfaatkan," kata dia.
Founder Asta Nusa Warna, Jejen Ahmar Jaenun mengatakan, setelah 24 tahun berjalan, perusahaannya mulai fokus mengembangkan produk bernilai tambah, meski masih terus dalam tahap penyempurnaan. “Kami mencoba melakukan pengembangan dan alhamdulillah sudah ada beberapa produk yang terwujud. Tapi memang ini proses yang terus disempurnakan,” ujar Jejen.
Dalam perjalanannya, Asta Nusa Warna juga mendapat pendampingan promosi melalui program aktivasi UMKM yang difasilitasi Jasa Raharja, anggota Holding IFG. Melalui sejumlah kegiatan, Jejen mengaku mendapatkan ruang belajar untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar.
Saat ini, produk turunan Asta Nusa Warna telah hadir di sekitar delapan hotel di Bandung, dengan skema pemasaran yang difasilitasi Jasa Raharja bersama Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya.
Jejen menjelaskan, pada awalnya Asta Nusa Warna hanya bergerak di sektor aroma seperti vanila, cengkeh, kapulaga, dan nilam. Produksi dimulai dari penyulingan di Garut, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan lanjutan dan kontrol kualitas di Bandung.
Rata-rata produksi mencapai 500 kilogram (kg) minyak nilam per minggu, yang sebagian besar diserap industri ekspor sebagai bahan baku parfum dan farmasi, terutama ke Amerika Serikat. Namun, Jeje bilang tingginya permintaan ekspor minyak nilam mendorong perusahaan untuk mengembangkan produk turunan sendiri.
“Nilam ini unsur utama minyak parfum dunia. Sekitar 85 persen pasokan berasal dari Indonesia, dan salah satu unggulan Jawa Barat juga nilam,” kata Jejen.
Pengembangan di sektor hilir dilakukan melalui KALDO, brand produk jadi yang mengolah minyak atsiri dari Asta Nusa Warna menjadi produk siap pakai. Founder KALDO, Catarina yang juga istri Jejen, menjelaskan KALDO mulai berdiri pada Oktober 2022.
“KALDO itu dari hulu ke hilir. Bahan bakunya dari Asta Nusa Warna, lalu kami olah menjadi produk konsumen,” ujarnya.
KALDO memiliki lima kategori produk, mulai dari natural blended essential oil, diffuser oil, parfum, hand soap, hingga collagen hand soap. Beberapa pengembangan produk juga lahir dari masukan pihak hotel yang menginginkan varian pengharum ruangan dan parfum, meski aroma tetap dikunci pada empat karakter utama.
Untuk pemasaran, KALDO saat ini menyasar segmen hotel. Dalam skema tersebut, KALDO hanya menempatkan produk, sementara booth dan tenaga penjual (SPG) disiapkan oleh Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya. “Kalau di hotel, kami tinggal masukin produk. Booth dan SPG sudah difasilitasi koperasi,” kata Catarina.
Meski bahan bakunya telah menembus pasar ekspor, KALDO masih memasarkan produk jadinya secara terbatas. Hal ini seiring dengan proses perizinan, termasuk BPOM, yang masih berjalan.
Penjualan produk jadi KALDO saat ini berkisar 150-250 unit per bulan, dengan produk yang paling banyak diminati adalah diffuser oil, parfum, dan minyak angin hijau. Pemasaran lebih banyak mengandalkan pengalaman langsung konsumen dan testimoni, terutama dari tamu hotel.
Menurut Yudi, keunggulan ecoprint terletak pada pendampingan yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir. Peserta tidak hanya dibekali keterampilan produksi, tetapi juga dibimbing hingga produknya siap dipasarkan.
Dengan adanya jejaring produksi dan pemasaran yang kuat, Jasa Raharja berharap program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan ahli waris, tetapi juga membuka peluang ekonomi jangka panjang dan mencegah mereka jatuh ke dalam kemiskinan akibat kehilangan anggota keluarga.
"Tujuan kami adalah pemberdayaan ekonomi. Banyak ahli waris yang kehilangan tulang punggung keluarga akibat kecelakaan. Melalui diklat dan pelatihan wirausaha ini, kami ingin ekonomi mereka tetap hidup dan memiliki sumber penghasilan baru," ujar Yudi.
Heni Nurelah, salah satu ahli waris peserta pelatihan, mengaku mendapat pengalaman baru dari proses pembuatan ecoprint yang seluruhnya dilakukan secara manual dan penuh ketelatenan. Ia menjelaskan, sejak awal peserta dilatih mulai dari menyiapkan kain polos hingga menyusunnya menjadi karya seni bermotif alam.
"Prosesnya dari awal sampai akhir bisa memakan waktu sekitar satu minggu, mulai dari kain polos sampai menjadi kain ecoprint. Setiap daun, bunga dan ranting-ranting itu bisa dimanfaatkan," kata dia.
Asta Nusa Warna dan KALDO, Meracik Aroma dari Hulu ke Hilir
Selama lebih dari dua dekade, Asta Nusa Warna menjalankan usaha berbasis minyak atsiri dan rempah secara bertahap. Dari aktivitas awal di sektor aroma, usaha ini kini berkembang hingga memiliki produk turunan yang masuk ke segmen hotel dan memasok bahan baku untuk pasar ekspor.Founder Asta Nusa Warna, Jejen Ahmar Jaenun mengatakan, setelah 24 tahun berjalan, perusahaannya mulai fokus mengembangkan produk bernilai tambah, meski masih terus dalam tahap penyempurnaan. “Kami mencoba melakukan pengembangan dan alhamdulillah sudah ada beberapa produk yang terwujud. Tapi memang ini proses yang terus disempurnakan,” ujar Jejen.
Dalam perjalanannya, Asta Nusa Warna juga mendapat pendampingan promosi melalui program aktivasi UMKM yang difasilitasi Jasa Raharja, anggota Holding IFG. Melalui sejumlah kegiatan, Jejen mengaku mendapatkan ruang belajar untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pasar.
Saat ini, produk turunan Asta Nusa Warna telah hadir di sekitar delapan hotel di Bandung, dengan skema pemasaran yang difasilitasi Jasa Raharja bersama Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya.
Jejen menjelaskan, pada awalnya Asta Nusa Warna hanya bergerak di sektor aroma seperti vanila, cengkeh, kapulaga, dan nilam. Produksi dimulai dari penyulingan di Garut, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan lanjutan dan kontrol kualitas di Bandung.
Rata-rata produksi mencapai 500 kilogram (kg) minyak nilam per minggu, yang sebagian besar diserap industri ekspor sebagai bahan baku parfum dan farmasi, terutama ke Amerika Serikat. Namun, Jeje bilang tingginya permintaan ekspor minyak nilam mendorong perusahaan untuk mengembangkan produk turunan sendiri.
“Nilam ini unsur utama minyak parfum dunia. Sekitar 85 persen pasokan berasal dari Indonesia, dan salah satu unggulan Jawa Barat juga nilam,” kata Jejen.
Pengembangan di sektor hilir dilakukan melalui KALDO, brand produk jadi yang mengolah minyak atsiri dari Asta Nusa Warna menjadi produk siap pakai. Founder KALDO, Catarina yang juga istri Jejen, menjelaskan KALDO mulai berdiri pada Oktober 2022.
“KALDO itu dari hulu ke hilir. Bahan bakunya dari Asta Nusa Warna, lalu kami olah menjadi produk konsumen,” ujarnya.
KALDO memiliki lima kategori produk, mulai dari natural blended essential oil, diffuser oil, parfum, hand soap, hingga collagen hand soap. Beberapa pengembangan produk juga lahir dari masukan pihak hotel yang menginginkan varian pengharum ruangan dan parfum, meski aroma tetap dikunci pada empat karakter utama.
Untuk pemasaran, KALDO saat ini menyasar segmen hotel. Dalam skema tersebut, KALDO hanya menempatkan produk, sementara booth dan tenaga penjual (SPG) disiapkan oleh Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya. “Kalau di hotel, kami tinggal masukin produk. Booth dan SPG sudah difasilitasi koperasi,” kata Catarina.
Meski bahan bakunya telah menembus pasar ekspor, KALDO masih memasarkan produk jadinya secara terbatas. Hal ini seiring dengan proses perizinan, termasuk BPOM, yang masih berjalan.
Penjualan produk jadi KALDO saat ini berkisar 150-250 unit per bulan, dengan produk yang paling banyak diminati adalah diffuser oil, parfum, dan minyak angin hijau. Pemasaran lebih banyak mengandalkan pengalaman langsung konsumen dan testimoni, terutama dari tamu hotel.
Lihat Juga :