Mendulang Cuan lewat Kreatifitas, Produk Inovatif UMKM Binaan IFG Tembus Pasar Global
Jum'at, 02 Januari 2026 - 22:28 WIB
loading...
A
A
A
Dari sisi permodalan, KALDO dan Asta Nusa Warna mengandalkan skema bootstrapping, tanpa pinjaman bank. Saat ini, KALDO mempekerjakan lima karyawan tetap dan dapat menyerap hingga 20-30 tenaga kerja tambahan saat pesanan meningkat.
Ke depan, baik Asta Nusa Warna maupun KALDO berharap pendampingan yang diterima dapat memperkuat kapasitas usaha, melengkapi perizinan, dan membuka peluang pasar yang lebih luas. “Persaingannya memang sulit, tapi peluang tetap ada. Yang penting kami terus belajar dan mengembangkan produk,” kata Jejen.
"Secara standarisasi UMKM ini, Alhamdulillah semuanya sudah memiliki standar khusus seperti apa produk yang bisa masuk di sebuah hotel. Karena itu, kami juga memberikan pendampingan khusus kepada teman-teman UMKM agar bisa mengikuti kebutuhan hotel," ujar Riki.
Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari proses produksi hingga penyesuaian produk agar selaras dengan karakter dan kebutuhan masing-masing hotel. Langkah ini menjadi strategi untuk memperluas akses pasar UMKM, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional.
Keberadaan produk UMKM di butik-butik hotel diharapkan mampu membuka peluang bertemu dengan pembeli dari luar Kota Bandung. Riki optimistis, jalur ini dapat mendatangkan purchase order dalam jumlah besar dari buyer luar daerah.
"Harapannya, dari butik hotel ini kita bisa mendapatkan buyer-buyer dari luar Bandung dengan purchase order yang banyak. Dampaknya tentu akan sangat besar bagi teman-teman UMKM agar terus berproduksi dan mendapatkan pesanan berkelanjutan,” kata Riki.
Melalui strategi tersebut, Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya menargetkan UMKM binaannya mampu naik kelas, memiliki pasar yang lebih luas, serta berkontribusi lebih besar terhadap penguatan ekonomi daerah.
IFG Ungkap Peran UMKM dalam Menghidupkan Rantai Ekonomi
Keterlibatan Jasa Raharja dalam pemberdayaan UMKM tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi besar IFG, sebagai holding BUMN asuransi, penjaminan, dan investasi, yang memandang UMKM sebagai fondasi penting pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui keterlibatan anak usaha seperti Jasa Raharja dalam program pemberdayaan, IFG ingin mendorong UMKM naik kelas sekaligus memperkuat mata rantai ekonomi dari hulu ke hilir.
Sekretaris Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG), Denny S Adji mengatakan, di balik aktivitas usaha yang tampak sederhana, tersimpan ekosistem ekonomi yang menghidupkan banyak pihak. Pada satu unit usaha UMKM ada mata rantai panjang yang saling terhubung, mulai dari petani, pemasok bahan baku, hingga pelaku usaha pendukung lain.
Seperti halnya ekosistem usaha aroma terapi yang melibatkan banyak pelaku, mulai dari petani bahan baku, pengrajin, hingga sektor angkutan yang memastikan pasokan sampai ke tempat produksi.
“Usaha seperti ini, meskipun tidak selalu berskala besar, namun memiliki kontribusi nyata dalam menggerakkan perekonomian dan menghidupi banyak pihak. Misalnya kapulaga, petaninya berbeda dengan yang menyuplai akar wangi, dan berbeda lagi dengan yang menyuplai vanila. Masing-masing memiliki ekosistem yang saling terhubung dan bernilai,” ujarnya.
Baca Juga: IFG Catat Lonjakan Pengguna Aplikasi One by IFG Jadi 257.000
Ekosistem serupa juga terlihat pada Jarihitam Ecoprint, dari dedaunan dan proses manual, usaha ini tidak hanya melibatkan pengrajin dan penjahit, tetapi juga masyarakat sekitar sebagai penyedia bahan dan mitra produksi. Dari proses yang tampak sederhana itu, produk Jarihitam justru mampu menembus pasar ekspor hingga Rusia.
“Karyanya mampu menembus pasar ekspor hingga Rusia. Awalnya, pembeli dari Rusia mengenalnya melalui produk sepatu, lalu kerja sama berkembang. Material yang dipasok dari sini berupa kain, yang kemudian diolah di Rusia menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti pakaian,” kata Denny.
Menurut Denny, keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari besaran omzet, melainkan dari dampak berantai atau trickle down effect yang dihasilkan. Tentang bagaimana aktivitas usaha tersebut mampu menggerakkan ekosistem ekonomi dan memberi manfaat luas bagi berbagai pihak.
“Penilaian terhadap UMKM tidak cukup hanya melihat omzet. Jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana pergerakan usaha tersebut menghidupkan ekosistem di sekitarnya. Di situlah makna ekonomi, dan di situlah jalan keberhasilan para pengusaha mikro dan ritel,” ujarnya.
Ke depan, baik Asta Nusa Warna maupun KALDO berharap pendampingan yang diterima dapat memperkuat kapasitas usaha, melengkapi perizinan, dan membuka peluang pasar yang lebih luas. “Persaingannya memang sulit, tapi peluang tetap ada. Yang penting kami terus belajar dan mengembangkan produk,” kata Jejen.
Tlatah Nusantara Pastikan Standarisasi Produk UMKM
Founder Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya, Agus Riki mengatakan, seluruh UMKM yang tergabung, termasuk Jarihitam Ecoprint dan KALDO, telah dibekali standarisasi khusus agar produk yang dihasilkan layak masuk ke jaringan hotel. Standar tersebut mencakup kualitas produk hingga penyesuaian dengan kebutuhan pasar hotel."Secara standarisasi UMKM ini, Alhamdulillah semuanya sudah memiliki standar khusus seperti apa produk yang bisa masuk di sebuah hotel. Karena itu, kami juga memberikan pendampingan khusus kepada teman-teman UMKM agar bisa mengikuti kebutuhan hotel," ujar Riki.
Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari proses produksi hingga penyesuaian produk agar selaras dengan karakter dan kebutuhan masing-masing hotel. Langkah ini menjadi strategi untuk memperluas akses pasar UMKM, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional.
Keberadaan produk UMKM di butik-butik hotel diharapkan mampu membuka peluang bertemu dengan pembeli dari luar Kota Bandung. Riki optimistis, jalur ini dapat mendatangkan purchase order dalam jumlah besar dari buyer luar daerah.
"Harapannya, dari butik hotel ini kita bisa mendapatkan buyer-buyer dari luar Bandung dengan purchase order yang banyak. Dampaknya tentu akan sangat besar bagi teman-teman UMKM agar terus berproduksi dan mendapatkan pesanan berkelanjutan,” kata Riki.
Melalui strategi tersebut, Koperasi Pemasaran Tlatah Nusantara Raya menargetkan UMKM binaannya mampu naik kelas, memiliki pasar yang lebih luas, serta berkontribusi lebih besar terhadap penguatan ekonomi daerah.
IFG Ungkap Peran UMKM dalam Menghidupkan Rantai Ekonomi
Keterlibatan Jasa Raharja dalam pemberdayaan UMKM tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi besar IFG, sebagai holding BUMN asuransi, penjaminan, dan investasi, yang memandang UMKM sebagai fondasi penting pertumbuhan ekonomi nasional.
Melalui keterlibatan anak usaha seperti Jasa Raharja dalam program pemberdayaan, IFG ingin mendorong UMKM naik kelas sekaligus memperkuat mata rantai ekonomi dari hulu ke hilir.
Sekretaris Perusahaan Indonesia Financial Group (IFG), Denny S Adji mengatakan, di balik aktivitas usaha yang tampak sederhana, tersimpan ekosistem ekonomi yang menghidupkan banyak pihak. Pada satu unit usaha UMKM ada mata rantai panjang yang saling terhubung, mulai dari petani, pemasok bahan baku, hingga pelaku usaha pendukung lain.
Seperti halnya ekosistem usaha aroma terapi yang melibatkan banyak pelaku, mulai dari petani bahan baku, pengrajin, hingga sektor angkutan yang memastikan pasokan sampai ke tempat produksi.
“Usaha seperti ini, meskipun tidak selalu berskala besar, namun memiliki kontribusi nyata dalam menggerakkan perekonomian dan menghidupi banyak pihak. Misalnya kapulaga, petaninya berbeda dengan yang menyuplai akar wangi, dan berbeda lagi dengan yang menyuplai vanila. Masing-masing memiliki ekosistem yang saling terhubung dan bernilai,” ujarnya.
Baca Juga: IFG Catat Lonjakan Pengguna Aplikasi One by IFG Jadi 257.000
Ekosistem serupa juga terlihat pada Jarihitam Ecoprint, dari dedaunan dan proses manual, usaha ini tidak hanya melibatkan pengrajin dan penjahit, tetapi juga masyarakat sekitar sebagai penyedia bahan dan mitra produksi. Dari proses yang tampak sederhana itu, produk Jarihitam justru mampu menembus pasar ekspor hingga Rusia.
“Karyanya mampu menembus pasar ekspor hingga Rusia. Awalnya, pembeli dari Rusia mengenalnya melalui produk sepatu, lalu kerja sama berkembang. Material yang dipasok dari sini berupa kain, yang kemudian diolah di Rusia menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti pakaian,” kata Denny.
Menurut Denny, keberhasilan UMKM tidak hanya diukur dari besaran omzet, melainkan dari dampak berantai atau trickle down effect yang dihasilkan. Tentang bagaimana aktivitas usaha tersebut mampu menggerakkan ekosistem ekonomi dan memberi manfaat luas bagi berbagai pihak.
“Penilaian terhadap UMKM tidak cukup hanya melihat omzet. Jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana pergerakan usaha tersebut menghidupkan ekosistem di sekitarnya. Di situlah makna ekonomi, dan di situlah jalan keberhasilan para pengusaha mikro dan ritel,” ujarnya.
(akr)
Lihat Juga :