Indonesia Monitor Dampak AS Serang Venezuela dan Penangkapan Maduro
Senin, 05 Januari 2026 - 20:13 WIB
loading...
Pemerintah Indonesia terus memonitor perkembangan dan dampak terhadap ekonomi imbas seranganAS ke Venezuela. FOTO/AP
A
A
A
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan Pemerintah Indonesia terus memonitor perkembangan dan dampak terhadap ekonomi imbas serangan Amerika Serikat (AS) ke Venezuela hingga menangkap Presiden Nicolas Maduro. Hingga saat ini belum ada gejolak signifikan yang mempengaruhi stabilitas harga minyak global.
"Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar USD63 per barel," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (5/1/2026).
Baca Juga: China Marah AS Tangkap Maduro: Tak Ada Negara yang Boleh Jadi Polisi Dunia!
Airlangga menjelaskan pemerintah belum menyiapkan langkah antisipatif khusus selama situasi masih relatif stabil. Ia menyebut pemerintah memilih bersikap menunggu perkembangan lebih lanjut.
Terkait kerja sama Indonesia dengan Venezuela, termasuk di sektor energi, Airlangga menyatakan pemerintah juga masih melakukan pemantauan. Menurutnya, dinamika politik di negara tersebut sudah berlangsung cukup lama, terutama sejak kebijakan nasionalisasi aset asing pada masa pemerintahan Presiden Hugo Chavez.
"Kalau dengan US kan memang sudah agak panjang sejak nasionalisasi oleh Hugo Chavez. Jadi memang pada waktu itu kan aset-aset Amerika dinasionalisasi. Nah, ini kemudian berikutnya kan sekarang dengan situasi seperti ini ya kita monitor saja seperti apa," ujar dia.
Baca Juga: Purbaya soal AS Tangkap Maduro: Hukum Dunia Aneh Sekarang, PBB-nya Lemah!
Airlangga memastikan Indonesia tidak memiliki aset di Venezuela. Namun, ia mengaku ada perubahan pemerintahan di Venezuela yang berpotensi memengaruhi kelanjutan nota kesepahaman (MoU) yang telah terjalin. "Ya tentunya ada perubahan ya dengan perubahan yang terjadi kemarin itu karena pemerintahannya kan berganti," jelas dia.
"Itu masih dimonitor karena yang utama kan berpengaruh terhadap harga minyak. Tetapi harga minyak kita monitor kalau satu dua hari ini pun tidak tidak ada perubahan, tidak ada gejolak yang tinggi dan harga minyak relatif masih rendah kan masih sekitar USD63 per barel," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Senin (5/1/2026).
Baca Juga: China Marah AS Tangkap Maduro: Tak Ada Negara yang Boleh Jadi Polisi Dunia!
Airlangga menjelaskan pemerintah belum menyiapkan langkah antisipatif khusus selama situasi masih relatif stabil. Ia menyebut pemerintah memilih bersikap menunggu perkembangan lebih lanjut.
Terkait kerja sama Indonesia dengan Venezuela, termasuk di sektor energi, Airlangga menyatakan pemerintah juga masih melakukan pemantauan. Menurutnya, dinamika politik di negara tersebut sudah berlangsung cukup lama, terutama sejak kebijakan nasionalisasi aset asing pada masa pemerintahan Presiden Hugo Chavez.
"Kalau dengan US kan memang sudah agak panjang sejak nasionalisasi oleh Hugo Chavez. Jadi memang pada waktu itu kan aset-aset Amerika dinasionalisasi. Nah, ini kemudian berikutnya kan sekarang dengan situasi seperti ini ya kita monitor saja seperti apa," ujar dia.
Baca Juga: Purbaya soal AS Tangkap Maduro: Hukum Dunia Aneh Sekarang, PBB-nya Lemah!
Airlangga memastikan Indonesia tidak memiliki aset di Venezuela. Namun, ia mengaku ada perubahan pemerintahan di Venezuela yang berpotensi memengaruhi kelanjutan nota kesepahaman (MoU) yang telah terjalin. "Ya tentunya ada perubahan ya dengan perubahan yang terjadi kemarin itu karena pemerintahannya kan berganti," jelas dia.
(nng)
Lihat Juga :