Mitigasi Pelemahan Rupiah, BI Cari Cara Kurangi Ketergantungan Dolar AS

Kamis, 22 Januari 2026 - 20:26 WIB
loading...
Mitigasi Pelemahan Rupiah,...
Bank Indonesia (BI) mulai memasifkan kebijakan penggunaan mata uang asing selain dolar Amerika Serikat. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mulai memasifkan kebijakan penggunaan mata uang asing selain dolar Amerika Serikat. Kebijakan ini digadang-gadang sebagai alternatif menstabilkan nilai rupiah terhadap dolar.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan bank sentral menggencarkan kebijakan Local Currency Transaction (LCT), yang mana transaksi atau perdagangan internasional melalui valuta asing dapat selain dolar.

"Jadi kalau saya importir barang dari Tiongkok sana, maka saya bayarnya instead pakai dolar saya bisa pakai Rupiah, nanti di sana terima juga Rupiah. Sebaliknya mereka nanti kalau dia apa namanya, dia juga bisa menggunakan dengan China ya dengan Renminbi. Nah inilah terus kami dorong," kata Destry dalam acara diskusi di Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Baca Juga: Purbaya Sangkal Rupiah Anjlok Imbas Thomas Djiwandono Dicalonkan ke BI

Perkembangan LCT sebagai mekanisme transaksi perdagangan internasional tidak bisa dipandang sebelah mata, meski belum tetap bisa menandingi superioritas dolar. Kata Destry, transaksi melalui LCT mencapai 25 miliar dolar AS per tahun. Jumlah ini naik dua kali lipat dari periode sebelumnya.

"Nah inilah sebenarnya salah satu upaya kami untuk mengurangi ketergantungan terhadap US Dollar. Tapi tentu konsekuensinya Bank Indonesia harus bisa nih provide apakah itu Renminbi atau itu Yen. Jadi ini yang salah satu upaya yang kita lakukan dalam rangka untuk stabilitas nilai tukar kita," kata dia.



Beberapa waktu belakang, nilI tukar rupiah tertekan terhadap dolar AS. Puncaknya, pada perdagangan Selasa (20/1) rupiah nyaris menyentuh level Rp17 ribu per dolar AS. Terkini, kurs rupiah di pasar spot menguat 0,24% ke angka Rp16.895 per dolar AS per Kamis (22/1).

Baca Juga: BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,9%–5,7% di 2026

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan pelemahan nilai tukar turut dipengaruhi faktor global. Ini berkaitan dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat terutama dipicu oleh kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik.

"Faktor-faktor global itu terkait tentu saja kondisi global, baik karena geopolitik, kemudian juga kebijakan tarif Amerika, tapi juga tingginya US Treasury yield baik 2 tahun sama 3 tahun, juga lebih rendahnya bahkan kemungkinan Fed Fund Rate turun yang lebih kecil," kata dia.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat, Kurs Dolar AS Kini di Rp17.860
Aliran Modal Asing Mulai...
Aliran Modal Asing Mulai Masuk, Rupiah Membaik Tinggalkan Rp18.000 per Dolar AS
Rupiah Melemah, Bagaimana...
Rupiah Melemah, Bagaimana Nasib Proyek IKN?
Orang Kaya Diminta Lepas...
Orang Kaya Diminta Lepas Dolar, Dasco Sebut Rupiah Menguat Minggu Depan
Dasco Kasih Bocoran...
Dasco Kasih Bocoran Pemerintah Punya Strategi Khusus Atasi Pelemahan Rupiah
Gapasdap Dorong Pemerintah...
Gapasdap Dorong Pemerintah Perhatikan Nasib Angkutan Pelayaran Imbas Kenaikan Dolar AS
Istana Terima Tuntutan...
Istana Terima Tuntutan BEM SI Jateng Soal Kuatkan Rupiah, tapi...
The Changcuters Bakal...
The Changcuters Bakal Naikkan Tarif Manggung Imbas Ekonomi Lesu?
Rekomendasi
Kasus Erin Berbalik...
Kasus Erin Berbalik Arah? Bukti Psikologis Nur Disebut Untungkan Herawati
Waka BGN Sony Sonjaya...
Waka BGN Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Kejagung Bakal Periksa Pekan Depan
Perlukah Melakukan Resolusi...
Perlukah Melakukan Resolusi Hidup di Tahun Baru Islam?
Berita Terkini
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan...
AS Sanksi Perusahaan-perusahaan China, Ekspor Minyak Iran Merosot 80%
SIG Resmikan Fasilitas...
SIG Resmikan Fasilitas Ekspor Tuban, Bidik 450.000 Ton Semen ke AS
Penguatan IHSG dan Rupiah...
Penguatan IHSG dan Rupiah Berlanjut, Pasar Respons Positif Kepastian Posisi Menkeu
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Sucofindo Gelar ENSIA...
Sucofindo Gelar ENSIA 2026, Dorong Inovasi Berkelanjutan
Kajian 13 Proyek Hilirisasi...
Kajian 13 Proyek Hilirisasi Rampung Juli, Nilainya Ditaksir Capai Rp239 Triliun
Infografis
AS Kerahkan 15.000 Prajurit...
AS Kerahkan 15.000 Prajurit dan 100 Jet Tempur Amankan Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved