Meski RKAB 2026 Dipangkas, Harga Batu Bara Diprediksi Lanjutkan Tren Penurunan

Sabtu, 24 Januari 2026 - 19:26 WIB
loading...
Meski RKAB 2026 Dipangkas,...
Harga batu bara global masih berpotensi melanjutkan tren penurunan. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksikan harga batubara global masih berpotensi melanjutkan tren penurunan pada tahun 2026, meskipun pemerintah Indonesia telah memangkas target produksi dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) Batubara 2026.

Head of Centre of Industry, Trade, and Investment INDEF, Andry Satrio Nugroho, menilai tekanan di pasar komoditas batubara saat ini cukup kuat, didorong oleh lemahnya permintaan di negara tujuan utama ekspor seperti China dan India.

Produksi batubara Indonesia pada tahun 2025 turun menjadi sekitar 790 juta ton, lebih rendah sekitar 5–6 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara ekspor turun hampir 8 persen karena permintaan global yang melemah. "Kalau dari batu bara sendiri tentu kami melihat dari sisi permintaan, khususnya permintaan dari ekspor. Kalau kita bicara salah satu buyers kita, dari China dan India, ada arah penurunan, dan kecenderungan menurun," ujarnya dalam acara Indonesia Weekend Miner di Kawasan Senayan, Sabtu (24/1/2026).

Baca Juga: ESDM: 300 Perusahaan Batu Bara Belum Ajukan RKAB Produksi 2026

Andry menekankan bahwa fenomena penurunan ekspor Indonesia sejalan dengan data tren permintaan global yang melambat. Permintaan batubara dari China, sebagai pembeli terbesar, menurun karena peningkatan produksi domestik dan pergeseran kebijakan energi, sementara permintaan dari India juga mengalami kontraksi.

Menghadapi kondisi pasar batubara yang melemah, INDEF mendorong penguatan permintaan domestik melalui diversifikasi pemanfaatan batubara dan peningkatan nilai tambah. Salah satu inisiatif adalah pengembangan proyek dimethyl ether (DME) yang direncanakan sebagai substitusi LPG berbasis batubara serta pengembangan produk-produk turunan lain yang memberikan nilai tambah lebih tinggi.



Andry menilai fokus pada pemanfaatan dalam negeri menjadi strategi penting karena permintaan global yang belum stabil. "Momentum tekanan harga ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat pasar domestik dan hilirisasi batubara," tambahnya.

Baca Juga: Produksi Batu Bara Dipangkas, Setoran ke Negara Terancam?

Selain batubara, INDEF mencatat bahwa permintaan global terhadap mineral kritis seperti nikel relatif lebih kuat, seiring percepatan transisi energi hijau dan kebutuhan teknologi bersih. Berbeda dengan batubara, harga nikel dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan tren kenaikan, yang mencerminkan diferensiasi pasar antar komoditas mineral.

Andry menekankan bahwa pengembangan hilirisasi mineral tersebut sekaligus dapat mendukung perekonomian nasional dan menciptakan produk ramah lingkungan. Sebelumnya, Kementerian ESDM pada tahun 2026 resmi memangkas produksi batu bara dalam negeri. Semula 790 juta ton produksi nasional tahun 2025, dipangkas menjadi 600 juta ton untuk tahun 2026.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
KAI Logistik Angkut...
KAI Logistik Angkut 6,8 Juta Ton Barang hingga Mei 2026, Terbanyak Batu Bara
Harga Batu Bara buat...
Harga Batu Bara buat PLN Bakal Naik, Begini Penjelasan Bahlil
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Aturan Baru ESDM, Blending...
Aturan Baru ESDM, Blending Batu Bara Harus Dapat Restu Bahlil
Ini Jenis Produk Sawit...
Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Krisis LNG Timur Tengah,...
Krisis LNG Timur Tengah, Permintaan Batu Bara di Asia Melonjak
China Revisi Jumlah...
China Revisi Jumlah Korban Tewas Tragedi Tambang Batu Bara, dari 90 Jadi 82 Orang
Memahami Ide Kebijakan...
Memahami Ide Kebijakan Ekspor Satu Pintu Presiden Prabowo
Prabowo Sentil Eksportir...
Prabowo Sentil Eksportir Sawit hingga Batu Bara yang Simpan Uang di Luar Negeri
Rekomendasi
Badan Intelijen AS Peringatkan...
Badan Intelijen AS Peringatkan Israel Bisa Sabotase Kesepakatan Perdamaian AS-Iran
Ubedilah Badrun Sebut...
Ubedilah Badrun Sebut Gerakan Mahasiswa Murni, Tidak Ditunggangi Kepentingan Politis
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Berita Terkini
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Mandatori B50 Buka Peluang...
Mandatori B50 Buka Peluang Swasembada Energi dan Jadikan Indonesia Pionir Energi Bersih
Bitcoin Melemah Usai...
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Indodax Ingatkan Manajemen Risiko
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved