Terbitkan Surat Utang Ritel Perdana di 2026, Kemenkeu Targetkan Raup Rp25 Triliun

Senin, 26 Januari 2026 - 14:34 WIB
loading...
Terbitkan Surat Utang...
Kementerian Keuangan menerbitkan surat utang ritel perdana di 2026. FOTO/Shutterstock
A A A
JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memasang target ambisius sebesar Rp25 triliun dari penjualan produk Surat Berharga Negara (SBN) ritel terbaru, yakni Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029T3 dan ORI029T6.

Penghimpunan dana ini diproyeksikan menjadi tulang punggung pembiayaan berbagai program strategis dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Penawaran instrumen yang menjanjikan keamanan serta keuntungan finansial ini resmi dibuka pada Senin, 26 Januari 2026 pukul 09.00 WIB, dan akan berlangsung hingga 19 Februari 2026.

Plt Direktur Surat Utang Negara (SUN) Kemenkeu, Novi Puspita Wardani menegaskan bahwa melalui dua pilihan tenor yang ditawarkan, pemerintah memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkontribusi langsung pada stabilitas ekonomi negara. Penawaran ini terdiri dari ORI029T3 dengan jangka waktu 3 tahun serta ORI029T6 yang memiliki masa investasi hingga 6 tahun.

"Jadi tepatnya pukul 09.00 WIB tadi, investor sudah bisa membeli ORI029. Kita menawarkan dua tenor sekaligus sehingga investor yang ingin beli tenornya lebih panjang silakan, atau mau yang tenor pendek silakan juga," ujar Novi dalam media briefing di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Baca Juga: Pemerintah Hadapi Beban Utang Baru Rp1.650 Triliun, Risiko Gagal Bayar di Depan Mata

Untuk mencapai target Rp25 triliun tersebut, pemerintah menawarkan imbal hasil yang kompetitif dengan sistem kupon tetap (fixed rate). Seri ORI029T3 yang jatuh tempo pada 15 Februari 2029 memberikan kupon sebesar 5,45 persen per tahun dengan plafon pemesanan maksimal Rp5 miliar.

Sementara itu, seri ORI029T6 yang jatuh tempo pada 15 Februari 2032 menawarkan kupon lebih tinggi, yakni 5,80 persen per tahun dengan batas maksimal pemesanan hingga Rp10 miliar. Kedua produk ini tetap dapat dimiliki oleh masyarakat kecil karena minimal pemesanannya hanya sebesar Rp1 juta. Pembatasan nilai maksimal pembelian sengaja dilakukan agar asas keadilan dan keterjangkauan bagi investor individu tetap terjaga.

"Kenapa kita batasi ada maksimumnya? Karena kalau tidak dibatasi, terus kemudian ada investor-investor besar yang mereka juga ingin membeli SBN Ritel ini, yang investor individu yang mungkin mau belajar, yang punyanya cuma Rp 1 juta jadi nggak kebagian. Makanya kita di sini ada maksimum pembelian," jelas Novi.



Novi juga menekankan bahwa setiap investasi yang masuk melalui ORI029 akan langsung dialokasikan untuk membiayai kebutuhan pembangunan nasional. Selain kemudahan akses melalui 28 mitra distribusi yang terdiri dari bank umum, perusahaan efek, hingga platform finansial digital, investor diajak untuk melihat aspek sosial dari instrumen ini sebagai bentuk partisipasi aktif sebagai warga negara.

"Jadi selain memperoleh keuntungan secara finansial atau pribadi, bisa juga mendukung APBN. Jadi secara sosial bisa didapatkan di sini. Artinya kalau beli SBN, turut membiayai APBN," tutur Novi.

Baca Juga: 8 Negara dengan Utang Tertinggi, Nomor 1 di Luar Perkiraan

Masyarakat yang ingin ikut serta menyukseskan target pembiayaan negara ini dapat memesan melalui saluran daring mitra distribusi resmi seperti terdiri dari 18 bank umum yakni BNI, BRI, Bank Mandiri, BTN, BCA, Bank Mega, Danamon, Permata Bank, HSBC, OCBC, CIMB Niaga, Panin Bank, SMBC, DBS, Bank Victoria, UOB, Standard Chartered, Maybank.

Kemudian 6 perusahaan efek terdiri dari Mandiri Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas, BNI Sekuritas, Trimegah Sekuritas, Panin Sekuritas, Philip Sekuritas Indonesia. Lalu 4 perusahaan efek khusus ada bibit, tanamduit, bareksa, serta FUNDtastic.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Purbaya Gelontorkan...
Purbaya Gelontorkan Rp11 Triliun Stabilkan Pasar SBN di Pasar Sekunder
Jangan Lewatkan Penawaran...
Jangan Lewatkan Penawaran Umum Obligasi dan Sukuk Ijarah Global Mediacom Tahap II Tahun 2026!
Menhan Ungkap Kemenkeu...
Menhan Ungkap Kemenkeu dan Bappenas Pangkas Anggaran Pertahanan Ratusan Triliun
Bukan Hanya Suami Dwi...
Bukan Hanya Suami Dwi Sasetyaningtyas, Kemenkeu Ungkap 44 Alumni LPDP Mangkir dari Pengabdian
Peringati Hari Pabean...
Peringati Hari Pabean Internasional 2026, Bea Cukai Komitmen Lindungi Masyarakat
Rekomendasi
Evaluasi 6 Bulan KUHP-KUHAP...
Evaluasi 6 Bulan KUHP-KUHAP Baru, Jaksa Agung Sebut Masih Ada Ketidakseragaman di Lapangan
KPK Kembali Periksa...
KPK Kembali Periksa Mantan Dirjen PHU Hilman Latief terkait Kasus Kuota Haji
Polemik Ijazah Jokowi,...
Polemik Ijazah Jokowi, Bonatua Silalahi Gugat KPU, Bawaslu, hingga Rektor UGM
Berita Terkini
Prabowo Prediksi Indonesia...
Prabowo Prediksi Indonesia Swasembada BBM 3 Tahun Lagi
Potongan Aplikasi Gojek...
Potongan Aplikasi Gojek Turun Jadi 8% Mulai 1 Juli 2026, Manajemen GOTO Angkat Suara
Biaya Medis Meningkat,...
Biaya Medis Meningkat, Allianz Ajak Pahami Pentingnya Perlindungan Kesehatan
Pascapengumuman MSCI,...
Pascapengumuman MSCI, IHSG Sesi Siang Ambruk 1,62% ke Level 6.002
Harga Emas Terjun Rp18...
Harga Emas Terjun Rp18 Ribu, Hari Ini 1 Gram Dijual Rp2.655.000 per Gram
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved