Rupiah Balik Pukul Dolar AS, Hari Ini Sentuh Rp16.782
Senin, 26 Januari 2026 - 16:19 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin (26/1/2026), naik 38 poin atau sekitar 0,23% ke level Rp16.782 per dolar AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada akhir perdagangan Senin (26/1/2026), naik 38 poin atau sekitar 0,23% ke level Rp16.782 per dolar AS. Perbaikan mata uang Garuda juga terlihat pada data JISDOR BI, dimana kurs rupiah hari ini bertengger di posisi Rp16.779/USD, atau lebih baik dari sesi sebelumnya Rp16.838/USD.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO terkait Greenland, yang telah mengguncang pasar global.
“Retorika Trump tentang kepentingan strategis AS di wilayah Arktik telah memperketat hubungan transatlantik, memicu kekhawatiran tentang dampak diplomatik dan ekonomi yang lebih luas,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Tensi Geopolitik Memanas, Dolar AS Kembali Jadi Primadona
Memperparah ketegangan geopolitik tersebut, Trump meningkatkan gesekan perdagangan dengan Kanada akhir pekan ini, berjanji untuk mengenakan tarif 100% pada barang-barang Kanada jika Ottawa melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan China.
Trump menulis di platform media sosialnya bahwa Kanada dapat digunakan sebagai "pelabuhan transit" untuk barang-barang China yang masuk ke Amerika Serikat dan memperingatkan bahwa Beijing akan "memakan Kanada hidup-hidup" jika kesepakatan tersebut berjalan.
Selain itu, ekspektasi seputar kebijakan moneter AS. Federal Reserve dijadwalkan untuk mengakhiri pertemuan kebijakannya pada hari Rabu, dan pasar secara luas mengantisipasi bahwa para pembuat kebijakan akan mempertahankan suku bunga tetap.
Meskipun jeda kenaikan suku bunga sebagian besar sudah diperhitungkan, investor akan mencermati pernyataan The Fed dan komentar Ketua Jerome Powell untuk mencari petunjuk tentang waktu dan laju potensi penurunan suku bunga di akhir tahun ini.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengaku telah menyelesaikan wawancara untuk Ketua Federal Reserve (Fed) berikutnya dan mengkonfirmasi dirinya sudah membuat pilihan. Trump juga menambahkan bahwa pengumuman resmi kemungkinan akan dilakukan sebelum akhir Januari.
Baca Juga: Rupiah Perkasa Jelang Akhir Pekan, Gilas Dolar AS Jadi Rp16.820
Pasar tetap waspada bahwa pilihan Presiden Trump untuk Ketua Fed berikutnya dapat mendorong bank sentral menuju jalur kebijakan yang lebih longgar, menyusul kritiknya yang berulang kali terhadap Ketua Fed saat ini, Jerome Powell, karena tidak memangkas suku bunga secara lebih agresif.
Dari sentimen domestik, pasar mendukung komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif, dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.
Bank Indonesia meyakini ke depan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat berkat dukungan imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi. Penguatan rupiah juga akan didukung cadangan devisa (cadev) yang dinilai lebih dari cukup untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar.
Selain itu, pasar merespons positif terhadap Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) sebagai Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) di Komisi XI DPR RI sore ini. Thomas dijadwalkan mengikuti fit and proper test pada pukul 16.00-17.00 WIB.
Sebelumnya, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengatakan proses pengisian jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang ditinggalkan Juda Agung berjalan sesuai mekanisme konstitusional dan ketentuan perundang-undangan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup mengust dalam rentang Rp16.750 - Rp16.900 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah ini salah satunya didorong sentimen eksternal yaitu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan sekutu NATO terkait Greenland, yang telah mengguncang pasar global.
“Retorika Trump tentang kepentingan strategis AS di wilayah Arktik telah memperketat hubungan transatlantik, memicu kekhawatiran tentang dampak diplomatik dan ekonomi yang lebih luas,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Baca Juga: Tensi Geopolitik Memanas, Dolar AS Kembali Jadi Primadona
Memperparah ketegangan geopolitik tersebut, Trump meningkatkan gesekan perdagangan dengan Kanada akhir pekan ini, berjanji untuk mengenakan tarif 100% pada barang-barang Kanada jika Ottawa melanjutkan kesepakatan perdagangan dengan China.
Trump menulis di platform media sosialnya bahwa Kanada dapat digunakan sebagai "pelabuhan transit" untuk barang-barang China yang masuk ke Amerika Serikat dan memperingatkan bahwa Beijing akan "memakan Kanada hidup-hidup" jika kesepakatan tersebut berjalan.
Selain itu, ekspektasi seputar kebijakan moneter AS. Federal Reserve dijadwalkan untuk mengakhiri pertemuan kebijakannya pada hari Rabu, dan pasar secara luas mengantisipasi bahwa para pembuat kebijakan akan mempertahankan suku bunga tetap.
Meskipun jeda kenaikan suku bunga sebagian besar sudah diperhitungkan, investor akan mencermati pernyataan The Fed dan komentar Ketua Jerome Powell untuk mencari petunjuk tentang waktu dan laju potensi penurunan suku bunga di akhir tahun ini.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengaku telah menyelesaikan wawancara untuk Ketua Federal Reserve (Fed) berikutnya dan mengkonfirmasi dirinya sudah membuat pilihan. Trump juga menambahkan bahwa pengumuman resmi kemungkinan akan dilakukan sebelum akhir Januari.
Baca Juga: Rupiah Perkasa Jelang Akhir Pekan, Gilas Dolar AS Jadi Rp16.820
Pasar tetap waspada bahwa pilihan Presiden Trump untuk Ketua Fed berikutnya dapat mendorong bank sentral menuju jalur kebijakan yang lebih longgar, menyusul kritiknya yang berulang kali terhadap Ketua Fed saat ini, Jerome Powell, karena tidak memangkas suku bunga secara lebih agresif.
Dari sentimen domestik, pasar mendukung komitmen Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah yang memberikan sentimen positif, dengan melakukan intervensi dalam jumlah besar melalui pasar offshore NDF, DNDF (domestic non-delivery forward), serta pasar spot.
Bank Indonesia meyakini ke depan akan tetap stabil dengan kecenderungan menguat berkat dukungan imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi. Penguatan rupiah juga akan didukung cadangan devisa (cadev) yang dinilai lebih dari cukup untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar.
Selain itu, pasar merespons positif terhadap Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) sebagai Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) di Komisi XI DPR RI sore ini. Thomas dijadwalkan mengikuti fit and proper test pada pukul 16.00-17.00 WIB.
Sebelumnya, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengatakan proses pengisian jabatan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang ditinggalkan Juda Agung berjalan sesuai mekanisme konstitusional dan ketentuan perundang-undangan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup mengust dalam rentang Rp16.750 - Rp16.900 per dolar AS.
(akr)
Lihat Juga :