Dominasi Dolar AS Tergerus, Arah Global Bergeser ke BRICS
Selasa, 27 Januari 2026 - 07:53 WIB
loading...
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan pidato di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, pada Selasa, 20 Januari 2026. FOTO/AP
A
A
A
DAVOS - Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney mengguncang Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 dengan pidato keras yang menyoroti percepatan kemunduran hegemoni dolar AS. Ia memperingatkan bahwa pengaruh blok BRICS yang menawarkan alternatif sistem keuangan global kian menguat, menandai pergeseran kekuatan ekonomi yang nyata.
Analisis Carney menyebut dunia tengah berada dalam fase "keretakan, bukan transisi". Serangkaian krisis global dua dekade terakhir, menurutnya, telah memicu redistribusi kekuatan ekonomi yang fundamental. Pernyataan ini memperkuat sinyal dari perkembangan konkret yang digalang BRICS.
"Kita berada di tengah sebuah keretakan, bukan transisi. Kekuatan-kekuatan besar kini menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata, bukan sebagai sarana manfaat bersama," tegas Carney dalam pidatonya di Davos, dikutip dari Watcher Guru, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: Lawan Proteksionisme AS, BRICS Galang Kekuatan Serukan Reformasi IMF-Bank Dunia
Peringatan tersebut beresonansi dengan langkah strategis BRICS yang kini dipimpin India. Bank Sentral India (RBI) secara resmi mengusulkan pembuatan jaringan mata uang digital bank sentral (CBDC) bersama untuk negara-negara anggota. Usulan yang dinilai transformatif ini rencananya akan dibahas dalam KTT BRICS 2026.
Wakil Gubernur RBI T Rabi Sankar menjelaskan keunggulan potensial inisiatif ini. "CBDC tidak menimbulkan banyak risiko yang melekat pada stablecoin. Selain potensi fasilitasi pembayaran ilegal, stablecoin menimbulkan kekhawatiran signifikan terhadap stabilitas moneter dan ketahanan sistemik," ujarnya.
Blok BRICS yang telah diperluas menjadi 10 negara mencakup 37% PDB global dan 46% populasi dunia telah meluncurkan BRICS Pay. Sistem pembayaran alternatif yang sedang dalam uji coba lanjutan ini diproyeksikan menjadi penantang serius bagi jaringan SWIFT yang selama ini didominasi Barat.
Meski mendapatkan ancaman tarif 100% dari Presiden AS Donald Trump, BRICS menyangkal ingin menggantikan dolar. Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menegaskan, "Dolar sebagai mata uang cadangan merupakan sumber stabilitas ekonomi global. Yang dibutuhkan dunia adalah lebih banyak stabilitas, bukan sebaliknya."
Carney mendesak negara-negara kekuatan menengah untuk mencari "jalur ketiga" yang mandiri, menolak ketergantungan pada hegemoni mana pun. Di bawah kepemimpinannya, Kanada telah menandatangani 12 kesepakatan strategis di empat benua dalam enam bulan, termasuk kemitraan dengan China dan Uni Eropa.
Baca Juga: Mampukah Iran Tenggelamkan Kapal Induk AS dengan Rudal Hipersonik Fattah-2? Ini Analisisnya
Strategi diversifikasi BRICS didukung oleh aksi nyata, termasuk peningkatan cadangan emas yang mendorong harga logam mulia melampaui USD4.600 per ons awal 2026. Langkah ini merefleksikan kekhawatiran terhadap "persenjataan" dolar AS dalam geopolitik.
Carney menutup pidatonya dengan pesan visioner sekaligus peringatan: "Tatanan lama tidak akan kembali. Nostalgia bukanlah strategi. Dari keretakan ini, kita dapat membangun sesuatu yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih adil." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa upaya dedolarisasi BRICS telah bergeser dari wacana menjadi realitas yang harus dihadapi dalam arsitektur keuangan global baru.
Analisis Carney menyebut dunia tengah berada dalam fase "keretakan, bukan transisi". Serangkaian krisis global dua dekade terakhir, menurutnya, telah memicu redistribusi kekuatan ekonomi yang fundamental. Pernyataan ini memperkuat sinyal dari perkembangan konkret yang digalang BRICS.
"Kita berada di tengah sebuah keretakan, bukan transisi. Kekuatan-kekuatan besar kini menggunakan integrasi ekonomi sebagai senjata, bukan sebagai sarana manfaat bersama," tegas Carney dalam pidatonya di Davos, dikutip dari Watcher Guru, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga: Lawan Proteksionisme AS, BRICS Galang Kekuatan Serukan Reformasi IMF-Bank Dunia
Peringatan tersebut beresonansi dengan langkah strategis BRICS yang kini dipimpin India. Bank Sentral India (RBI) secara resmi mengusulkan pembuatan jaringan mata uang digital bank sentral (CBDC) bersama untuk negara-negara anggota. Usulan yang dinilai transformatif ini rencananya akan dibahas dalam KTT BRICS 2026.
Wakil Gubernur RBI T Rabi Sankar menjelaskan keunggulan potensial inisiatif ini. "CBDC tidak menimbulkan banyak risiko yang melekat pada stablecoin. Selain potensi fasilitasi pembayaran ilegal, stablecoin menimbulkan kekhawatiran signifikan terhadap stabilitas moneter dan ketahanan sistemik," ujarnya.
Blok BRICS yang telah diperluas menjadi 10 negara mencakup 37% PDB global dan 46% populasi dunia telah meluncurkan BRICS Pay. Sistem pembayaran alternatif yang sedang dalam uji coba lanjutan ini diproyeksikan menjadi penantang serius bagi jaringan SWIFT yang selama ini didominasi Barat.
Meski mendapatkan ancaman tarif 100% dari Presiden AS Donald Trump, BRICS menyangkal ingin menggantikan dolar. Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar menegaskan, "Dolar sebagai mata uang cadangan merupakan sumber stabilitas ekonomi global. Yang dibutuhkan dunia adalah lebih banyak stabilitas, bukan sebaliknya."
Carney mendesak negara-negara kekuatan menengah untuk mencari "jalur ketiga" yang mandiri, menolak ketergantungan pada hegemoni mana pun. Di bawah kepemimpinannya, Kanada telah menandatangani 12 kesepakatan strategis di empat benua dalam enam bulan, termasuk kemitraan dengan China dan Uni Eropa.
Baca Juga: Mampukah Iran Tenggelamkan Kapal Induk AS dengan Rudal Hipersonik Fattah-2? Ini Analisisnya
Strategi diversifikasi BRICS didukung oleh aksi nyata, termasuk peningkatan cadangan emas yang mendorong harga logam mulia melampaui USD4.600 per ons awal 2026. Langkah ini merefleksikan kekhawatiran terhadap "persenjataan" dolar AS dalam geopolitik.
Carney menutup pidatonya dengan pesan visioner sekaligus peringatan: "Tatanan lama tidak akan kembali. Nostalgia bukanlah strategi. Dari keretakan ini, kita dapat membangun sesuatu yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih adil." Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa upaya dedolarisasi BRICS telah bergeser dari wacana menjadi realitas yang harus dihadapi dalam arsitektur keuangan global baru.
(nng)
Lihat Juga :