Dampak Ngeri Jika Bursa RI Turun Kasta, Dana Asing Terancam Keluar Rp838 Triliun
Kamis, 29 Januari 2026 - 14:03 WIB
loading...
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pasar modal Indonesia dihadapkan pada ancaman serius berupa potensi penurunan status dari emerging market menjadi frontier market. Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, memperingatkan hal tersebut berisiko memicu arus keluar dana asing (capital outflow) hingga USD50 miliar atau setara Rp838 triliun.
"Kalau untuk perubahan ke frontier market, kurang lebih USD25-50 billion outflow," ujar Pandu Sjahrir dalam acara Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026). Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menyesuaikan strategi investasi secara proporsional jika likuiditas pasar menurun akibat perubahan status tersebut.
Baca Juga: Baru 30 Menit Perdagangan, IHSG Anjlok 8% Kena Trading Halt
Peringatan ini muncul di tengah tekanan terhadap bursa Indonesia, setelah lembaga penyedia indeks global MSCI memberikan sinyal koreksi terkait persoalan transparansi kepemilikan saham. Pandu mengaku telah menyampaikan berbagai masukan langsung kepada MSCI, sambil menekankan bahwa umpan balik dari lembaga tersebut sudah sangat jelas kepada para pemangku kepentingan di Indonesia.
Menurut Pandu, dampak turunnya status tidak hanya pada besaran arus keluar modal, tetapi juga pada persepsi dan posisi Indonesia di mata investor global. "Saya membaca list frontier market, ada negara seperti Bangladesh, Pakistan, Senegal. Mungkin ini cita-cita dari regulasi saya tidak tahu, saya serahkan kepada regulator," ujarnya, menyoroti perbedaan kelas antara pasar berkembang (emerging) dan pasar frontier.
Secara prinsip, turunnya klasifikasi akan menempatkan Indonesia dalam kategori yang sama dengan beberapa negara dengan skala ekonomi dan kedalaman pasar yang lebih kecil. Hal ini berpotensi mengurangi aliran investasi portofolio jangka panjang dan meningkatkan biaya modal bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Baca Juga: IHSG Rontok 8%, Harga Emas Semakin Berkilau, Ada Apa?
Sebagai lembaga investasi, Pandu menegaskan fokus Danantara tetap pada pengembangan portofolio, termasuk di pasar modal. Namun, kedalaman pasar dan likuiditas menjadi faktor penentu utama. “Kami ingin capital market yang lebih dalam. Ini sudah kami sampaikan secara eksplisit,” tegasnya.
Ancaman ini menyoroti urgensi perbaikan regulasi dan tata kelola pasar modal Indonesia. Tanpa langkah korektif yang cepat dan tepat dari otoritas, potensi penurunan status bukan lagi wacana, melainkan risiko nyata yang dapat melemahkan stabilitas sistem keuangan dan menghambat pembiayaan pembangunan ekonomi nasional di masa depan.
"Kalau untuk perubahan ke frontier market, kurang lebih USD25-50 billion outflow," ujar Pandu Sjahrir dalam acara Prasasti Economic Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026). Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menyesuaikan strategi investasi secara proporsional jika likuiditas pasar menurun akibat perubahan status tersebut.
Baca Juga: Baru 30 Menit Perdagangan, IHSG Anjlok 8% Kena Trading Halt
Peringatan ini muncul di tengah tekanan terhadap bursa Indonesia, setelah lembaga penyedia indeks global MSCI memberikan sinyal koreksi terkait persoalan transparansi kepemilikan saham. Pandu mengaku telah menyampaikan berbagai masukan langsung kepada MSCI, sambil menekankan bahwa umpan balik dari lembaga tersebut sudah sangat jelas kepada para pemangku kepentingan di Indonesia.
Menurut Pandu, dampak turunnya status tidak hanya pada besaran arus keluar modal, tetapi juga pada persepsi dan posisi Indonesia di mata investor global. "Saya membaca list frontier market, ada negara seperti Bangladesh, Pakistan, Senegal. Mungkin ini cita-cita dari regulasi saya tidak tahu, saya serahkan kepada regulator," ujarnya, menyoroti perbedaan kelas antara pasar berkembang (emerging) dan pasar frontier.
Secara prinsip, turunnya klasifikasi akan menempatkan Indonesia dalam kategori yang sama dengan beberapa negara dengan skala ekonomi dan kedalaman pasar yang lebih kecil. Hal ini berpotensi mengurangi aliran investasi portofolio jangka panjang dan meningkatkan biaya modal bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia.
Baca Juga: IHSG Rontok 8%, Harga Emas Semakin Berkilau, Ada Apa?
Sebagai lembaga investasi, Pandu menegaskan fokus Danantara tetap pada pengembangan portofolio, termasuk di pasar modal. Namun, kedalaman pasar dan likuiditas menjadi faktor penentu utama. “Kami ingin capital market yang lebih dalam. Ini sudah kami sampaikan secara eksplisit,” tegasnya.
Ancaman ini menyoroti urgensi perbaikan regulasi dan tata kelola pasar modal Indonesia. Tanpa langkah korektif yang cepat dan tepat dari otoritas, potensi penurunan status bukan lagi wacana, melainkan risiko nyata yang dapat melemahkan stabilitas sistem keuangan dan menghambat pembiayaan pembangunan ekonomi nasional di masa depan.
(nng)
Lihat Juga :