Pertamina Berhasil Boyong 1 Juta Barel Minyak Mentah dari Aljazair
Minggu, 01 Februari 2026 - 16:36 WIB
loading...
MT Spyros yang membawa 1 juta barel minyak mentah terkoneksi dengan Single Point Mooring (SPM) Kilang Cilacap untuk persiapan bongkar muat. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Pertamina (Persero) merealisasikan pengiriman 1 juta barel minyak mentah dari Aljazair, Afrika Utara, ke Indonesia sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Pengiriman tersebut ditandai dengan bersandarnya kapal tanker MT Spyros di perairan selatan Cilacap, Jawa Tengah.
"Bersandarnya kapal yang telah mengarungi samudera sebulan lebih ini menjadi harapan untuk visi ketahanan energi nasional. Ini merupakan bukti nyata Pertamina dalam mewujudkan amanah Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto," ujar Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri dalam keterangan resmi, Minggu (1/2/2026).
Baca Juga: Pertama Kalinya, Pertamina Bawa Pulang 1 Juta Barel Minyak dari Aljazair
Minyak mentah tersebut berasal dari Wilayah Kerja Migas yang dikelola Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP), anak usaha Subholding Upstream Pertamina, yang beroperasi di Aljazair.
Pengapalan ini menjadi tonggak penting operasional Pertamina di Afrika Utara, sekaligus menandai keberlanjutan produksi setelah perpanjangan Kontrak Bagi Hasil Produksi Blok 405A yang menjamin kelangsungan operasi hingga 25 tahun ke depan.
Kapal MT Spyros menempuh pelayaran laut lebih dari satu bulan sejak berangkat pada 24 Desember 2025 sebelum tiba di Cilacap untuk proses pembongkaran muatan. Saat sandar, kapal terhubung langsung dengan Control Room Refinery Unit (RU) IV Cilacap guna memastikan proses penerimaan minyak mentah berjalan aman, terintegrasi, dan terkendali. Kegiatan penerimaan kargo perdana tersebut disaksikan secara terhubung dari tiga lokasi, yakni Grha Pertamina Jakarta, Control Room RU IV Cilacap, serta lokasi operasional Pertamina di Aljazair.
Baca Juga: Pertama Kali dalam 9 Tahun, Produksi Minyak Indonesia Naik di 2025
Simon menekankan keberhasilan pengapalan ini merupakan hasil sinergi lintas entitas di lingkungan Pertamina, mulai dari PT Pertamina Internasional EP sebagai produsen, Pertamina International Shipping sebagai pelaksana pengangkutan, hingga Kilang Pertamina Internasional sebagai pengelola pengolahan minyak mentah di dalam negeri.
"Sinergi ini telah mampu memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok energi global, membuktikan bahwa Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri," tambah Simon.
Sementara, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menyatakan keberhasilan pengiriman minyak mentah dari Aljazair ke Indonesia tidak terlepas dari kerja keras dan dedikasi seluruh Perwira Pertamina.
"Seluruh jajaran komisaris akan terus memberikan dukungan untuk mengawal proses di Pertamina hingga minyak mentah ini mampu menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat di seluruh Indonesia,” tegas Iriawan.
Ia menambahkan, langkah tersebut mencerminkan keseriusan Pertamina dalam menjaga pasokan energi nasional sekaligus mendorong produktivitas dengan tetap mengedepankan prinsip kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (HSSE).
Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina juga menegaskan komitmennya mendukung target Net Zero Emission 2060 serta mendorong program transisi energi yang sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
"Bersandarnya kapal yang telah mengarungi samudera sebulan lebih ini menjadi harapan untuk visi ketahanan energi nasional. Ini merupakan bukti nyata Pertamina dalam mewujudkan amanah Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto," ujar Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri dalam keterangan resmi, Minggu (1/2/2026).
Baca Juga: Pertama Kalinya, Pertamina Bawa Pulang 1 Juta Barel Minyak dari Aljazair
Minyak mentah tersebut berasal dari Wilayah Kerja Migas yang dikelola Pertamina Internasional Eksplorasi & Produksi (PIEP), anak usaha Subholding Upstream Pertamina, yang beroperasi di Aljazair.
Pengapalan ini menjadi tonggak penting operasional Pertamina di Afrika Utara, sekaligus menandai keberlanjutan produksi setelah perpanjangan Kontrak Bagi Hasil Produksi Blok 405A yang menjamin kelangsungan operasi hingga 25 tahun ke depan.
Kapal MT Spyros menempuh pelayaran laut lebih dari satu bulan sejak berangkat pada 24 Desember 2025 sebelum tiba di Cilacap untuk proses pembongkaran muatan. Saat sandar, kapal terhubung langsung dengan Control Room Refinery Unit (RU) IV Cilacap guna memastikan proses penerimaan minyak mentah berjalan aman, terintegrasi, dan terkendali. Kegiatan penerimaan kargo perdana tersebut disaksikan secara terhubung dari tiga lokasi, yakni Grha Pertamina Jakarta, Control Room RU IV Cilacap, serta lokasi operasional Pertamina di Aljazair.
Baca Juga: Pertama Kali dalam 9 Tahun, Produksi Minyak Indonesia Naik di 2025
Simon menekankan keberhasilan pengapalan ini merupakan hasil sinergi lintas entitas di lingkungan Pertamina, mulai dari PT Pertamina Internasional EP sebagai produsen, Pertamina International Shipping sebagai pelaksana pengangkutan, hingga Kilang Pertamina Internasional sebagai pengelola pengolahan minyak mentah di dalam negeri.
"Sinergi ini telah mampu memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok energi global, membuktikan bahwa Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri," tambah Simon.
Sementara, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menyatakan keberhasilan pengiriman minyak mentah dari Aljazair ke Indonesia tidak terlepas dari kerja keras dan dedikasi seluruh Perwira Pertamina.
"Seluruh jajaran komisaris akan terus memberikan dukungan untuk mengawal proses di Pertamina hingga minyak mentah ini mampu menjadi produk-produk yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat di seluruh Indonesia,” tegas Iriawan.
Ia menambahkan, langkah tersebut mencerminkan keseriusan Pertamina dalam menjaga pasokan energi nasional sekaligus mendorong produktivitas dengan tetap mengedepankan prinsip kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan (HSSE).
Sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina juga menegaskan komitmennya mendukung target Net Zero Emission 2060 serta mendorong program transisi energi yang sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
(nng)
Lihat Juga :