Danantara Bukan Tombol Ajaib, Mampukah Menahan Kejatuhan Pasar Modal?

Selasa, 03 Februari 2026 - 07:32 WIB
loading...
Danantara Bukan Tombol...
Nama Danantara muncul sebagai harapan baru, ketika Sovereign wealth fund Indonesia itu dianggap bisa masuk pasar, membeli saham, dan menahan kejatuhan IHSG. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Nama Danantara muncul sebagai harapan baru, ketika Sovereign wealth fund Indonesia itu dianggap bisa masuk pasar, membeli saham, dan menahan kejatuhan IHSG . Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat menerangkan, secara jangka pendek, hal itu memang terlihat menjanjikan.

Namun menurutnya pasar global tidak melihatnya sesederhana itu. Pertanyaan mereka bukan apakah Danantara punya uang, tetapi bagaimana Danantara dikelola. Apakah mandirinya jelas? apakah keputusannya profesional, apakah tidak ada tekanan politik.

Baca Juga: BEI dan MSCI Gelar Rapat Online Sore Ini, Danantara Ikut Nonton

"Jika pertanyaan ini belum terjawab, maka kehadiran Danantara justru berisiko dibaca sebagai campur tangan negara yang tidak transparan. Bagi investor global itu bukan penenang, melainkan lampu kuning tambahan," ungkap Achmad Nur Hidayat di Jakarta dalam keterangannya dikutip, Selasa (3/2/2026).



Sementara itu Ia menyoroti wacana penenangan pasar terkait rencana menaikkan porsi investasi saham dana pensiun dan asuransi dari sekitar 8% menjadi 20% yang menurutnya justru menjadi bagian paling sensitif. Terangnya, kebijakan itu terlihat logis di atas kertas.

Dimana dana besar masuk pasar, tekanan jual berkurang, dan pada akhirnya IHSG tertahan. Namun terang Achmad Nur Hidayat bahwa, logika pasar tidak boleh mengalahkan logika perlindungan publik. Baca Juga: Saham-saham Rontok Berjamaah, Danantara Sebut Koreksi Alam

"Dana pensiun dan asuransi bukan dana spekulatif. Itu adalah uang hari tua buruh, pegawai, dan masyarakat luas. Mendorong mereka masuk lebih dalam ke pasar saham yang sedang bergejolak sama dengan memindahkan risiko pasar ke tabungan masa depan rakyat," bebernya.

Ketika IHSG bisa turun lebih dari 5% hanya dalam setengah hari perdagangan, maka risiko itu nyata. Jika kerugian terjadi, siapa yang menanggung? "Bukan negara. Bukan pembuat kebijakan. Yang menanggung adalah peserta dana pensiun dan pemegang polis," ucapnya memberikan catatan.

Ekonom Achmad Nur Hidayat mengingatkan, potensi munculnya contagion. Dimana ketika masyarakat mulai khawatir nilai dana pensiun dan asuransinya tergerus, krisis kepercayaan bisa menjalar ke sektor lain. Alih alih menjadi penyangga, dana pensiun dan asuransi justru bisa menjadi korban berikutnya.

Mengapa Pasar Tetap Menjual

Pergerakan bursa saham Indonesia pada Senin pagi kemarin, dinilai menyampaikan pesannya dengan jujur. Penurunan IHSG ke sekitar 7.884 adalah bentuk ketidakpercayaan, bukan perlawanan.

"Investor masih menunggu bukti. Bukan janji reformasi, tetapi tindakan. Bukan wacana penegakan aturan, tetapi penegakan yang terlihat. Bukan rencana jangka panjang, tetapi langkah konkret yang bisa diverifikasi," ungkapnya menekankan.

Terang dia, pasar saham diyakini akan tetap berhati-hati, dan dalam bahasa pasar, kehati hatian sering berarti menjual. Di sisi lain tentang bagaimana respons pemerintah, baginya fase berikutnya menuntut keberanian lebih besar.

"Reformasi pasar modal harus benar benar menyentuh akar masalah, meski itu tidak populer dan menyentuh kepentingan besar. Ini cerita tentang kepercayaan. Negara sudah hadir, itu benar. Tetapi pasar menuntut lebih dari kehadiran. Pasar menuntut kepastian bahwa aturan adil, data bersih, dan risiko tidak dialihkan ke rakyat," jelasnya.

"Jika itu bisa dijawab, IHSG akan pulih dengan sendirinya. Jika tidak, setiap penenangan hanya akan menjadi jeda singkat sebelum penurunan berikutnya. Dan yang paling berbahaya, yang jatuh bukan hanya indeks, tetapi rasa aman masyarakat atas masa depan keuangan mereka," bebernya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
IHSG Sepekan Melonjak...
IHSG Sepekan Melonjak 2,82%, Kapitalisasi Pasar Bertambah Jadi Rp10.788 Triliun
BEI Tegaskan MSCI Belum...
BEI Tegaskan MSCI Belum Putuskan Status Pasar Saham RI
Airlangga Jadikan Catatan...
Airlangga Jadikan Catatan MSCI Sebagai Amunisi Tuntaskan Reformasi Pasar Modal
IHSG Berakhir Merayap...
IHSG Berakhir Merayap Naik ke 6.177 Diwarnai Lompatan 353 Saham
OJK Respons Penilaian...
OJK Respons Penilaian MSCI ke Pasar Modal Indonesia: Tahan Status Emerging Market dengan Catatan
Bursa Siang Ini Merah,...
Bursa Siang Ini Merah, Ditutup Melemah 0,73% ke 6.127
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
Rekomendasi
Garda Bangsa Dukung...
Garda Bangsa Dukung Penuh Program Pemerintahan Prabowo
Hasil Turki vs Paraguay...
Hasil Turki vs Paraguay 0-1: Gol 65 Detik Galarza Kubur Mimpi Ay-Yildizlilar ke 32 Besar
Brasil Rajai Daftar...
Brasil Rajai Daftar Gol Terbanyak Sepanjang Sejarah Piala Dunia
Berita Terkini
Dorong Bioenergi, PLN...
Dorong Bioenergi, PLN EPI Siap Serap 10 Juta Ton Biomassa di 2030
IHSG Sepekan Melonjak...
IHSG Sepekan Melonjak 2,82%, Kapitalisasi Pasar Bertambah Jadi Rp10.788 Triliun
Indo Build Tech 2026,...
Indo Build Tech 2026, AMBPI Bawa Sejumlah Inovasi Baru
Bidik Pasar Indonesia...
Bidik Pasar Indonesia Timur, Jafran Indonesia Kenalkan JR 737 di PENAS XVII
Pelemahan Emas Antam...
Pelemahan Emas Antam Berlanjut ke Rp2.6 Juta per Gram, Ini Daftar Lengkapnya
Grab For Business Luncurkan...
Grab For Business Luncurkan Corporate Dine Out, Jamuan Makan Kantor Bebas Reimburse
Infografis
Pasar di Jakarta Hasilkan...
Pasar di Jakarta Hasilkan 500 Ton Sampah Per Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved