Program Biodiesel Industri Sawit Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Jum'at, 06 Februari 2026 - 17:51 WIB
loading...
Workshop Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, Kamis (6/2/2026). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Program biodiesel berbasis kelapa sawit terus menunjukkan kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menghemat devisa negara hingga ratusan triliun rupiah. Melalui kebijakan mandatori yang konsisten, program ini terbukti efektif menekan ketergantungan pada impor solar serta menurunkan emisi karbon secara signifikan selama satu dekade terakhir.
"Biodiesel berperan strategis dalam swasembada energi. Sawit dan turunannya menjadi sumber energi terbarukan sekaligus mendukung ketahanan pangan," ujar Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Fadhil Hasan dalam Workshop Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, seperti dikutip, Jumat (6/2/2026).
Fadhil menjelaskan bahwa biodiesel kini menjadi pilar utama dalam Kebijakan Energi Nasional terbaru melalui PP No. 40 Tahun 2025. Regulasi tersebut dirancang untuk menjawab tantangan penurunan produksi minyak mentah nasional di tengah target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Apresiasi Inovasi Produk Turunan Kelapa Sawit dari UMKM
Sepanjang periode 2015–2025, program ini tercatat telah menghemat devisa negara sebesar Rp720 triliun dan mengurangi emisi hingga 228 juta ton CO2. Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan bauran biodiesel pada level B40 sepanjang tahun 2026 guna memastikan kesiapan pasokan bahan baku dan penyelesaian uji teknis.
Langkah ini merupakan bagian dari transisi energi bertahap sebelum melangkah ke implementasi B50, sehingga stabilitas industri dan suplai dalam negeri tetap terjaga.
Berdasarkan data Direktorat Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, kapasitas terpasang industri biodiesel tahun ini mencapai 22 juta kiloliter dengan alokasi penyaluran sebesar 16,5 juta kiloliter. Pada 2025, realisasi penyaluran telah mencapai hampir 15 juta kiloliter atau menyentuh angka 96 persen dari target yang ditetapkan pemerintah.
Sekretaris Jenderal APROBI, Ernest Gunawan, menyatakan keberhasilan ini menempatkan Indonesia sebagai pemimpin implementasi biodiesel di tingkat global. Program B40 sendiri telah menyerap sekitar 1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir serta memberikan penghematan devisa tambahan sekitar Rp140 triliun pada tahun lalu.
Baca Juga: Ekspor Sawit Desember 2025 Melonjak 102,23%, Total Nilainya Tembus USD24,42 Miliar
Dari sisi produsen, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) berkomitmen meningkatkan produktivitas melalui program peremajaan sawit rakyat (replanting) dan inovasi riset. Hal ini dilakukan untuk menjamin ketersediaan bahan baku di tengah rencana peningkatan bauran energi di masa depan.
Keberlanjutan ekosistem sawit ini turut didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang mengelola dana pungutan ekspor untuk insentif, riset, hingga beasiswa. Hingga akhir 2025, BPDP telah menyalurkan dukungan insentif untuk sektor PSO mencapai 6,9 juta kiloliter dengan nilai sekitar Rp35,5 triliun demi menjaga kelangsungan program biodiesel nasional.
"Biodiesel berperan strategis dalam swasembada energi. Sawit dan turunannya menjadi sumber energi terbarukan sekaligus mendukung ketahanan pangan," ujar Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Dr. Fadhil Hasan dalam Workshop Program Biodiesel Sawit 2026 di Depok, Jawa Barat, seperti dikutip, Jumat (6/2/2026).
Fadhil menjelaskan bahwa biodiesel kini menjadi pilar utama dalam Kebijakan Energi Nasional terbaru melalui PP No. 40 Tahun 2025. Regulasi tersebut dirancang untuk menjawab tantangan penurunan produksi minyak mentah nasional di tengah target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Apresiasi Inovasi Produk Turunan Kelapa Sawit dari UMKM
Sepanjang periode 2015–2025, program ini tercatat telah menghemat devisa negara sebesar Rp720 triliun dan mengurangi emisi hingga 228 juta ton CO2. Pemerintah memutuskan untuk mempertahankan bauran biodiesel pada level B40 sepanjang tahun 2026 guna memastikan kesiapan pasokan bahan baku dan penyelesaian uji teknis.
Langkah ini merupakan bagian dari transisi energi bertahap sebelum melangkah ke implementasi B50, sehingga stabilitas industri dan suplai dalam negeri tetap terjaga.
Berdasarkan data Direktorat Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, kapasitas terpasang industri biodiesel tahun ini mencapai 22 juta kiloliter dengan alokasi penyaluran sebesar 16,5 juta kiloliter. Pada 2025, realisasi penyaluran telah mencapai hampir 15 juta kiloliter atau menyentuh angka 96 persen dari target yang ditetapkan pemerintah.
Sekretaris Jenderal APROBI, Ernest Gunawan, menyatakan keberhasilan ini menempatkan Indonesia sebagai pemimpin implementasi biodiesel di tingkat global. Program B40 sendiri telah menyerap sekitar 1,9 juta tenaga kerja dari hulu hingga hilir serta memberikan penghematan devisa tambahan sekitar Rp140 triliun pada tahun lalu.
Baca Juga: Ekspor Sawit Desember 2025 Melonjak 102,23%, Total Nilainya Tembus USD24,42 Miliar
Dari sisi produsen, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) berkomitmen meningkatkan produktivitas melalui program peremajaan sawit rakyat (replanting) dan inovasi riset. Hal ini dilakukan untuk menjamin ketersediaan bahan baku di tengah rencana peningkatan bauran energi di masa depan.
Keberlanjutan ekosistem sawit ini turut didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang mengelola dana pungutan ekspor untuk insentif, riset, hingga beasiswa. Hingga akhir 2025, BPDP telah menyalurkan dukungan insentif untuk sektor PSO mencapai 6,9 juta kiloliter dengan nilai sekitar Rp35,5 triliun demi menjaga kelangsungan program biodiesel nasional.
(nng)
Lihat Juga :